Menu

Mode Gelap

News · 28 Nov 2025 21:02 WITA

Banjir Parah Landa Sumatera Barat, Sumut, dan Aceh: Tata Ruang Rusak Jadi Akar Masalah Terbesar


 Banjir Parah Landa Sumatera Barat, Sumut, dan Aceh: Tata Ruang Rusak Jadi Akar Masalah Terbesar Perbesar

SOALINDONESIA–JAKARTA Banjir besar yang melanda tiga provinsi di Sumatera—Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh—sejak 24 November 2025 memicu kerusakan luas, menenggelamkan permukiman, memutus akses jalan, dan menelan korban jiwa.

Bencana yang disebut sebagai salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir itu dipicu hujan ekstrem berkepanjangan, namun para ahli menegaskan penyebabnya jauh lebih kompleks.

Pengamat tata ruang sekaligus Guru Besar arsitektur konservasi, Prof. Putu Rumawan Salain, menyatakan banjir dan longsor yang menimpa tiga provinsi tersebut bukan sekadar fenomena alam semata.

“Menurut saya setidaknya ada beberapa faktor lainnya selain cuaca yang berdampak banjir,” kata Putu Rumawan saat dihubungi Wartawan, Jumat (28/11/2025).

Kerusakan Tata Ruang Jadi Faktor Penguat

Menurutnya, banjir yang terjadi merupakan akumulasi dari rangkaian persoalan struktural yang terjadi selama bertahun-tahun. Perubahan fungsi lahan, pembangunan masif di daerah hulu, hilangnya area resapan, hingga rusaknya jaringan irigasi menjadi pemicu yang saling berkaitan.

Putu menilai kawasan hulu di banyak wilayah Sumatera telah mengalami degradasi ekologis serius. Penebangan liar, konversi hutan menjadi lahan perkebunan, hingga kegiatan tambang membuat daya serap tanah menurun drastis.

READ  Kepala BNPB Minta Maaf ke Bupati Tapsel: Akui Salah Nilai Skala Banjir dan Longsor

Tak hanya itu, persoalan sampah yang menumpuk di sungai, pendangkalan aliran, hingga sempadan sungai yang dilanggar semakin memperburuk kondisi. Di wilayah perkotaan, halaman rumah yang dipenuhi perkerasan, drainase yang tidak terhubung saluran kota, serta saluran kota yang tidak rutin dibersihkan menambah panjang daftar masalah.

“Saya duga tidak konsistennya pelaksanaan tata ruang dan tata bangunan serta perlakuan terhadap hutan dan lingkungan adalah akar persoalan terbesar,” tegasnya.

Video Gelondongan Kayu Terbawa Arus Picu Dugaan Kerusakan Hulu

Salah satu fenomena yang menyorot perhatian adalah video viral gelondongan kayu besar yang terseret arus banjir di Sungai Batangtoru, Sumatera Utara. Arus cokelat pekat membawa batang-batang kayu berdiameter besar meluncur deras ke hilir.

Menurut Putu Rumawan, temuan kayu gelondongan ini merupakan indikasi kuat adanya aktivitas pembukaan hutan.

READ  Banjir di Kemang Belum Surut, Petugas Damkar Evakuasi Karyawan dan Kendaraan Warga hingga Malam

“Jika ditemukan gelondongan kayu hanyut di sungai pastilah hanyut dari hutan di kawasan hulu,” ujarnya.

Ia menguraikan tiga kemungkinan besar penyebab munculnya kayu-kayu tersebut:

1. Pembalakan hutan untuk kebutuhan industri kayu.

2. Penebangan untuk ekspansi perkebunan sawit atau tambang.

3. Longsor akibat hilangnya vegetasi penahan tanah di lereng-lereng curam.

Kayu-kayu besar yang terbawa banjir juga menjadi ancaman tambahan. Ketika tersangkut di jembatan atau tikungan sungai, material kayu dapat menyumbat aliran dan mempercepat meluapnya air.

Pertumbuhan Kota Tak Terkendali Perparah Dampak

Di wilayah dataran rendah dan perkotaan, perkembangan kota yang tidak diimbangi dengan perencanaan infrastruktur turut menambah risiko. Putu menjelaskan bahwa kawasan landai cenderung menerima limpahan air dari hulu. Ketika aliran sungai meluap atau tersumbat, air akan menggenangi satu wilayah selama berhari-hari.

“Perkembangan kota ikut menyumbang terjadinya banjir. Banjir adalah limpahan air hujan yang mengalir ke sungai dan karena ada sumbatan-sumbatan akhirnya air dengan liar ke mana-mana,” kata Putu.

READ  Anggota Polri Tewas Jadi Korban Tabrak Lari di Buleleng, Bali

Kondisi semakin buruk ketika banjir terjadi pada saat air laut pasang. Aliran sungai menuju laut terhambat, sehingga debit air dari hulu tidak dapat mengalir dengan optimal.

“Jika air di pantai sedang pasang maka akan ikut menghambat kelancaran air sungai,” jelasnya.

Kerusakan Meluas, Pemulihan Diperkirakan Lama

Sejumlah wilayah di tiga provinsi masih terisolasi akibat jalan yang putus dan jembatan yang rusak. Ribuan warga mengungsi, sementara proses evakuasi dan distribusi bantuan terkendala medan berat dan cuaca yang belum sepenuhnya membaik.

Hingga kini, pemerintah daerah bersama BNPB, TNI, Polri, dan relawan terus melakukan penanganan darurat di titik-titik paling terdampak.

Prof. Putu Rumawan menekankan perlunya langkah korektif besar-besaran setelah situasi darurat teratasi.

Menurutnya, tanpa pembenahan tata ruang dari hulu ke hilir—termasuk penegakan hukum di kawasan hutan dan sempadan sungai—bencana serupa hanya tinggal menunggu waktu.

Artikel ini telah dibaca 4 kali

Baca Lainnya

Sinkhole di Limapuluh Kota Keluarkan Air Jernih Kebiruan, Ahli Ungkap Penyebabnya

10 Januari 2026 - 11:59 WITA

BREAKING NEWS: KPK OTT Pegawai Pajak Kantor Pajak Jakarta Utara

10 Januari 2026 - 11:31 WITA

Kematian Arya Daru Dihentikan Polisi, Keluarga Pertanyakan Transparansi Penyelidikan

10 Januari 2026 - 11:19 WITA

Kejati Sulsel Tangkap Jaksa Gadungan dan Oknum PPPK BPBPK dalam OTT

10 Januari 2026 - 11:10 WITA

Mantan Kajari Bekasi Eddy Sumarman Diperiksa KPK Terkait Kasus Suap Ijon Proyek Bupati Ade Kuswara

9 Januari 2026 - 23:41 WITA

KPK Dalami Aliran Uang dari Ade Kuswara Kunang ke Wakil Ketua DPRD Bekasi

9 Januari 2026 - 22:54 WITA

Trending di News