SOALINDONESIA—TOLIKARA—Di tengah bentang pegunungan Papua yang tenang dan sederhana, sering kali lahir gagasan-gagasan kecil dari tangan masyarakat yang menyimpan harapan besar bagi masa depan daerah. Kreativitas masyarakat lokal, meski kerap lahir dari keterbatasan, sesungguhnya merupakan kekuatan yang mampu menggerakkan roda ekonomi jika mendapat perhatian dan dukungan yang tepat.
Hal inilah yang selalu menjadi perhatian Bupati Tolikara, Willem Wandik. Bagi mantan legislator DPR RI tersebut, pembangunan daerah tidak hanya diukur dari proyek-proyek besar atau infrastruktur megah, tetapi juga dari seberapa besar pemerintah mampu menangkap dan merawat potensi yang tumbuh dari masyarakatnya sendiri.
Salah satu contoh nyata datang dari seorang warga Tolikara bernama Danius Yikwa. Dengan keterampilan yang dimilikinya, Danius mampu membangun tenggap, yakni tempat peramasan sekaligus produksi buah merah, salah satu komoditas khas Papua yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta dikenal memiliki banyak manfaat kesehatan.
Di mata banyak orang, mungkin hal tersebut terlihat sederhana. Namun bagi Bupati Willem Wandik, inisiatif seperti ini justru merupakan benih penting bagi lahirnya kemandirian ekonomi masyarakat.
“Sebagai kepala daerah, saya berharap warga Tolikara yang memiliki skill dan kemampuan seperti ini perlu mendapat peningkatan dan dukungan. Pemerintah daerah harus hadir untuk membantu pengembangan, peningkatan kapasitas, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat,” ujar Willem Wandik.

Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah akan mendorong agar kreativitas masyarakat seperti yang dilakukan Danius Yikwa dapat dikembangkan melalui wadah koperasi desa Merah Putih, sehingga pengelolaan potensi lokal tidak hanya berjalan secara individu, tetapi juga mampu menjadi kekuatan ekonomi bersama.
Bagi Wandik, kreativitas masyarakat adalah modal sosial yang sangat berharga. Jika dikelola dengan baik, potensi lokal seperti pengolahan buah merah dapat membuka lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus memperkuat ekonomi kampung.
Kepedulian terhadap hal-hal kecil seperti ini memang menjadi ciri kepemimpinan Willem Wandik. Ia dikenal sebagai pemimpin yang tidak berjarak dengan masyarakat, selalu hadir di tengah warga, serta peka terhadap setiap potensi yang muncul dari akar rumput.
Sebagai mantan anggota DPR RI yang telah lama berkiprah di panggung nasional, Wandik memahami bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil. Karena itu, ia berupaya mengubah stigma lama bahwa masyarakat di daerah pegunungan Papua hanya bergantung pada bantuan pemerintah.
Sebaliknya, ia ingin menumbuhkan semangat baru bahwa masyarakat Tolikara memiliki kemampuan, kreativitas, dan daya juang untuk berkembang jika diberi ruang dan dukungan.
“Yang kita dorong adalah bagaimana masyarakat bisa berdiri di atas kemampuan sendiri. Pemerintah hadir untuk memberi jalan, memberi dukungan, dan membuka peluang,” jelasnya.
Semangat inilah yang menurutnya menjadi bagian dari langkah panjang menuju Generasi Emas Papua. Sebuah generasi yang tidak hanya kuat secara identitas budaya, tetapi juga mandiri secara ekonomi, terampil dalam mengelola potensi daerah, serta mampu bersaing di masa depan.
Di Tolikara, perubahan itu mungkin tidak selalu dimulai dari program besar. Kadang ia lahir dari sebuah tenggap sederhana tempat pengolahan buah merah, dari tangan masyarakat yang bekerja dengan tekun, dan dari seorang pemimpin yang percaya bahwa masa depan daerah dibangun dari potensi rakyatnya sendiri.











