Menu

Mode Gelap

Nasional · 16 Okt 2025 16:50 WITA

MK Kabulkan Sebagian Gugatan Perludem dan ICW: Pemerintah Wajib Bentuk Lembaga Independen Pengawas ASN dalam Dua Tahun


 MK Kabulkan Sebagian Gugatan Perludem dan ICW: Pemerintah Wajib Bentuk Lembaga Independen Pengawas ASN dalam Dua Tahun Perbesar

SOALINDONESIA–JAKARTA Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan sebagian gugatan yang diajukan oleh Perkumpulan Pemilu untuk Demokrasi (Perludem), Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD), dan Indonesia Corruption Watch (ICW) terkait penghapusan Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara (UU ASN).

Dalam amar putusannya, MK menegaskan bahwa harus dibentuk lembaga independen baru untuk mengawasi penerapan sistem merit dan kode etik ASN sebagai konsekuensi dari dihapusnya KASN dalam UU ASN.

“Mengabulkan permohonan para Pemohon untuk sebagian,” kata Ketua MK Suhartoyo saat membacakan putusan di ruang sidang pleno MK, Jakarta, Kamis (16/10).

MK Ubah Pasal 26 Ayat (2) Huruf d UU ASN

Dalam putusan tersebut, MK mengubah bunyi Pasal 26 ayat (2) huruf d UU ASN.

READ  Polri Hormati Putusan MK Wajibkan Polisi Aktif Mundur dari Jabatan Sipil, Tunggu Salinan Resmi untuk Dikaji

Sebelumnya, pasal itu berbunyi:

“Untuk menyelenggarakan kekuasaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Presiden mendelegasikan sebagian kewenangannya kepada kementerian dan/atau lembaga yang melaksanakan tugas dan fungsi di bidang: … d. pengawasan penerapan Sistem Merit.”

Namun, setelah diubah melalui putusan MK, bunyinya menjadi:

“Penerapan pengawasan Sistem Merit, termasuk pengawasan terhadap penerapan asas, nilai dasar, kode etik, dan kode perilaku ASN yang dilakukan oleh suatu lembaga independen.”

MK memberikan waktu paling lama dua tahun sejak putusan diucapkan bagi pemerintah dan DPR untuk membentuk lembaga independen tersebut.

ASN Rawan Intervensi Politik

Dalam salah satu pertimbangan hukumnya, Hakim Konstitusi Guntur Hamzah menyoroti kerentanan ASN terhadap intervensi politik dan kepentingan pribadi jika tidak ada lembaga pengawas independen.

READ  MA Gelar Sosialisasi dan Pelatihan untuk Hakim Jelang KUHAP Baru Berlaku pada 2 Januari 2026

“Salah satu permasalahan kepegawaian, in casu pegawai ASN, mudah diintervensi oleh kepentingan politik dan juga kepentingan pribadi,” ujar Guntur saat membacakan pertimbangan.

Ia menegaskan pentingnya pemisahan fungsi dan kewenangan antara pembuat kebijakan, pelaksana kebijakan, dan pengawas kebijakan.

“Agar tidak terjadi tumpang tindih peran dan benturan kepentingan. Dalam hal ini, pengawas kebijakan tidak hanya berfungsi sebagai pengawas an sich, tetapi juga sebagai penyeimbang yang berada di luar dari pembuat maupun pelaksana kebijakan,” tambahnya.

Menurut Guntur, lembaga independen yang dimaksud harus mampu memastikan sistem merit berjalan akuntabel, transparan, dan bebas dari intervensi politik, sehingga birokrasi dapat bekerja profesional dan efisien serta melindungi karier ASN.

Lembaga Independen Harus Dibentuk Segera

READ  Presiden Prabowo Dijadwalkan Hadiri KTT ASEAN 2025 di Malaysia, Fokus pada Penguatan Relevansi Kawasan

MK menilai bahwa lembaga independen pengawas ASN diperlukan untuk menggantikan peran KASN yang sebelumnya dibentuk berdasarkan UU ASN Nomor 5 Tahun 2014. KASN kala itu berfungsi memantau dan mengevaluasi pelaksanaan manajemen ASN agar profesional dan berintegritas.

“Pembentukan lembaga independen merupakan kewenangan pembentuk undang-undang. Namun yang penting, pembentukan itu harus segera dilakukan,” tegas majelis hakim dalam pertimbangannya.

Putusan ini menegaskan bahwa pengawasan terhadap ASN tidak boleh berada langsung di bawah eksekutif, melainkan dijalankan oleh lembaga yang berdiri di luar struktur pemerintahan untuk menjamin netralitas ASN dan integritas birokrasi.

Dengan putusan ini, pemerintah dan DPR kini memiliki waktu dua tahun untuk menindaklanjuti dan membentuk lembaga pengawas ASN yang benar-benar independen.

Artikel ini telah dibaca 8 kali

Baca Lainnya

Puspenma Siapkan 1.900 Beasiswa 2026, Dorong Dosen PTK Tempuh Studi Doktor dan Perkuat Riset

28 Februari 2026 - 21:43 WITA

Satgas PRR Targetkan Seluruh Pengungsi Pascabencana Sumatera Direlokasi Sebelum Idulfitri 2026

28 Februari 2026 - 21:28 WITA

AS dan Israel Serang Iran, Presiden Prabowo Siap Fasilitasi Dialog

28 Februari 2026 - 21:02 WITA

BGN Hentikan Sementara 47 SPPG hingga Hari ke-9 Ramadhan, Temukan Menu MBG Tak Layak Konsum

28 Februari 2026 - 20:41 WITA

Kepala BGN: 93 Persen Anggaran Rp268 Triliun Dialokasikan untuk Program Makan Bergizi

28 Februari 2026 - 20:29 WITA

Bupati Tolikara Serahkan DPA 2026, Tandai Dimulainya Pelaksanaan APBD Rp1,64 Triliun

28 Februari 2026 - 15:22 WITA

Trending di Nasional