Soalindonesia–JAKARTA — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan bahwa berbagai kompetensi keahlian yang diajarkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi modal penting bagi lulusan untuk membangun karier di bidang robotika yang terus berkembang seiring kemajuan teknologi industri.
Direktur SMK Kemendikdasmen, Arie Wibowo Khurniawan, mengatakan kurikulum SMK saat ini telah mencakup sejumlah kompetensi yang relevan sebagai fondasi pengembangan teknologi robotika.
Beberapa kompetensi tersebut meliputi Teknik Mekatronika, Teknik Elektronika Industri, Teknik Otomasi Industri, Teknik Permesinan, Teknik Tenaga Kelistrikan, Teknik Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), hingga Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ).
Hal itu disampaikan Arie dalam webinar bertajuk “Menciptakan Masa Depan: Robotika sebagai Peluang Karier bagi Murid SMK” yang digelar di Jakarta Pusat, Jumat (17/7/2026).
“Kompetensi keahlian yang sudah dikembangkan di SMK menjadi modal penting. Namun, ke depan kompetensi tersebut tidak bisa lagi berdiri sendiri karena kita berada di era multi skill atau multidisiplin ilmu. Modal yang dimiliki SMK harus terus diperkuat agar selaras dengan perkembangan teknologi industri,” ujar Arie.
Meski demikian, Arie mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam pengembangan pendidikan robotika di SMK. Salah satunya adalah masih banyak sekolah yang belum memiliki laboratorium maupun peralatan robotika yang sesuai dengan standar industri.
Selain keterbatasan fasilitas, jumlah guru dan tenaga kependidikan yang memiliki pengalaman praktik kerja di bidang robotika juga masih relatif terbatas.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Kemendikdasmen terus berupaya memperkuat kualitas pembelajaran di SMK melalui peningkatan sarana dan prasarana, pengembangan kompetensi guru, serta penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan dunia industri.
Tidak hanya itu, kementerian juga memperluas kerja sama dengan berbagai mitra industri agar siswa SMK memperoleh pengalaman belajar langsung dari para praktisi sekaligus kesempatan mengikuti program magang di perusahaan yang bergerak di bidang robotika dan teknologi.
Menurut Arie, pembangunan ekosistem pendidikan vokasi tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan kolaborasi erat antara sekolah, dunia usaha, dan dunia industri.
“Kami menyadari bahwa membangun ekosistem pendidikan vokasi dan dunia usaha yang berkelanjutan bukan sekadar program, melainkan sebuah gerakan bersama. SMK harus adaptif, industri harus kolaboratif, dan pemerintah harus memberikan dukungan penuh,” katanya.
Kemendikdasmen berharap penguatan kompetensi di bidang robotika dapat meningkatkan daya saing lulusan SMK sehingga mampu memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil di era transformasi digital dan revolusi industri yang terus berkembang.











