Menu

Mode Gelap

Nasional · 29 Okt 2025 12:24 WITA

Menkeu Purbaya Tegaskan Tak Akan Naikkan Pajak Sebelum Ekonomi Tumbuh 6 Persen


 Menkeu Purbaya Tegaskan Tak Akan Naikkan Pajak Sebelum Ekonomi Tumbuh 6 Persen Perbesar

SOALINDONESIA–JAKARTA Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah tidak memiliki rencana untuk menaikkan tarif pajak dalam waktu dekat. Ia menyebut kebijakan tersebut baru akan dilakukan jika pertumbuhan ekonomi nasional telah mencapai di atas 6 persen.

“Saya akan menaikkan pajak pada waktu (ekonomi) tumbuhnya di atas 6 persen. Anda (masyarakat) akan senang juga bayar pajaknya,” kata Purbaya dikutip dari Antara, Rabu (29/10/2025).

Pernyataan itu disampaikan Purbaya untuk menanggapi kekhawatiran bahwa kenaikan tarif pajak dapat menekan pendapatan masyarakat setelah kebutuhan pokok dan kewajiban dasar terpenuhi (disposable income).

Dorong Ekonomi Lewat Pemindahan Dana ke Himbara

Purbaya mengungkapkan bahwa dirinya telah mengambil langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan memindahkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) APBN dari Bank Indonesia (BI) ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

Kebijakan ini, kata dia, bertujuan meningkatkan perputaran uang di sektor riil dan mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional melalui penyaluran kredit ke dunia usaha.

READ  Pemerintah Tanggung Penuh Uang Saku Mahasiswa Magang, Setara UMP

“Saya akan monitor itu ke depan dengan hati-hati. Jadi, Anda nggak usah takut. Kalau saya menaikkan pajak, Anda akan susah,” ujar Purbaya.

Tunda Pemungutan Pajak oleh E-Commerce

Selain menahan kenaikan tarif pajak, Purbaya juga menunda penunjukan platform e-commerce sebagai pemungut Pajak Penghasilan (PPh) 22 dari pedagang daring hingga pertumbuhan ekonomi mencapai 6 persen.

Ia menilai kebijakan pajak baru harus diterapkan pada saat daya beli masyarakat sudah benar-benar pulih. Prinsip serupa juga digunakan dalam kajian kenaikan iuran BPJS Kesehatan yang hingga kini masih ditunda.

Fokus pada Perbaikan Sistem Pajak

Alih-alih menaikkan tarif, Menkeu Purbaya memilih memperkuat sistem penerimaan negara melalui peningkatan efisiensi administrasi pajak dan bea cukai. Ia menekankan pentingnya sistem teknologi informasi, seperti Coretax, dalam menekan potensi pelanggaran pajak.

READ  Menkeu Purbaya Tegaskan Belum Ada Kenaikan Cukai dan Harga Rokok di 2026

“Untuk pajak, saya percaya pada sistem IT yang sedang dibangun di Kementerian Keuangan. Ini akan menutup celah pelanggaran dan meningkatkan kepatuhan,” jelasnya.

Purbaya juga menegaskan akan memperketat pengawasan di sektor kepabeanan dan cukai, termasuk mencegah praktik underinvoicing yang berpotensi merugikan negara.

Evaluasi Rencana Penyesuaian PPN

Menkeu sebelumnya sempat memberi sinyal akan menurunkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN), namun langkah itu masih dikaji matang. Ia mengungkap, setiap penurunan tarif PPN sebesar 1 persen berpotensi mengurangi penerimaan negara hingga Rp70 triliun.

“Waktu di luar (pemerintahan), saya ngomong turunkan saja ke 8 persen. Tapi setelah jadi Menteri Keuangan, saya tahu dampaknya besar sekali,” ujar Purbaya.

 

Untuk saat ini, ia akan memantau perkembangan penerimaan negara hingga triwulan II-2026, sebelum mengambil keputusan terkait penyesuaian tarif PPN.

READ  Massa Geruduk Rumah Sri Mulyani, Barang-Barang Berharga Raib

“Mungkin akhir triwulan pertama saya sudah lihat. Dari situ saya bisa ukur potensi riil penerimaan negara dan dampak pertumbuhan ekonominya,” tambahnya.

Hati-Hati dan Perhitungan Matang

Mantan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini menegaskan dirinya tidak akan gegabah dalam mengambil keputusan fiskal, meski gaya komunikasinya sering dinilai tegas.

“Walaupun saya kelihatan kayak koboi, saya ini pelit dan hati-hati. Kalau jeblok, defisit bisa di atas 3 persen. Jadi semuanya harus dihitung matang,” tegasnya.

Sebagai informasi, tarif PPN di Indonesia naik dari 10 persen menjadi 11 persen pada 1 April 2022 sesuai amanat Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP). Sementara rencana kenaikan menjadi 12 persen yang semestinya berlaku pada 2025, kini hanya akan dikenakan pada barang mewah (PPnBM) setelah keputusan Presiden Prabowo Subianto pada akhir 2024.

Artikel ini telah dibaca 15 kali

Baca Lainnya

Menaker Yassierli Tekankan Pentingnya K3 untuk Lingkungan Kerja Aman dan Produktif

9 Januari 2026 - 23:24 WITA

Menkum Supratman Minta Publik Cermati KUHP dan KUHAP Baru Terkait Pelaporan Pandji Pragiwaksono

9 Januari 2026 - 23:15 WITA

Kemensos Mulai Seleksi Siswa Baru Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026/2027, Pembangunan Gedung Permanen Dimulai

9 Januari 2026 - 23:07 WITA

Menag Nasaruddin Umar Tegaskan Peran Kemenag Jaga Persatuan Bangsa di Rakerwil Sultra 2026

9 Januari 2026 - 23:00 WITA

Tak Hanya Gus Yaqut, Mantan Stafsus Menteri Agama Ikut Ditahan KPK

9 Januari 2026 - 17:26 WITA

KPK Tetapkan Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji

9 Januari 2026 - 17:17 WITA

Trending di Nasional