soalindonesia–Surakarta – Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Yusharto Huntoyungo menekankan pentingnya hilirisasi riset sebagai kunci penguatan inovasi di daerah. Menurutnya, hasil penelitian perguruan tinggi seharusnya tidak berhenti sebagai laporan akademik, melainkan dapat diterapkan menjadi inovasi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Hilirisasi inovasi ini menjadikan pemerintah daerah diharapkan menjadi off taker dari inovasi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi. Dengan begitu, hasil riset dapat diterapkan menjadi inovasi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Yusharto, seperti dilansir Antara, dalam kegiatan Evaluasi dan Penguatan Inovasi Daerah Kota Surakarta.
Sinergi Perguruan Tinggi dan OPD
Yusharto menilai Surakarta memiliki potensi besar karena didukung keberadaan perguruan tinggi, seperti Universitas Sebelas Maret (UNS), serta lembaga riset yang konsisten menghasilkan penelitian berkualitas. Ia menekankan perlunya sinergi antara perangkat daerah dan perguruan tinggi agar riset dapat diadopsi menjadi solusi atas berbagai permasalahan layanan publik.
Setiap fakultas dan pusat kajian di perguruan tinggi, lanjutnya, memiliki potensi untuk berkolaborasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) sesuai urusan pemerintahan yang diampu.
Tantangan Pendanaan dan Budaya Inovasi
Yusharto juga menyoroti tantangan pendanaan inovasi yang masih terbatas, dengan anggaran riset Indonesia tercatat sekitar 0,24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan anggaran riset dinilai menjadi momentum penting bagi keberlanjutan inovasi.
Selain pendanaan dan hilirisasi, pembudayaan inovasi menjadi perhatian utama. Yusharto mengapresiasi langkah-langkah Kota Surakarta, seperti kompetisi inovasi, pemberian insentif, dan penguatan ekosistem inovasi yang mendorong keterlibatan seluruh pemangku kepentingan.
Inovasi Berkelanjutan
Yusharto menekankan bahwa inovasi daerah harus dilakukan secara berkelanjutan mengikuti prinsip kurva S, yakni pembaruan harus dimulai saat inovasi masih dalam fase pertumbuhan agar keberlanjutan inovasi terjaga.
“Dengan demikian, inovasi yang ada dapat terus dipertahankan dan diperbarui sehingga tidak sekadar tercatat secara administratif, tetapi benar-benar dapat diterima dan dimanfaatkan oleh masyarakat,” ujarnya.
Dengan capaian inovasi yang terus meningkat, Yusharto optimis Surakarta akan memperkuat perannya sebagai daerah terinovatif dan menjadi contoh praktik baik hilirisasi riset serta pemanfaatan inovasi perguruan tinggi untuk mendukung pembangunan daerah.
“Inovasi Kota Surakarta mengalami peningkatan di tahun 2025 menjadi daerah terinovatif. Saya berharap semangat berinovasi terus ada dan semakin baik membawa perubahan di Kota Surakarta,” tuturnya.











