Menu

Mode Gelap

Nasional · 10 Okt 2025 19:48 WITA

Ketua MK Soroti Pasal Jabatan Sipil TNI, Pertanyakan Peran Panglima dalam Penentuan Karier Prajurit


 Ketua MK Soroti Pasal Jabatan Sipil TNI, Pertanyakan Peran Panglima dalam Penentuan Karier Prajurit Perbesar

SOALINDONESIA–JAKARTA Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Suhartoyo, menyoroti Pasal 47 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025 tentang Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dinilainya berpotensi membuka celah Panglima TNI ikut campur dalam penentuan jabatan sipil yang diduduki prajurit, meski sudah tidak aktif.

Sorotan ini disampaikan Suhartoyo dalam sidang lanjutan perkara pengujian konstitusionalitas UU TNI dengan nomor 68, 82, dan 92/PUU-XXII/2025, yang digelar pada Kamis, 9 Oktober 2025, di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta.

Pasal Dipersoalkan Terkait Supremasi Sipil

Perkara ini diajukan oleh sejumlah pemohon yang mempersoalkan Pasal 47 Ayat (2) UU TNI, yang mengatur jabatan sipil yang dapat diduduki prajurit setelah pensiun atau mengundurkan diri. Pemohon menilai pasal tersebut multitafsir dan berpotensi melemahkan prinsip supremasi sipil dalam sistem demokrasi Indonesia.

Dalam sidang, Suhartoyo menyoroti adanya kontradiksi antara ayat 1, 2, dan 3 dengan Pasal 5 dalam UU tersebut. Secara spesifik, ia mempertanyakan bagaimana mungkin Panglima TNI masih melakukan pembinaan karier terhadap prajurit yang sudah tidak aktif.

READ  DPR Setujui Anggaran Kemendagri 2026 Sebesar Rp 7,8 Triliun

“Bagaimana Panglima masih cawe-cawe, kalau syarat untuk menduduki jabatan tertentu adalah harus mengundurkan diri atau tidak aktif lagi? Ini ada semacam contradictio in terminis di antara beberapa ayat ini kalau kita runut dari ayat (1) sampai ayat (5),” kata Suhartoyo dalam persidangan.

“Di satu sisi syarat harus mundur, tapi di sisi lain pembinaan dan karier masih ditangani oleh Panglima. Ini yang menimbulkan kekhawatiran publik soal apakah supremasi sipil benar-benar dijaga,” sambungnya.

DPR Menilai Kekhawatiran Berlebihan

Menanggapi hal itu, Ketua Komisi I DPR RI, Utut Adianto, yang hadir mewakili DPR dalam sidang tersebut, menjelaskan bahwa anggota TNI yang menjabat di luar 14 kementerian/lembaga memang harus mundur dan tidak bisa lagi kembali ke institusi TNI.

READ  Kasad Tegaskan Tidak Lindungi Prajurit, Kopda FH dan Serka N Kopassus Ditahan Terkait Kasus Pembunuhan Kacab Bank

Namun, menurut Utut, dalam konteks jabatan sipil yang berada dalam kerangka penugasan TNI aktif, Panglima masih memiliki wewenang menilai, karena status keaktifan tetap berlaku dalam struktur militer.

“Memang kenaikan pangkat dan penilaian awal berasal dari Panglima karena dia masih aktif, tetapi jika penilaiannya berasal dari menteri/lembaga tempat dia bertugas, maka unsur sipil tetap dominan,” jelas Utut.

“Kekhawatiran bahwa supremasi sipil dilemahkan saya rasa terlalu berlebihan. Dalam praktiknya, jabatan sipil yang bisa diduduki sudah sangat dibatasi dan tunduk pada regulasi ketat,” lanjutnya.

Sidang Dilanjutkan: Pihak TNI Akan Hadir

Setelah mendengar penjelasan dari DPR dan Pemerintah — yang diwakili oleh Wakil Menteri Hukum dan HAM, Edward OS Hiariej — MK menjadwalkan lanjutan sidang pada Kamis, 23 Oktober 2025, pukul 10.30 WIB.

Agenda sidang berikutnya adalah mendengarkan keterangan dari pihak Terkait, termasuk dari TNI, Panglima TNI, dan ahli yang diajukan oleh Pemohon Perkara Nomor 68.

READ  BGN Hentikan Sementara 47 SPPG hingga Hari ke-9 Ramadhan, Temukan Menu MBG Tak Layak Konsum

Latar Belakang Pasal 47 dan Kekhawatiran Publik

Pasal 47 Ayat (2) UU TNI menyebutkan bahwa jabatan sipil hanya dapat diduduki oleh prajurit yang pensiun atau telah mengundurkan diri, namun masih mengandung klausul yang memberi ruang pada pembinaan karier oleh institusi militer. Hal ini memicu kekhawatiran publik terkait netralitas TNI dan potensi campur tangan militer dalam urusan sipil.

Pasal 5 dari UU yang sama, yang menyebut bahwa pembinaan karier dilakukan oleh Panglima, dinilai bertentangan dengan semangat pasal 47 dan berpotensi membuka celah inkonsistensi hukum.

Pentingnya Pengujian Konstitusionalitas

Perkara ini menjadi sorotan publik dan akademisi karena menyangkut isu fundamental dalam demokrasi, yaitu supremasi sipil atas militer. Mahkamah Konstitusi diharapkan dapat memberi tafsir konstitusional yang jelas terhadap pasal-pasal tersebut agar tidak disalahgunakan di masa depan.

Artikel ini telah dibaca 10 kali

Baca Lainnya

Di Tengah Perbedaan, Willem Wandik dan Elisabeth Flassy Hadir Membawa Kebahagiaan Idul Adha bagi Umat Muslim Tolikara

30 Mei 2026 - 15:23 WITA

Elisabeth Y. Flassy Wandik Menembus Pelosok Douw, Membawa Harapan bagi Generasi Emas Papua Pegunungan,”

30 Mei 2026 - 13:03 WITA

Dari Padangloang ke Baitullah, Hj Hasna Apae Menutup Perjalanan Hidupnya dengan Gelar Haji,TA Menag RI Sampaikan Belasungkawa

29 Mei 2026 - 20:41 WITA

Bupati Tolikara Salurkan Bantuan Hewan Qurban di Masjid Raya Tolikara dan Kota Jayapura

27 Mei 2026 - 12:11 WITA

WW Foundation Salurkan 2 Ekor Sapi Qurban di Hari Raya Idul Adha 1447 H

26 Mei 2026 - 21:44 WITA

Willem Wandik: Momentum Hari Kebangkitan Nasional Jadi Energi Baru Pembangunan Papua Pegunungan

20 Mei 2026 - 12:52 WITA

Trending di Nasional