Menu

Mode Gelap

Nasional · 19 Sep 2025 14:45 WITA

OJK Tekankan Optimalisasi Penyaluran Dana Rp 200 Triliun di Bank Himbara


 OJK Tekankan Optimalisasi Penyaluran Dana Rp 200 Triliun di Bank Himbara Perbesar

SOALINDONESIA–JAKARTA Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan pentingnya optimalisasi penyaluran dana Rp 200 triliun yang ditempatkan pemerintah di bank-bank Himbara. Dana tersebut dinilai mampu memperkuat likuiditas perbankan dan memperluas akses pembiayaan, khususnya bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Perbankan OJK, Indah Iramadhini, menjelaskan bahwa kehadiran dana pemerintah ini membuka ruang gerak lebih besar bagi industri perbankan. Meski saat ini masih terdapat kredit yang belum tersalur atau undisbursed loan, hal itu justru menunjukkan adanya komitmen bank untuk menyalurkan dana sesuai jadwal penarikan debitur.

READ  Kemenhaj Gandeng KPK, Perkuat Integritas Penyelenggaraan Haji

“Sejak minggu lalu dana Rp 200 triliun sudah efektif masuk ke bank Himbara. Sementara undisbursed loan memang masih tinggi, tapi itu artinya bank sudah siap menyalurkan dana sesuai kebutuhan debitur,” kata Indah dalam sosialisasi POJK Nomor 19 Tahun 2025 tentang Kemudahan Akses Pembiayaan UMKM di Kantor OJK, Jakarta Pusat, Jumat (19/9/2025).

Indah menambahkan, secara industri, rasio pinjaman terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level 86 persen. Angka ini masih dalam batas wajar, mengingat kisaran ideal LDR berkisar antara 75 hingga 92 persen. Dengan tambahan dana pemerintah, posisi likuiditas bank semakin kuat untuk mendorong penyaluran kredit.

READ  Presiden Prabowo: Indonesia Selalu Dilibatkan dalam Proses Perdamaian Dunia Termasuk di Gaza

“Masih ada ruang gerak, karena ketika dana pemerintah masuk tentu akan meningkatkan deposit. Artinya kemampuan bank menyalurkan kredit juga semakin besar,” jelasnya.

Dorong Pembiayaan UMKM dan Mitigasi Risiko

Indah menegaskan, penempatan dana Rp 200 triliun ini sejalan dengan kebijakan OJK yang mendorong pembiayaan sektor produktif, terutama UMKM. Saat ini, porsi kredit UMKM baru mencapai 18 persen sesuai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Dengan dukungan likuiditas tambahan, target tersebut diharapkan dapat tercapai lebih cepat.

Selain memperluas kapasitas pembiayaan, OJK juga mengingatkan pentingnya tata kelola keuangan yang baik agar tidak terjadi lonjakan kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL).

READ  Prabowo Dorong Percepatan Rumah Subsidi, Kuota Naik Jadi 350 Ribu Unit

“Sekarang NPL masih sekitar 4 persen, di bawah ambang batas 5 persen. Tapi bank harus tetap waspada agar kualitas kredit tetap terjaga. Momentum ini bisa dimanfaatkan untuk mendorong UMKM sekaligus memperkuat tata kelola,” pungkas Indah.

Artikel ini telah dibaca 12 kali

Baca Lainnya

Menaker Yassierli Tekankan Pentingnya K3 untuk Lingkungan Kerja Aman dan Produktif

9 Januari 2026 - 23:24 WITA

Menkum Supratman Minta Publik Cermati KUHP dan KUHAP Baru Terkait Pelaporan Pandji Pragiwaksono

9 Januari 2026 - 23:15 WITA

Kemensos Mulai Seleksi Siswa Baru Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026/2027, Pembangunan Gedung Permanen Dimulai

9 Januari 2026 - 23:07 WITA

Menag Nasaruddin Umar Tegaskan Peran Kemenag Jaga Persatuan Bangsa di Rakerwil Sultra 2026

9 Januari 2026 - 23:00 WITA

Tak Hanya Gus Yaqut, Mantan Stafsus Menteri Agama Ikut Ditahan KPK

9 Januari 2026 - 17:26 WITA

KPK Tetapkan Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji

9 Januari 2026 - 17:17 WITA

Trending di Nasional