Menu

Mode Gelap

Nasional · 7 Apr 2026 17:43 WITA

Jumat Agung 2026: Dari Tolikara, Willem Wandik Serukan Kemanusiaan di Tengah Dunia yang Terluka


 Screenshot Perbesar

Screenshot

SOAlINDONESIA—TOLIKARA — Di tengah dunia yang diliputi konflik, krisis, dan ketidakpastian, Bupati Tolikara, Willem Wandik, mengajak seluruh masyarakat untuk kembali pada nilai paling mendasar dalam kehidupan: kemanusiaan.

Pesan itu disampaikan dalam momentum peringatan Jumat Agung 2026—sebuah hari suci yang tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa iman, tetapi juga sebagai panggilan moral bagi seluruh umat manusia.

“Jumat Agung bukan sekadar sejarah iman, tetapi panggilan kemanusiaan—untuk memahami penderitaan, melihat pengorbanan, dan memperbarui cara kita hidup sebagai manusia,” demikian pesan yang disampaikan. 

Di tengah realitas global yang diwarnai konflik bersenjata, krisis energi, migrasi besar-besaran, hingga ancaman perubahan iklim, Wandik menilai dunia saat ini sedang berada dalam fase kegelisahan yang serius. Namun, ia menegaskan bahwa iman tidak boleh kehilangan arah.

“Di tengah kegelapan, selalu ada harapan. Di tengah penderitaan, selalu ada jalan pemulihan,” pesannya. 

READ  Dari Hal Kecil Tumbuh Harapan Besar: Kepedulian Willem Wandik terhadap Kreativitas Warga Tolikara

Papua dan “Salib Kehidupan” yang Nyata

Jika dunia sedang bergejolak, maka Tanah Papua—termasuk Tolikara—juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Dari persoalan keamanan, pengungsian masyarakat, keterbatasan layanan dasar, hingga tekanan ekonomi, semuanya menjadi bagian dari realitas yang disebut Wandik sebagai “salib kehidupan” masyarakat Papua hari ini. 

Namun di situlah makna iman diuji. Bagi Wandik, salib bukanlah akhir, melainkan jalan menuju kebangkitan.

Ia mengingatkan bahwa kekuatan sejati tidak lahir dari kekuasaan atau kekerasan, tetapi dari nilai-nilai universal yang diajarkan oleh pengorbanan Kristus: kasih, pengampunan, kerendahan hati, dan kepedulian terhadap sesama.

Seruan Menghentikan Kekerasan, Menguatkan Persatuan

Dalam konteks lokal, Bupati Tolikara menyerukan langkah konkret untuk membangun kemanusiaan yang lebih bermartabat:

  • Menghentikan segala bentuk kekerasan
  • Menolak kebencian dan perpecahan
  • Menjaga persatuan di tengah perbedaan
  • Melindungi kehidupan dan martabat manusia
  • Menguatkan solidaritas sosial
READ  Istana Respons Putusan MK Larangan Wamen Rangkap Jabatan, Singgung Pembenahan Danantara

Baginya, pembangunan tidak cukup hanya membangun infrastruktur. Pembangunan sejati adalah membangun hati manusia.

“Perdamaian tidak lahir dari kekuatan senjata, tetapi dari kekuatan hati yang mau saling memahami,” tegasnya. 

Komitmen Pemerintah: Hadir untuk Kemanusiaan

Lebih jauh, Pemerintah Kabupaten Tolikara menegaskan komitmennya untuk menghadirkan kebijakan yang berorientasi pada kemanusiaan:

  • Memperkuat nilai religius dan kehidupan sosial
  • Menjaga keamanan dengan pendekatan humanis
  • Meningkatkan layanan kesehatan dan pendidikan, terutama di wilayah terpencil
  • Melindungi kelompok rentan seperti perempuan, anak, dan lansia
  • Mendorong pembangunan yang merata hingga pelosok
  • Membangun dialog dan rekonsiliasi sebagai jalan menuju perdamaian

Langkah-langkah ini diyakini sebagai fondasi untuk menciptakan Tolikara yang lebih damai, adil, dan bermartabat.

Refleksi: Kemanusiaan Dimulai dari Hal Sederhana

Dalam pesannya, Wandik juga menekankan bahwa pengorbanan bukan hanya milik tokoh besar, tetapi hidup dalam keseharian masyarakat:

READ  Presiden Prabowo Pastikan Inventarisasi Kerusakan di Sumatra, Pemerintah Fokus Pulihkan Kondisi Pasca Banjir Bandang

Seorang ibu yang berjuang untuk anaknya,

guru yang mengajar di daerah terpencil,

tenaga kesehatan yang melayani tanpa lelah,

hingga petani yang bekerja demi keluarga—

semuanya adalah wujud nyata kemanusiaan.

Ia pun mengajak masyarakat untuk melakukan refleksi: apakah kita sudah hidup sebagai manusia yang saling mengasihi, menghormati, dan membawa damai?

Karena, menurutnya, perubahan besar tidak dimulai dari tempat jauh—melainkan dari hati manusia itu sendiri.

Harapan dari Tolikara untuk Dunia

Menutup pesannya, Bupati Tolikara mengajak seluruh masyarakat menjadikan Jumat Agung sebagai momentum memperkuat iman, memperluas kasih, dan menjaga persatuan.

Sebuah pesan sederhana namun kuat:

Kasih lebih kuat dari kebencian.

Pengampunan lebih kuat dari dendam.

Dan harapan lebih kuat dari ketakutan. 

Dari Tolikara, pesan itu menggema—bahwa di tengah amarah dan peperangan, kemanusiaan tetap harus menjadi jalan utama.

 

Artikel ini telah dibaca 2 kali

Baca Lainnya

Menag Nasaruddin Umar di Haul Pendiri Tremas: Teladani Ulama, Hidupkan Doa untuk yang Telah Wafat

17 April 2026 - 14:07 WITA

Bupati Tolikara Willem Wandik Teken Hibah untuk BP Calon Wilayah Kembu, Perkuat Pelayanan Rohani

17 April 2026 - 00:41 WITA

Halal Bihalal MUI: Menag Nasaruddin Umar Serukan Persatuan Ulama dan Negara Demi Indonesia Damai

15 April 2026 - 22:27 WITA

Tausiah Menag RI Prof. H. Nasaruddin Umar di Halal Bi Halal DWP Kemenag Sarat Makna: Belajar dari Keteguhan dan Ujian Iman

15 April 2026 - 13:20 WITA

Menteri ESDM Dampingi Presiden Prabowo ke Moskow, Perkuat Diplomasi Energi Indonesia–Rusia

13 April 2026 - 14:25 WITA

Mendagri Tito Karnavian Usulkan Perpanjangan Dana Otsus Aceh hingga Pasca-2027

13 April 2026 - 14:03 WITA

Trending di Nasional