SOALINDONESIA—TOLIKARA — Di tengah padatnya agenda pemerintahan dan tanggung jawab sebagai kepala daerah, Bupati Tolikara Willem Wandik tetap memegang satu prinsip yang tak pernah berubah: kedekatan dengan rakyat adalah inti dari kepemimpinan.
Bagi Willem Wandik, jabatan bukan alasan untuk menjauh dari masyarakat. Meski kerap harus meninggalkan Tolikara untuk urusan pemerintahan di tingkat provinsi maupun pusat, ia mengaku selalu merasa paling nyaman ketika berada di tengah-tengah warganya sendiri.
“Saya nyaman jika dekat dengan masyarakat saya. Di situlah saya bisa mendengar langsung apa yang mereka rasakan, apa yang mereka butuhkan, dan apa yang harus segera dikerjakan pemerintah,” ujar Willem Wandik dalam sebuah kesempatan di sela agenda dinasnya.
Prinsip itu sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya kehadiran pemimpin di tengah rakyat, sekaligus amanat undang-undang yang mengharuskan kepala daerah memastikan pelayanan pemerintahan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Pemimpin yang Tidak Bersembunyi di Balik Meja
Di Tolikara, masyarakat mengenal Willem Wandik bukan sebagai sosok bupati yang bekerja dari balik meja. Ia justru lebih sering terlihat berada di lapangan—menyusuri distrik-distrik terpencil, berdialog dengan warga, melihat langsung kondisi fasilitas umum, hingga mendengar keluhan masyarakat tanpa sekat protokoler.
Rutinitasnya pun mencerminkan gaya kepemimpinan yang aktif. Dari Senin hingga Kamis, hampir seluruh waktunya dipenuhi agenda dinas keliling ke berbagai wilayah Tolikara. Tidak hanya berpusat di Karubaga sebagai ibu kota kabupaten, tetapi juga menjangkau kampung-kampung terpencil yang sulit diakses.
Bagi Willem, pemerataan pelayanan tidak boleh berhenti di pusat kota. Pemerintah, menurutnya, harus hadir sampai ke wilayah yang paling jauh sekalipun.
“Kalau hanya menunggu laporan di kantor, kita tidak akan pernah tahu kondisi riil masyarakat. Pemimpin harus datang melihat sendiri,” katanya.
Akhir Pekan Pun Tetap untuk Rakyat
Bahkan saat akhir pekan, waktu Willem Wandik tetap tidak sepenuhnya lepas dari urusan masyarakat. Hari-hari yang bagi sebagian orang menjadi waktu beristirahat, justru sering ia gunakan untuk agenda informal yang tetap berkaitan dengan pelayanan publik—mengunjungi tokoh masyarakat, bertemu kepala distrik, atau meninjau lokasi yang membutuhkan perhatian cepat.
Kedekatan itu bukan sesuatu yang baru baginya. Pengalaman panjang semasa menjadi anggota DPR RI telah membentuk kebiasaan turun langsung ke lapangan. Saat menjadi legislator, ia dikenal aktif menyerap aspirasi masyarakat dari kampung ke kampung—tradisi yang kini tetap ia bawa sebagai kepala daerah.
Menjadi Teladan bagi ASN
Kehadiran langsung di lapangan juga menjadi pesan moral bagi aparatur sipil negara di lingkungan Pemda Tolikara. Willem ingin memberi contoh bahwa disiplin, kerja nyata, dan keberanian turun ke masyarakat adalah standar yang harus dimiliki seluruh pimpinan OPD.
Ia percaya, birokrasi yang efektif lahir dari aparatur yang memahami kondisi nyata masyarakat, bukan hanya dari laporan administratif.
Di mata banyak warga Tolikara, gaya kepemimpinan Willem Wandik menghadirkan rasa dekat yang jarang ditemukan. Ia tidak sekadar datang saat seremoni, tetapi hadir ketika masyarakat membutuhkan jawaban.
Di lembah Nawi Arigi, kepemimpinan Willem Wandik tumbuh bukan dari jarak kekuasaan, melainkan dari langkah kaki yang terus mendekat kepada rakyatnya.











