Menu

Mode Gelap

Nasional · 19 Sep 2025 18:53 WITA

Istana Respons Putusan MK Larangan Wamen Rangkap Jabatan, Singgung Pembenahan Danantara


 Istana Respons Putusan MK Larangan Wamen Rangkap Jabatan, Singgung Pembenahan Danantara Perbesar

SOALINDONESIA–JAKARTA Istana akhirnya angkat bicara terkait putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang melarang Wakil Menteri (Wamen) merangkap jabatan di BUMN maupun organisasi yang dibiayai APBN/APBD.

Putusan tersebut tertuang dalam Putusan Nomor 128/PUU-XXIII/2025 yang dibacakan Hakim Konstitusi Enny Nurbaningsih di Ruang Sidang Pleno MK, Jakarta, Kamis (28/8).

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan, pemerintah akan mematuhi putusan tersebut sesuai tenggat waktu yang diberikan MK. Menurutnya, langkah percepatan pembenahan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) juga menjadi bagian dari tindak lanjut atas putusan itu.

“Dan sebagaimana yang sudah saya sampaikan di beberapa kesempatan, bahwa itu sedang dilakukan proses pembenahan di Danantara, termasuk salah satunya adalah dalam rangka menindaklanjuti apa yang menjadi putusan Mahkamah Konstitusi,” kata Prasetyo di Istana Negara, Jakarta, Jumat (19/9).

READ  Menag Nasaruddin Umar Apresiasi Romo Muhammad Syafi’i, Ungkap Kabar Baik Soal Pembentukan Ditjen Pesantren

Putusan MK

Dalam amar putusannya, MK menegaskan wakil menteri tidak boleh merangkap jabatan, baik sebagai pejabat negara lainnya, komisaris atau direksi perusahaan negara maupun swasta, hingga pimpinan organisasi yang dibiayai APBN/APBD.

“Larangan rangkap jabatan bagi wakil menteri didasarkan pada pertimbangan bahwa sebagai pejabat negara, wakil menteri harus fokus pada beban kerja yang memerlukan penanganan secara khusus di kementerian,” ujar Enny saat membacakan putusan.

MK juga secara eksplisit memasukkan frasa wakil menteri dalam Pasal 23 UU Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara. Sebelumnya, norma tersebut hanya berlaku untuk menteri.

READ  KPK Tahan Mantan Dirut PT PGN HPS dalam Kasus Korupsi Jual-Beli Gas Senilai USD 15 Juta

Enny menambahkan, larangan ini sejalan dengan putusan MK Nomor 80/PUU-XVII/2019 yang sebenarnya sudah menegaskan hal serupa. Namun, setelah putusan itu diucapkan pada Agustus 2020, praktik rangkap jabatan wamen masih terjadi, termasuk menjadi komisaris di perusahaan BUMN.

“Oleh karena itu, penting bagi Mahkamah menegaskan dalam amar putusan a quo mengenai larangan rangkap jabatan bagi wakil menteri termasuk sebagai komisaris, sebagaimana halnya menteri agar fokus pada penanganan urusan kementerian,” tegas Enny.

Tenggat Waktu 2 Tahun

MK memberi waktu dua tahun kepada pemerintah untuk menyesuaikan diri dengan putusan ini. Artinya, seluruh wamen yang masih merangkap jabatan di BUMN atau lembaga terkait wajib melepas posisinya sebelum batas waktu tersebut berakhir.

READ  Presiden Prabowo Jajal KRL dari Manggarai ke Tanah Abang, Resmikan Stasiun Tanah Abang Baru yang Modern dan Terintegrasi

Istana menegaskan komitmen untuk mengikuti putusan MK secara penuh. “Pemerintah menghormati dan akan melaksanakan sesuai kerangka waktu yang ditentukan oleh Mahkamah Konstitusi,” ujar Prasetyo.

Artikel ini telah dibaca 13 kali

Baca Lainnya

Menaker Yassierli Tekankan Pentingnya K3 untuk Lingkungan Kerja Aman dan Produktif

9 Januari 2026 - 23:24 WITA

Menkum Supratman Minta Publik Cermati KUHP dan KUHAP Baru Terkait Pelaporan Pandji Pragiwaksono

9 Januari 2026 - 23:15 WITA

Kemensos Mulai Seleksi Siswa Baru Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026/2027, Pembangunan Gedung Permanen Dimulai

9 Januari 2026 - 23:07 WITA

Menag Nasaruddin Umar Tegaskan Peran Kemenag Jaga Persatuan Bangsa di Rakerwil Sultra 2026

9 Januari 2026 - 23:00 WITA

Tak Hanya Gus Yaqut, Mantan Stafsus Menteri Agama Ikut Ditahan KPK

9 Januari 2026 - 17:26 WITA

KPK Tetapkan Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji

9 Januari 2026 - 17:17 WITA

Trending di Nasional