Soalindonesia–KEDIRI – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong peningkatan produksi benih jagung berkualitas pangan guna memenuhi kebutuhan industri dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Ladiyani Retno Widowati, mengatakan pemerintah berkomitmen memperkuat produksi jagung pangan karena hingga saat ini sebagian kebutuhan industri masih dipenuhi melalui impor.
Hal tersebut disampaikan Ladiyani di sela pelepasan pengiriman 200 ton jagung kualitas pangan atau jagung industri oleh Asosiasi Benih Nusantara (Asbenas) di Desa Bangkok, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Selasa (30/6/2026).
Menurutnya, impor jagung untuk kebutuhan industri pangan yang sebelumnya mencapai sekitar 1,4 juta ton kini berhasil ditekan menjadi sekitar 800 ribu ton.
Namun demikian, pemerintah menargetkan penurunan impor terus berlanjut melalui peningkatan produksi dalam negeri.
“Untuk jagung pangan itu kan selama ini impor dan sudah diturunkan jumlahnya. Pak Menteri ingin kita jangan tergantung pada luar negeri, harus waspada untuk jagung pangan,” kata Ladiyani.
Perkuat Sinergi dengan Produsen Benih
Ladiyani menjelaskan, Kementerian Pertanian terus memperkuat koordinasi dengan produsen benih, perusahaan pengguna hasil panen, hingga lembaga pengujian mutu agar produksi jagung pangan nasional semakin berkualitas.
Sinergi tersebut dinilai penting untuk memastikan seluruh rantai produksi berjalan sesuai standar sehingga mampu menghasilkan benih unggul yang memenuhi kebutuhan industri pangan.
Menurutnya, Indonesia saat ini telah memiliki banyak benih jagung yang tersertifikasi sehingga kualitasnya telah teruji sesuai standar nasional.
Selain itu, keberagaman varietas juga memberikan lebih banyak pilihan bagi petani dalam menyesuaikan jenis jagung dengan kebutuhan pasar.
“Ada segmen. Manfaat produk jagung untuk pakan ternak umumnya untuk pakan ayam dan ada juga yang untuk pangan. Untuk pangan produknya misalnya dibikin untuk crackers, tepung jagung, tapioka, jadi pilihannya tergantung mau seperti apa. Karena jagung pangan ini memang dia agak lebih tinggi standarnya,” jelasnya.
Swasembada Jagung Pakan, Jagung Pangan Terus Digenjot
Ladiyani mengungkapkan Indonesia saat ini telah mencapai swasembada untuk kebutuhan jagung pakan ternak.
Sementara itu, produksi jagung khusus untuk kebutuhan pangan masih terus ditingkatkan karena memiliki persyaratan kualitas yang lebih tinggi dibandingkan jagung pakan.
Saat ini, kebutuhan jagung pangan nasional baru mampu dipenuhi sekitar 30 persen dari produksi dalam negeri.
Karena itu, pemerintah terus mendorong perluasan budidaya jagung pangan agar mampu memenuhi kebutuhan industri secara bertahap.
“Kalau untuk pakan itu sudah ibaratnya sudah swasembada, sudah terpenuhi. Nah, yang untuk pangan ini karena syaratnya agak lebih tinggi, sekarang ini baru terpenuhi kurang lebih sekitar 30 persen. Jadi 70 persen kami masih mendorong terus, supaya pertanaman khusus untuk pangan ini lebih diperhatikan,” ujarnya.
Ratusan Varietas Benih Tersertifikasi
Kementerian Pertanian mencatat hingga saat ini terdapat 396 varietas benih jagung hibrida yang telah tersertifikasi dan dilepas sejak tahun 1985.
Dari jumlah tersebut, 234 varietas memiliki kandungan karbohidrat lebih dari 70 persen sehingga dinilai sesuai untuk kebutuhan industri pangan.
Sementara itu, stok benih jagung nasional saat ini mencapai 49.350 ton, dengan sekitar 48.056 ton berada di Jawa Timur yang menjadi salah satu pusat produksi benih nasional.
Benih jagung tersebut didistribusikan ke berbagai daerah sentra produksi jagung, seperti Nusa Tenggara Barat (NTB), Gorontalo, Sumatera, Kalimantan Selatan, hingga Lampung.
Pemerintah Berikan Benih Gratis kepada Petani
Selain memperkuat produksi benih, pemerintah juga terus mendukung peningkatan budidaya jagung melalui penyaluran bantuan benih unggul secara gratis kepada petani.
Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan penggunaan benih berkualitas di tingkat petani sehingga produktivitas jagung nasional terus meningkat, sekaligus mempercepat upaya mewujudkan kemandirian pangan dan mengurangi ketergantungan terhadap impor jagung untuk kebutuhan industri pangan.











