SOAlINDONESIA—SIDRAP – Program pemberdayaan masjid yang digagas oleh Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, terus menunjukkan dampak nyata di berbagai daerah. Di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), program ini bahkan telah melampaui ekspektasi, tidak hanya sebatas penguatan fungsi ibadah, tetapi juga menyentuh aspek kesejahteraan umat.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh jajaran pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sidrap bersama pimpinan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam saat menemui Tenaga Ahli Menteri Agama RI, Bunyamin M Yapid, di sela-sela agenda pelepasan jamaah haji di daerah tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, para tokoh agama melaporkan bahwa implementasi program pemberdayaan masjid di Sidrap telah berjalan optimal. Bahkan, menurut mereka, program tersebut telah berkembang jauh dari konsep awal.
“Program ini tidak hanya sebatas pemberdayaan biasa. Di Sidrap, sudah sampai pada tahap meningkatkan kesejahteraan umat, termasuk imam dan pengurus masjid,” ungkap salah satu perwakilan MUI.
Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh jajaran pimpinan MUI Kabupaten Sidrap, di antaranya Ketua MUI Sidrap, Abdul Malik Tibe, bersama sekretaris serta para pengurus lainnya. Kehadiran mereka memperkuat komitmen kolektif dalam mendukung implementasi program pemberdayaan masjid yang tengah berjalan.
Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat kebersamaan di Villa Annur yang berlokasi di kawasan BTN Batu Lappa, Sidrap. Diskusi yang terbangun tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga diwarnai dengan pertukaran gagasan strategis terkait penguatan peran masjid sebagai pusat pembinaan umat dan pemberdayaan sosial-keagamaan di tingkat lokal.
Masjid sebagai Pusat Peradaban Umat
Dalam penjabaran program, konsep besar yang diusung Kementerian Agama adalah mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat peradaban. Tidak hanya menjadi tempat ibadah ritual, tetapi juga ruang produktif bagi umat.
Tenaga Ahli Menag RI, Bunyamin M Yapid, menegaskan bahwa masjid memiliki potensi besar sebagai pusat solusi sosial dan keagamaan di tengah masyarakat.
“Masjid harus hidup. Bukan hanya untuk shalat, tetapi juga menjadi tempat diskusi, pembinaan umat, hingga penyelesaian persoalan sosial-keagamaan,” ujarnya.
Menurutnya, program pemberdayaan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari peningkatan kapasitas imam, penguatan manajemen masjid, hingga pengembangan ekonomi berbasis jamaah.
Kampanye Program hingga Daerah
Bunyamin juga dikenal aktif mengkampanyekan program-program strategis Menteri Agama hingga ke tingkat kabupaten/kota. Ia menilai keberhasilan program sangat bergantung pada keterlibatan langsung masyarakat dan tokoh agama di daerah.
“Program ini tidak bisa hanya berhenti di pusat. Harus dibumikan hingga ke daerah agar manfaatnya benar-benar dirasakan umat,” jelasnya.
Pendekatan ini terbukti efektif di Sidrap, di mana sinergi antara pemerintah, MUI, dan ormas Islam berjalan harmonis dalam mengembangkan fungsi masjid.
Peran Strategis Imam Masjid
Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar, yang juga memiliki kedekatan dengan komunitas imam sebagai bagian dari Ikatan Imam Masjid Indonesia, dinilai sangat memahami peran strategis seorang imam.
Dalam berbagai kesempatan, Menag menegaskan bahwa imam tidak hanya berfungsi sebagai pemimpin ibadah, tetapi juga sebagai figur pembimbing umat dalam kehidupan sosial.
“Imam adalah pemimpin moral di tengah masyarakat. Karena itu, kesejahteraan dan kapasitas mereka harus diperhatikan,” menjadi salah satu pesan utama dalam program tersebut.
Menuju Kesejahteraan Berbasis Masjid
Keberhasilan program di Sidrap menjadi contoh konkret bagaimana masjid dapat menjadi pusat pemberdayaan umat secara menyeluruh. Dari peningkatan kualitas keagamaan hingga penguatan ekonomi jamaah, semuanya terintegrasi dalam satu ekosistem berbasis masjid.
Para pimpinan MUI dan ormas berharap model ini dapat direplikasi di daerah lain di Indonesia, sehingga masjid benar-benar menjadi pusat kemajuan umat, bukan hanya simbol spiritual semata.
Momentum pertemuan di Villa Annur ini sekaligus menjadi bukti kuat bahwa kolaborasi antara ulama, ormas, dan pemerintah mampu menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat, dengan masjid sebagai titik sentral pembangunan umat.











