Menu

Mode Gelap

Nasional · 30 Okt 2025 16:46 WITA

Puan Maharani Dorong Sistem Early Warning untuk Lindungi Pekerja Migran Indonesia


 Puan Maharani Dorong Sistem Early Warning untuk Lindungi Pekerja Migran Indonesia Perbesar

SOALINDONESIA–JAKARTA Ketua DPR RI Puan Maharani mendorong pemerintah membangun sistem early warning bagi pekerja migran Indonesia (PMI) untuk mencegah terulangnya kasus penipuan daring (online scam) seperti yang menimpa 110 WNI di Kamboja.

Puan menilai kasus tersebut mencerminkan lemahnya perlindungan bagi pekerja Indonesia di luar negeri. Ia menyampaikan keprihatinan mendalam dan meminta evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlindungan PMI sejak tahap pra-keberangkatan.

“Kasus ini menjadi peringatan serius bagi kita semua bahwa kebutuhan ekonomi dan sempitnya kesempatan kerja di dalam negeri sering kali memaksa warga kita mengambil risiko tinggi berangkat kerja ke luar negeri,” ujar Puan dalam keterangan tertulis, Kamis (30/10/2025).

Menurut mantan Menko PMK ini, perlindungan PMI tidak hanya menyangkut aspek diplomatik, tetapi juga menyentuh akar persoalan sosial dan ekonomi yang mendorong banyak warga bekerja ke luar negeri tanpa mekanisme resmi.

READ  MUI Apresiasi KUHP Baru, Nilai Indonesia Lepas dari Warisan Hukum Kolonial

“Negara harus hadir memastikan setiap warga mendapatkan akses pekerjaan yang manusiawi dan terlindungi, di mana pun mereka bekerja,” tambahnya.

Dorong Sistem Deteksi Dini dan Pengawasan Mobilitas

Puan menegaskan perlindungan PMI harus dimulai sejak pra-keberangkatan, meliputi informasi yang benar, pelatihan yang layak, hingga penempatan kerja yang terverifikasi.

“Pemerintah, melalui Kementerian P2MI, Kementerian Luar Negeri, dan instansi terkait, perlu memperkuat koordinasi agar tidak ada lagi warga yang berangkat tanpa izin penempatan resmi,” tegasnya.

Puan juga mengusulkan pembangunan sistem early warning yang melibatkan Ditjen Imigrasi, aparat bandara, dan maskapai penerbangan untuk memantau perjalanan mencurigakan ke negara-negara berisiko tinggi seperti Kamboja, Myanmar, dan Laos.

“Lonjakan penerbangan ke negara yang tidak memiliki hubungan resmi penempatan pekerja migran harus menjadi perhatian. Pemerintah perlu membangun mekanisme deteksi dini agar tidak ada lagi warga yang berangkat tanpa perlindungan negara,” ujarnya.

READ  Empat UIN Kolaborasi Rumuskan Policy Brief Dukung Diplomasi Perdamaian Presiden Prabowo

Apresiasi Evakuasi dan Pemulihan Korban

Selain itu, Puan mengapresiasi langkah cepat pemerintah melalui KBRI Phnom Penh dan KP2MI dalam mengevakuasi 110 WNI korban penipuan daring. Namun, ia menekankan pemulihan korban tidak boleh berhenti sampai di situ.

“Pemerintah perlu memastikan pemulihan fisik, mental, dan sosial bagi para korban begitu mereka tiba di Indonesia, serta membuka akses pelatihan kerja dan program pemberdayaan ekonomi lokal,” katanya.

Puan menegaskan perlunya solusi nyata berupa pelatihan, akses modal, dan penempatan kerja domestik agar korban tidak kembali menghadapi situasi rentan.

Dorong Penciptaan Lapangan Kerja di Dalam Negeri

Mantan Menko PMK ini menilai akar persoalan migrasi non-prosedural adalah keterbatasan lapangan kerja di dalam negeri. Ia mendorong pemerintah memperluas kerja sama publik-swasta untuk investasi tenaga kerja, memperkuat pelatihan vokasi, serta mempercepat pembangunan kawasan ekonomi yang dapat menyerap tenaga kerja lokal.

READ  MKD DPR Putuskan Rahayu Saraswati Tetap Jadi Anggota DPR 2024-2029

“Selama lapangan pekerjaan di dalam negeri belum cukup tersedia dan tidak memberikan rasa aman serta penghasilan yang layak, masyarakat kita akan terus mencari peluang di luar negeri meskipun risikonya tinggi,” ujar Puan.

DPR RI Akan Terus Awasi dan Tindak Perekrut Ilegal

Puan menegaskan DPR RI akan menjalankan fungsi pengawasan untuk memastikan pemerintah menindak jaringan perekrut ilegal dan memperkuat diplomasi perlindungan WNI di luar negeri.

“Negara tidak boleh kalah dari sindikat yang memanfaatkan kesulitan ekonomi rakyat. Kita harus memastikan setiap warga negara memiliki hak atas pekerjaan yang aman, bermartabat, dan memberi harapan,” tegasnya.

“Tugas negara adalah menciptakan ekosistem kerja yang melindungi, bukan mengeksploitasi,” pungkas Puan.

Artikel ini telah dibaca 12 kali

Baca Lainnya

Puspenma Siapkan 1.900 Beasiswa 2026, Dorong Dosen PTK Tempuh Studi Doktor dan Perkuat Riset

28 Februari 2026 - 21:43 WITA

Satgas PRR Targetkan Seluruh Pengungsi Pascabencana Sumatera Direlokasi Sebelum Idulfitri 2026

28 Februari 2026 - 21:28 WITA

AS dan Israel Serang Iran, Presiden Prabowo Siap Fasilitasi Dialog

28 Februari 2026 - 21:02 WITA

BGN Hentikan Sementara 47 SPPG hingga Hari ke-9 Ramadhan, Temukan Menu MBG Tak Layak Konsum

28 Februari 2026 - 20:41 WITA

Kepala BGN: 93 Persen Anggaran Rp268 Triliun Dialokasikan untuk Program Makan Bergizi

28 Februari 2026 - 20:29 WITA

Bupati Tolikara Serahkan DPA 2026, Tandai Dimulainya Pelaksanaan APBD Rp1,64 Triliun

28 Februari 2026 - 15:22 WITA

Trending di Nasional