SOALINDONESIA—PAPUA — Kepemimpinan Bupati Tolikara Willem Wandik bersama Wakil Bupati Yotam Wonda di Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan mendapat sorotan positif dari pengamat pemerintahan nasional Arif Nurul Iman.
Arif menilai gaya kepemimpinan keduanya menunjukkan pendekatan yang berbeda dibanding pola birokrasi konvensional, yakni kepemimpinan tanpa sekat yang menempatkan kedekatan dengan masyarakat sebagai fondasi utama pembangunan daerah.
Menurutnya, Wilem Wandik dan Yotam Wonda tidak membangun jarak antara pemerintah dan rakyat. Mereka memilih hadir langsung di tengah masyarakat, berbaur dengan berbagai lapisan sosial, serta mendengar aspirasi warga secara langsung sebagai dasar pengambilan kebijakan.
“Model kepemimpinan seperti ini penting di wilayah pegunungan Papua, karena kepercayaan masyarakat menjadi modal utama sebelum pembangunan fisik dijalankan,” ujar Arif dalam keterangannya.
Menguatkan Peran OAP dalam Pemerintahan
Salah satu aspek yang mendapat perhatian khusus adalah komitmen pemerintah daerah dalam menempatkan Orang Asli Papua (OAP) pada struktur pemerintahan strategis. Langkah ini dinilai sebagai upaya memperkuat representasi lokal sekaligus membangun rasa memiliki terhadap jalannya pemerintahan.
Arif menilai kebijakan tersebut bukan sekadar simbolis, melainkan strategi jangka panjang untuk menciptakan birokrasi yang memahami karakter sosial dan budaya masyarakat Tolikara.
“Ketika OAP diberi ruang dalam struktur pemerintahan, maka kebijakan yang lahir akan lebih kontekstual dan diterima masyarakat,” jelasnya.
Membangun dari Hal-Hal Kecil
Pengamat tersebut juga menyoroti pendekatan pembangunan yang dilakukan secara bertahap, dimulai dari persoalan paling mendasar. Pemerintah Kabupaten Tolikara disebut fokus memperbaiki tata kelola pemerintahan, pelayanan dasar, hingga penguatan koordinasi internal birokrasi.
Menurut Arif, membangun fondasi dari hal-hal kecil sering kali tidak terlihat cepat, namun justru menentukan kekokohan daerah dalam jangka panjang.
Ia menilai kepemimpinan Wilem–Yotam tidak terjebak pada proyek besar semata, melainkan menata sistem terlebih dahulu agar pembangunan berjalan berkelanjutan.
Aktif Promosikan Potensi Daerah
Selain pembenahan internal, kepemimpinan Tolikara juga dinilai progresif dalam memperkenalkan potensi daerah ke tingkat nasional. Pemerintah daerah disebut aktif mempromosikan peluang investasi, potensi budaya, serta pembangunan daerah melalui berbagai forum nasional dan media arus utama.
Langkah ini dinilai penting untuk mengubah persepsi publik terhadap wilayah pegunungan Papua yang selama ini lebih sering disorot dari sisi tantangan dibanding peluangnya.
“Tolikara mulai dikenal bukan hanya karena geografisnya, tetapi karena gagasan dan potensi yang dimilikinya,” kata Arif .
Kepemimpinan yang Melek Media
Arif juga menilai pasangan kepala daerah tersebut memiliki kesadaran tinggi terhadap peran media dalam pembangunan modern. Pemerintah daerah dinilai mampu memanfaatkan media sebagai sarana transparansi, komunikasi publik, sekaligus promosi daerah.
Keterbukaan informasi dinilai menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan publik, baik di tingkat lokal maupun nasional.
Menuju Tolikara yang Kokoh
Secara keseluruhan, Arif melihat arah kepemimpinan Wilem Wandik–Yotam Wonda sedang membangun pondasi pemerintahan yang kuat sebelum memasuki fase pembangunan besar.
Menurutnya, pendekatan ini membutuhkan kesabaran politik dan konsistensi kebijakan, namun berpotensi menjadikan Tolikara lebih kokoh di masa depan.
“Ketika hal-hal kecil sudah tertata, maka Tolikara akan berdiri kuat pada waktunya. Fondasi sosial dan pemerintahan yang solid adalah kunci keberlanjutan pembangunan,” pungkasnya.











