SOALINDONESIA–TANGERANG–SELATAN Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menekankan pentingnya peran perusahaan swasta dan BUMN sebagai “kakak asuh” bagi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes/Kel). Kolaborasi ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata dan inklusif di seluruh lapisan masyarakat.
Menurut Menkop Ferry, koperasi bukan sekadar lembaga ekonomi, melainkan amanat konstitusi Pasal 33 UUD 1945 yang berfungsi memastikan kemakmuran seluruh rakyat.
“Swasta, BUMN, dan koperasi harus sama. Pertumbuhan tidak boleh hanya dinikmati segelintir orang saja, maka perlu ke depan agar BUMN dan swasta ini bisa berperan sebagai kakak asuh bagi koperasi sehingga operasionalisasi Koperasi Desa ini bisa berjalan dengan baik,” ujar Ferry dalam PLN CEO Forum, ICE BSD, Tangerang Selatan, Rabu (26/11/2025).
Perputaran Ekonomi Hingga Desa
Menkop Ferry menjelaskan, peran swasta dan BUMN sebagai kakak asuh akan memperkuat monetisasi ekonomi di desa. Dengan perputaran uang yang lancar di tingkat desa, pertumbuhan ekonomi agregat bisa dipercepat hingga target 8 persen, sekaligus meningkatkan daya beli masyarakat.
Selain itu, keberadaan Kopdes/Kel Merah Putih diharapkan membantu penyerapan tenaga kerja lokal, terutama mengurangi pengangguran di desa akibat lemahnya pembangunan ekonomi lokal.
“Harapannya Kopdes bisa menampung angkatan kerja dari desa,” kata Ferry. Ia menambahkan bahwa para CEO justru akan diuntungkan jika produk dan jasa mereka dibeli oleh puluhan juta orang, bukan hanya dikuasai oleh segelintir konglomerat.
Kopdes/Kel Merah Putih sebagai Agen Ekonomi Desa
Ferry mendorong para CEO untuk bermitra dengan Kopdes/Kel Merah Putih, yang nantinya akan berperan sebagai agen penyalur barang kebutuhan pokok, sekaligus menjadi offtaker hasil produksi masyarakat desa.
“Fungsi lainnya adalah menjadi instrumen terbawah yang mampu mengefektifkan bantuan pemerintah pusat ke masyarakat paling bawah yang selama ini sering salah sasaran,” pungkas Menkop Ferry.
Kolaborasi ini diharapkan mewujudkan ekosistem ekonomi berbasis gotong royong, sehingga pertumbuhan ekonomi lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.











