SOALINDONESIA–JAKARTA Suasana berbeda terlihat di halaman Kementerian Agama (Kemenag) pada Minggu pagi (23/11/2025), saat ratusan peserta berkumpul untuk mengikuti kegiatan Bersepeda Onthel Bersama Guru Lintas Iman, bagian dari rangkaian peringatan Hari Guru Nasional 2025 yang jatuh pada 25 November mendatang.
Sekitar 400 peserta hadir, terdiri dari guru berbagai wilayah Jakarta dan sekitarnya, serta sejumlah pejabat di lingkungan Kemenag. Sebanyak 250 sepeda onthel disediakan panitia, sementara sisanya membawa sepeda pribadi. Deretan sepeda tua dengan lampu bulat klasik dan stang krom menghiasi halaman Kemenag, menghadirkan nuansa nostalgia era masa lalu.
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, hadir dengan mengenakan setelan klasik ala pegawai era 1950-an. Saat ditemui wartawan, ia mengatakan:
“Ya, nostalgia dulu guru-guru memakai pakaian seperti ini. Guru-guru itu tokoh masyarakat, ya. Luar biasa. Alhamdulillah kita sekarang ini memperingati Hari Guru.”
Setelah bendera start dikibarkan, rombongan bergerak keluar halaman Kemenag menuju Lapangan Banteng dan jalur kota yang sudah ditentukan. Menag berada di barisan depan, beberapa kali melambaikan tangan kepada warga yang menepi untuk menyaksikan rombongan.
Makna Sepeda Onthel Bagi Guru Indonesia
Menag Nasaruddin menjelaskan bahwa sepeda onthel memiliki keterkaitan erat dengan sejarah perjalanan guru Indonesia:
“Dulu kan tidak ada motor, tidak ada mobil. Ya, jalan kaki kejauhan. Makanya kita pakai sepeda,” ujarnya. Ia menambahkan manfaat sepeda yang relevan hingga kini, yakni sebagai sarana olahraga, bebas polusi, cepat sampai, dan hemat biaya.
Kegiatan bersepeda ini bukan sekadar simbolik. Sepeda onthel menjadi simbol perjuangan dan dedikasi guru generasi awal, yang menempuh jarak jauh dari permukiman ke sekolah dengan sarana sederhana. Melalui kegiatan ini, Kemenag ingin mengingatkan kembali nilai kesederhanaan, kerja keras, dan pengabdian guru dalam membangun pendidikan bangsa.
Di sepanjang rute, sejumlah warga yang melintas tampak berhenti untuk memotret rombongan pesepeda berpakaian khas masa lalu.
Kegiatan kemudian ditutup kembali di halaman kantor Kemenag, tempat peserta mengembalikan sepeda, beristirahat, dan mengikuti rangkaian acara peringatan Hari Guru Nasional 2025.
Dengan kegiatan ini, Kemenag menegaskan bahwa perayaan Hari Guru Nasional tidak selalu harus megah, namun dapat dilakukan dengan cara sederhana yang tetap mengangkat sejarah dan dedikasi guru Indonesia.











