Menu

Mode Gelap

Nasional · 29 Agu 2025 00:47 WITA

Menag Nasaruddin Umar: Tafsir Agama Harus Jadi Perekat Bangsa, Bukan Pemisah


 Menag Nasaruddin Umar: Tafsir Agama Harus Jadi Perekat Bangsa, Bukan Pemisah Perbesar

SOALINDONESIA–YOGYAKARTA Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya menafsirkan ajaran agama dengan berpijak pada budaya dan realitas sosial masyarakat Indonesia yang majemuk. Menurutnya, tafsir agama harus hadir sebagai sumber kedamaian dan perekat bangsa, bukan sebagai pemisah antarumat.

Pesan tersebut disampaikan Menag saat memberikan sambutan dalam Konferensi Mufassir Muhammadiyah (KMM) ke-3 yang digelar Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah di Yogyakarta, Kamis (28/8/2025). Dalam kesempatan itu, Menag membawakan materi tentang “Metodologi Tafsir Al-Qur’an Transformatif”.

“Sejauh ini, kita sering melihat agama diajarkan sebagai batas pembeda antar manusia, sehingga berpotensi memisahkan. Padahal, agama harus kita pahami sebagai perekat bangsa, bukan sumber perbedaan yang menimbulkan sekat,” tegas Menag.

READ  Survei ISC: Tito Karnavian Jadi Menteri Berprestasi dengan Skor 70 %

Tafsir Berorientasi Persatuan

Nasaruddin menekankan bahwa Indonesia adalah bangsa plural dengan keragaman suku, budaya, dan agama. Karena itu, tafsir agama sebaiknya berorientasi sentripetal (menyatukan), bukan sentrifugal (memecah belah).

Ia juga menyinggung pentingnya memahami keterikatan manusia dengan dua hukum sekaligus, yakni hukum takwini (hukum alam) dan hukum tasyri’i (syariat agama). Keduanya, kata dia, dalam praktik sering terlihat berbeda, bahkan bertentangan, namun harus dipahami secara bijak demi kemaslahatan umat.

“Ada kalanya hukum alam perlu didahulukan, ada kalanya syariat yang utama. Kuncinya adalah melihat maslahat umat,” ujarnya.

READ  Pesisir Pantura Tangerang Diduga Tercemar Limbah Minyak, DLH Turun Tangan Investigasi

Pentingnya Ushul Fiqh

Dalam ceramahnya, Menag mengingatkan para dai dan pendakwah agar tidak hanya berhenti pada pemahaman fiqh, tetapi juga mendalami ushul fiqh. Ia mengibaratkan mempelajari fiqh tanpa ushul fiqh seperti memanjat pohon hanya berpegang pada ranting tanpa memegang batangnya.

“Tentu sangat rentan jatuh, karena tidak memiliki pegangan yang kuat,” tambahnya.

Segitiga Beragama

Lebih lanjut, Menag menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dalam apa yang ia sebut sebagai “segitiga beragama”, yang terdiri dari teologi, ethos, dan logos. Teologi menjadi fondasi keyakinan, ethos menjiwai perilaku keberagamaan sehari-hari, sementara logos memberi kerangka rasional serta argumentasi ilmiah.

READ  Menteri Lingkungan Hidup Akui Kantor KLH di Bantaran Sungai Cipinang Langgar Aturan: “Kami Minta Maaf”

“Jika ketiganya berjalan seimbang, maka agama tidak hanya menjadi pedoman ibadah, tetapi juga sumber nilai yang menyatukan bangsa, menebarkan kasih, dan menguatkan peradaban,” pungkasnya.

Konferensi ini juga menghadirkan sejumlah tokoh nasional, termasuk Din Syamsuddin, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, serta dihadiri para mufassir dan akademisi lintas kalangan.

Artikel ini telah dibaca 16 kali

Baca Lainnya

Kementerian UMKM Gandeng Aprindo, Perluas Akses Produk UMKM ke Ritel Modern

18 Juli 2026 - 00:43 WITA

Indonesia Dorong D-8 Perjuangkan Kepentingan Negara Berkembang di COP31

17 Juli 2026 - 22:24 WITA

Wamensos Sampaikan Pesan Prabowo kepada Siswa Sekolah Rakyat Semarang: Percaya Diri, Pintar, dan Berkarakter

17 Juli 2026 - 22:17 WITA

Kemenag Catat 725 Ribu Titik Ikut Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat 2026

17 Juli 2026 - 21:58 WITA

Prabowo: Ekonomi Indonesia Tetap Kuat di Tengah Gejolak Global, Impor Solar Resmi Dihentikan

17 Juli 2026 - 21:51 WITA

Prabowo: Indonesia Segera Miliki Motor Listrik Nasional, Siap Diluncurkan dalam Beberapa Pekan

17 Juli 2026 - 21:08 WITA

Trending di Nasional