SOALINDONESIA—TOLIKARA—Di pagi yang dingin di Lembah Toli, kabut masih menggantung di antara punggung-punggung gunung. Asap tipis keluar dari honai, tanda kehidupan sedang dimulai—mama-mama menyiapkan batatas, anak-anak berlarian dengan kaki telanjang, dan para bapak bersiap ke kebun.
Di tempat seperti inilah saya selalu percaya—Tuhan tidak jauh.
Kita sering membaca Alkitab, mendengar kisah-kisah besar dari tanah yang jauh: Galilea, Yerusalem, padang gurun. Tapi hari ini, mari kita bawa satu cerita itu turun… dekat… ke tanah yang kita pijak sendiri—ke distrik Wina, ke kampung-kampung di lembah ini.
Ketika Yesus Datang ke Wina
Bayangkan suatu hari, Yesus berjalan masuk ke wilayah Distrik Wina. Bukan dengan kemegahan, tapi dengan langkah sederhana, menyusuri jalan setapak yang biasa kita lewati.
Kabar tentang Dia cepat sekali tersebar. Dari Goyage, Bokoneri, Yuko—orang-orang datang berjalan kaki. Mereka tidak pakai sepatu mahal. Mereka pakai sandal sederhana, bahkan banyak yang tanpa alas kaki. Ada mama yang gendong anak di punggung dengan noken. Ada bapak yang bawa ubi dari kebun. Mereka datang bukan karena ada undangan resmi… tapi karena hati mereka rindu mendengar Firman.
Hari itu, Yesus mengajar.
Dia tidak bicara dari gedung megah, tapi dari alam terbuka. Gunung jadi saksi, angin jadi musik latar, dan tanah Papua jadi tempat Firman itu hidup.
Ketika Lapar Menjadi Kenyataan
Sore mulai turun. Matahari perlahan tenggelam di balik pegunungan. Orang-orang masih bertahan. Tapi satu hal mulai terasa—lapar.
Para murid mulai gelisah.
“Guru,” kata mereka, “ini bukan Karubaga. Tidak ada pasar di sini. Suruh mereka pulang saja ke honai masing-masing.”
Logika manusia memang begitu—kalau tidak ada, ya tidak ada.
Tapi Yesus melihat dengan cara yang berbeda.
Dia melihat bukan hanya perut kosong… tapi hati yang haus.
Dan Dia berkata sederhana:
“Kamu saja yang kasih mereka makan.”
Mujizat di Tengah Keterbatasan
Ada seorang anak kecil. Dia tidak punya banyak. Hanya lima batatas bakar dan dua kus kus dari nokennya.
Kalau dipikir dengan akal sehat—itu tidak cukup. Bahkan untuk satu keluarga pun mungkin kurang.
Tapi di tangan Tuhan, yang kecil tidak pernah kecil.
Yesus mengangkat makanan itu. Dia mengucap syukur. Di tengah keterbatasan, Dia tidak mengeluh—Dia bersyukur.
Dan di situlah mujizat dimulai.
Batatas itu tidak habis. Kus kus itu terus cukup. Murid-murid membagikan, dari satu kelompok ke kelompok lain, seperti saat kita bagi daging dalam bakar batu.
Semua makan.
Bukan sekadar cukup… tapi kenyang.
Dan yang lebih menggetarkan—masih ada sisa. Dua belas noken penuh.
Pesan dari Lembah Ini
Sebagai seorang anak Papua, dan hari ini dipercaya memimpin di Kabupaten Tolikara, saya melihat kisah ini bukan sekadar cerita lama.
Ini adalah cermin hidup kita hari ini.
Di tanah yang sering disebut “3T”—tertinggal, terdepan, terluar—Tuhan justru menunjukkan kuasa-Nya.
Bahwa:
- Tuhan tidak menunggu kita di kota besar.
Dia hadir di honai kecil, di kebun sederhana, di jalan setapak yang kita lalui setiap hari. - Apa yang kita punya, sekecil apa pun, cukup di tangan Tuhan.
Lima batatas bisa jadi berkat besar. Seperti juga satu sekolah kecil bisa melahirkan generasi hebat. - Pembangunan tidak hanya soal jalan dan gedung.
Tapi juga tentang hati, iman, dan pengharapan. Yesus mengajar dulu, baru memberi makan. Roh dan jasmani berjalan bersama.
Refleksi untuk Kita Hari Ini
Sering kali kita merasa jauh. Jauh dari pusat, jauh dari perhatian, jauh dari harapan.
Tapi mungkin justru di tempat seperti inilah Tuhan paling suka bekerja.
Di tempat yang dianggap “tidak ada apa-apa,” Tuhan menunjukkan bahwa Dia adalah segalanya.
Hari ini, kalau kita berada di lembah, di gunung, di honai paling ujung—jangan pernah merasa sendiri.
Karena Tuhan yang sama yang memberi makan lima ribu orang…
masih berjalan di tanah Papua.
Masih melihat.
Masih peduli.
Masih membuat mujizat.











