Menu

Mode Gelap

Nasional · 8 Okt 2025 01:02 WITA

Dirut Pertamina Tanggapi Sindiran Menkeu: RDMP Balikpapan Siap On‑Stream November 2025


 Dirut Pertamina Tanggapi Sindiran Menkeu: RDMP Balikpapan Siap On‑Stream November 2025 Perbesar

SOALINDONESIA–JAKARTA Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menjawab sindiran Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menuding Pertamina “malas membangun kilang baru.” Simon menyatakan bahwa Pertamina akan segera mengoperasikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan dalam waktu dekat.

“Kalau kemarin kita sempat mendengar Pak Menteri Keuangan menyampaikan bahwa mungkin tidak banyak kilang yang dibangun, tentunya itu menjadi masukan berharga buat kami,” kata Simon di Jakarta, Selasa (7/10).

“Salah satu yang akan kita dorong dalam waktu dekat ini, mudah-mudahan di bulan November, tanggal 10 November adalah kita akan mulai onstream proyek RDMP Balikpapan … meningkatkan kapasitas pengolahan kilang,” ujarnya.

Detail Proyek dan Investasi

Proyek RDMP Balikpapan memiliki nilai investasi sebesar USD 7,4 miliar, terdiri dari USD 4,3 miliar ekuitas dan USD 3,1 miliar pinjaman (dengan dukungan ECA).

Diharapkan dapat meningkatkan kapasitas kilang dari 260.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari.

Produk yang dihasilkan akan memiliki kualitas lebih tinggi, setara Euro V (kadar sulfur di bawah 10 ppm).

READ  Gagal Berangkat Umrah Kembali Marak, Kemenhaj Imbau Jamaah Lebih Selektif Pilih Travel

Dengan proyek ini, impor BBM diharapkan bisa ditekan, sementara kualitas dan nilai tambah produksi dalam negeri meningkat.

Simon juga menegaskan bahwa RDMP Balikpapan bukan sekadar proyek kapasitas, melainkan peningkatan kualitas produksi dan efisiensi sistem kilang agar lebih kompetitif dan mandiri.

“Tentunya dengan demikian, impor kita akan berkurang, produk yang dihasilkan akan lebih baik … produk yang dihasilkan nanti akan setara dengan Euro V …” jelasnya.

“Kita harus terus memperbaiki diri dan mengembangkan kilang supaya bisa mencapai produksi dengan performa terbaik,” tambahnya.

Latihan Politik Anggaran: Sindiran Menkeu & Tuntutan Kilang Baru

Sindiran Purbaya terhadap Pertamina muncul dalam rapat kerja Komisi XI DPR RI, ketika Menkeu menyampaikan bahwa Indonesia terus merugi akibat impor BBM sementara realisasi pembangunan kilang belum terlihat.

“Sejak krisis sampai sekarang tidak ada kilang baru … Jadi nanti kalau Bapak dan Ibu (DPR) ketemu Danantara lagi, minta Pertamina bangun kilang baru,” kata Purbaya saat itu.

READ  Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Peringati HORI ke-79: “Rupiah Simbol Kedaulatan Ekonomi Bangsa”

Ia juga mengungkit janji pertamina pada 2018 yang menyebut akan membangun tujuh kilang dalam lima tahun, namun hingga kini “belum ada satu pun” yang terealisasi.

Menanggapi kritik itu, Simon menyatakan bahwa peluncuran RDMP Balikpapan akan menjadi jawaban konkret terhadap tuntutan pembangunan kilang baru.

Status & Tantangan RDMP Balikpapan

Beberapa fakta penting terkait status proyek RDMP:

Per Agustus 2025, progres fisik proyek ini telah mencapai sekitar 96,15 % menurut laporan PT Kilang Pertamina Balikpapan.

Dalam laporan sebelumnya, kapasitas pengolahan diproyeksikan meningkat menjadi 360.000 barel/hari dari kapasitas awal 260.000 barel/hari.

Proyek ini juga diarahkan untuk menghasilkan produk dengan kualitas Euro V dan meningkatkan kompleksitas kilang (Nelson Complexity Index) agar mampu mengolah berbagai jenis minyak mentah ekonomis.

Meski optimisme tinggi, proyek sebesar ini menghadapi tantangan besar, seperti:

Koordinasi lintas internal kelompok Kilang, distribusi bahan bakar, dan integrasi operasional.

Tekanan untuk menjaga timeline agar tidak melewati kuartal IV 2025, sesuai target optimistis yang pernah diumumkan.

READ  Presiden Prabowo: TNI Selalu Tampil di Saat Kritis dan Harus Siap Hadapi Segala Kemungkinan

Isu finansial, risiko teknis, dan persyaratan lingkungan yang semakin ketat.

Implikasi bagi Ketahanan Energi dan Anggaran Negara

Jika berhasil dioperasikan sesuai target, RDMP Balikpapan dapat memberikan dampak signifikan:

Penurunan impor BBM, yang berarti pengurangan beban subsidi energi.

Peningkatan efisiensi rantai pasok hilir energi nasional.

Nilai tambah dari sisi produksi minyak dalam negeri dan kualitas produk yang lebih tinggi (Euro V).

Bukti nyata bahwa Pertamina merespons kritikan dan bertindak menghadirkan infrastruktur baru, bukan hanya retorika.

Penutup

Pernyataan Simon menandai titik balik dalam relasi antara Pertamina dan pemerintah—dari kritik terhadap “kemalasan membangun kilang baru” menuju belanja nyata pada RDMP Balikpapan. Jika peluncuran kilang berjalan lancar, maka kritik dapat berubah menjadi pujian. Namun kegagalan atau penundaan bisa memperburuk tekanan publik dan politik terhadap pertamina.

Publik dan pemangku kebijakan akan terus memantau apakah tanggal 10 November benar‑benar menjadi momen di mana kilang terbesar Indonesia itu mulai menghasilkan energi.

Artikel ini telah dibaca 9 kali

Baca Lainnya

Menaker Yassierli Tekankan Pentingnya K3 untuk Lingkungan Kerja Aman dan Produktif

9 Januari 2026 - 23:24 WITA

Menkum Supratman Minta Publik Cermati KUHP dan KUHAP Baru Terkait Pelaporan Pandji Pragiwaksono

9 Januari 2026 - 23:15 WITA

Kemensos Mulai Seleksi Siswa Baru Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026/2027, Pembangunan Gedung Permanen Dimulai

9 Januari 2026 - 23:07 WITA

Menag Nasaruddin Umar Tegaskan Peran Kemenag Jaga Persatuan Bangsa di Rakerwil Sultra 2026

9 Januari 2026 - 23:00 WITA

Tak Hanya Gus Yaqut, Mantan Stafsus Menteri Agama Ikut Ditahan KPK

9 Januari 2026 - 17:26 WITA

KPK Tetapkan Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji

9 Januari 2026 - 17:17 WITA

Trending di Nasional