Soalindonesia–JAKARTA – Andi Amran Sulaiman menegaskan akan mengalihkan anggaran ke daerah lain apabila pemerintah daerah tidak serius menjalankan program cetak sawah sebagai bagian dari penguatan produksi dan swasembada pangan nasional.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Amran menyusul evaluasi pelaksanaan program strategis pertanian di sejumlah wilayah. Ia mengingatkan, daerah yang tidak menunjukkan komitmen dan progres nyata akan dievaluasi, bahkan anggaran yang telah dialokasikan dapat ditarik dan dipindahkan ke daerah yang lebih siap.
“Yang tidak serius, kabupaten yang tidak serius, tolong nol kan anggarannya, Menteri (Pertanian) yang tanggung jawab. Sampaikan Menteri (Pertanian) yang tanggung jawab,” kata Amran dikutip dari Antara, Rabu (25/2/2026).
Menurutnya, anggaran pertanian yang mencapai puluhan triliun rupiah merupakan amanah rakyat yang harus diwujudkan dalam bentuk produksi nyata di lapangan, bukan sekadar program di atas kertas.
Karena itu, bantuan dan dukungan pemerintah akan diprioritaskan kepada daerah dengan capaian positif dan progres cepat. Sementara wilayah dengan kinerja rendah akan ditahan sementara hingga mampu memperbaiki pelaksanaan programnya.
“Tolong seluruh dirjen, daerah yang capaiannya rendah, alihkan ke yang rajin. Jadi kabupaten dan provinsi yang tidak serius, anggarannya tarik, pindahkan ke provinsi lain, kabupaten lain,” ujarnya.
Dorong Percepatan dan Perlindungan Daerah
Amran menegaskan, langkah tegas tersebut merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah agar program pertanian berjalan optimal serta tidak membebani daerah yang belum siap secara teknis maupun administratif.
“Bentuk cinta saya, kalau Anda tidak sanggup, saya pindahkan anggarannya. Daripada nanti tidak berjalan optimal di kemudian hari,” ucapnya.
Menteri Pertanian yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pangan Nasional itu menekankan bahwa program cetak sawah tidak boleh kendur. Ia menginstruksikan seluruh kepala dinas pertanian provinsi dan kabupaten/kota untuk terus memacu percepatan cetak sawah, optimalisasi lahan, serta pelaksanaan program strategis lainnya.
“Momentum swasembada pangan yang telah diraih tidak boleh kendur dan harus dijaga secara berkelanjutan,” tegasnya.
Ia menjelaskan, cetak sawah merupakan fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan swasembada pangan nasional. Pada 2025, realisasi cetak sawah tercatat mencapai sekitar 200 ribu hektare. Sementara pada 2026, targetnya ditingkatkan menjadi 250 ribu hektare.
Menurut Amran, jika program tersebut dikombinasikan dengan optimalisasi lahan yang telah berjalan beberapa tahun terakhir, maka swasembada pangan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
“Ini yang membuat sistem nanti. Ini yang membuat berkelanjutan swasembada kita,” tuturnya.











