SOAlINDONESIA—TOLIKARA – Baru beberapa hari setelah resmi dikukuhkan sebagai Bunda PAUD Kabupaten Tolikara, Elisabeth Y. Flassy Wandik langsung menunjukkan komitmennya terhadap kemajuan pendidikan anak usia dini dengan melakukan kunjungan kerja ke Distrik Douw, salah satu wilayah terjauh di Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan.
Kunjungan tersebut dilakukan setelah Elisabeth dikukuhkan oleh Bunda PAUD Provinsi Papua Pegunungan pada 11 Mei 2026. Perjalanan menuju Distrik Douw ditempuh menggunakan pesawat dari Sentani dengan waktu tempuh sekitar 40 menit.
Kedatangan Bunda PAUD Kabupaten Tolikara disambut antusias oleh masyarakat setempat. Ratusan anak-anak PAUD dan siswa sekolah berbaris menyambut kunjungan tersebut dengan penuh kegembiraan. Momen itu menjadi bukti tingginya harapan masyarakat terhadap perhatian pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan anak-anak di daerah pedalaman.
Dalam kunjungannya, Elisabeth menyerahkan makanan bergizi kepada anak-anak PAUD dan siswa sekolah sebagai bagian dari upaya mendukung pemenuhan kebutuhan gizi anak. Ia juga berinteraksi langsung dengan para siswa, memberikan motivasi, serta mendorong mereka untuk terus semangat belajar demi meraih cita-cita dan menjadi generasi emas Papua di masa depan.
“Anak-anak ini adalah generasi emas Papua dan Indonesia. Mereka memiliki mimpi dan potensi yang besar. Karena itu, kita semua memiliki tanggung jawab untuk memastikan mereka mendapatkan pendidikan dan pelayanan yang layak,” ujar Elisabeth.
Namun di balik semangat dan keceriaan anak-anak tersebut, Elisabeth mengaku turut merasakan keprihatinan terhadap kondisi pendidikan di Distrik Douw. Menurutnya, masih banyak keterbatasan yang dihadapi sekolah-sekolah di wilayah tersebut, mulai dari kurangnya sarana belajar hingga minimnya perlengkapan sekolah yang dimiliki para siswa.
“Di satu sisi kami merasa bahagia bisa bertemu langsung dengan anak-anak yang luar biasa ini. Namun di sisi lain, kami juga sedih karena masih banyak kebutuhan pendidikan yang belum terpenuhi. Ada anak-anak yang belum memiliki seragam sekolah, sementara fasilitas belajar mereka juga masih sangat terbatas,” ungkapnya.
Distrik Douw sendiri merupakan salah satu distrik terpencil di Kabupaten Tolikara yang akses transportasinya masih sangat terbatas. Wilayah tersebut hanya dapat dijangkau menggunakan pesawat dan hingga kini belum memiliki bandara yang memadai untuk mendukung mobilitas masyarakat maupun distribusi logistik.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada berbagai program pelayanan dasar pemerintah. Elisabeth menjelaskan bahwa biaya penerbangan dari Karubaga menuju Distrik Douw mencapai sekitar Rp39 juta untuk satu kali penerbangan. Tingginya biaya transportasi ini menjadi tantangan tersendiri dalam mendukung distribusi bahan makanan untuk program sarapan sehat anak sekolah maupun program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) bagi ibu hamil, bayi, dan balita.
“Kami berharap pemerintah dapat memberikan perhatian serius terhadap pembangunan bandara di Distrik Douw. Infrastruktur transportasi yang memadai akan sangat membantu peningkatan layanan pendidikan, kesehatan, serta distribusi bahan pangan bagi masyarakat,” katanya.
Selain sektor pendidikan, Bunda PAUD Tolikara juga menyoroti kondisi layanan kesehatan di wilayah tersebut. Saat ini Distrik Douw baru memiliki puskesmas pembantu (pustu), sehingga masyarakat masih menghadapi keterbatasan dalam mengakses pelayanan kesehatan yang lebih lengkap.
Karena itu, ia berharap pemerintah dapat mempercepat pembangunan sekolah satu atap sekaligus meningkatkan status fasilitas kesehatan yang ada menjadi puskesmas agar masyarakat memperoleh layanan yang lebih optimal.
Kunjungan kerja perdana ini menjadi langkah nyata Bunda PAUD Kabupaten Tolikara dalam memastikan bahwa perhatian terhadap pendidikan anak usia dini tidak hanya berpusat di perkotaan, tetapi juga menjangkau wilayah-wilayah terpencil. Melalui pendekatan langsung ke lapangan, Elisabeth ingin memastikan bahwa setiap anak di Tolikara memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat, mendapatkan pendidikan yang layak, dan meraih masa depan yang lebih baik.
Dengan semangat tersebut, kunjungan ke Distrik Douw tidak hanya menjadi agenda seremonial semata, melainkan simbol komitmen kuat untuk memperjuangkan hak-hak dasar anak-anak Papua, khususnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan pemenuhan gizi sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.











