SOAlINDONESIA—TOLIKARA—Dalam suasana penuh kesederhanaan namun sarat makna, Bupati Tolikara, Willem Wandik, membuka Forum Perangkat Daerah Tahun Anggaran 2026 dengan sebuah pesan yang lebih dari sekadar arahan teknis. Ia berbicara tentang tanggung jawab, harapan, dan panggilan hati untuk benar-benar menghadirkan perubahan bagi masyarakat.
Di hadapan para kepala perangkat daerah dan jajaran pejabat, Bupati tidak hanya menekankan pentingnya perencanaan pembangunan, tetapi juga mengingatkan bahwa setiap program yang disusun sejatinya adalah cerminan keberpihakan kepada rakyat.
“Forum ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan tanggung jawab moral dan profesional kita kepada masyarakat,” tegasnya, dengan nada yang menggugah kesadaran bersama.
Menyusun Harapan di Tengah Tantangan
Tahun 2027, menurutnya, bukanlah tahun yang ringan. Gejolak global, inflasi, hingga potensi resesi menjadi bayang-bayang yang bisa berdampak hingga ke daerah seperti Tolikara. Ditambah lagi, kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat menuntut daerah untuk bekerja lebih cermat dan bijak.
Namun di balik tantangan itu, tersimpan peluang untuk berbenah.
Bupati menekankan bahwa setiap rupiah anggaran harus benar-benar digunakan untuk kepentingan rakyat. Tidak ada ruang lagi bagi program yang tidak berdampak, atau sekadar rutinitas tahunan tanpa makna.
“Tidak boleh ada lagi pemborosan. Tidak boleh ada lagi program yang tidak menyentuh kebutuhan masyarakat,” ujarnya dengan tegas.
Fokus pada Kehidupan Nyata Masyarakat
Arah pembangunan Tolikara ke depan difokuskan pada hal-hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari—mulai dari penguatan ekonomi berbasis lokal, ketahanan pangan, hingga peningkatan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan.
Bupati juga menaruh perhatian besar pada upaya penurunan stunting dan kemiskinan, yang menurutnya menjadi indikator nyata keberhasilan pembangunan.
Tak hanya itu, pembangunan infrastruktur dan konektivitas wilayah juga menjadi prioritas, agar masyarakat di daerah terpencil tidak lagi merasa terisolasi.
Cara Lama Harus Ditinggalkan
Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan pesan yang cukup reflektif—bahwa pola kerja lama sudah tidak relevan dengan tantangan saat ini.
“Kita tidak bisa lagi bekerja dengan cara lama. Kita dituntut menghadirkan perubahan nyata,” ucapnya.
Ia mengajak seluruh ASN untuk bekerja sebagai satu tim, dengan satu arah dan satu tujuan: kesejahteraan masyarakat Tolikara.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya perencanaan berbasis data, kolaborasi lintas sektor, serta inovasi dan digitalisasi dalam pelayanan publik.
Spiritualitas sebagai Fondasi
Di tengah pembahasan yang teknis, Bupati juga mengingatkan pentingnya dimensi spiritual dalam setiap langkah pembangunan. Ia mengajak seluruh peserta forum untuk selalu melibatkan Tuhan dalam setiap pengambilan keputusan.
Pesan ini menjadi penyeimbang—bahwa pembangunan bukan hanya soal angka dan program, tetapi juga soal nilai, integritas, dan kebijaksanaan.
Optimisme untuk Tolikara
Dengan penuh keyakinan, Bupati menyampaikan harapannya agar Tolikara dapat tumbuh menjadi daerah yang religius, maju, mandiri, adil, dan sejahtera.
Forum pun resmi dibuka, bukan sekadar sebagai agenda tahunan, tetapi sebagai ruang untuk merumuskan masa depan.
Di akhir sambutannya, terselip semangat khas Papua yang menggema:
“Shalom… Yaki… Yaki… Wa… Wa… Wa…”
Sebuah seruan yang bukan hanya penutup acara, tetapi juga penegas semangat kebersamaan untuk melangkah maju.











