Menu

Mode Gelap

News · 3 Nov 2025 23:36 WITA

BNPB Minta Warga Jawa Tengah Waspadai Cuaca Ekstrem hingga Awal Tahun 2026


 BNPB Minta Warga Jawa Tengah Waspadai Cuaca Ekstrem hingga Awal Tahun 2026 Perbesar

SOALINDONESIA–SEMARANG Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah Jawa Tengah (Jateng), untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan akan berlangsung hingga awal tahun 2026. Cuaca ekstrem tersebut dikhawatirkan dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan angin kencang.

Kepala BNPB Suharyanto menyampaikan hal itu saat meninjau Kolam Retensi Terboyo di Kota Semarang, Senin (3/11/2025). Peninjauan dilakukan untuk memastikan langkah-langkah penanganan banjir di wilayah tersebut yang sempat terjadi selama lebih dari sepekan.

“Dari BMKG, curah hujan ini akan berlangsung cukup masif untuk Jawa Tengah sampai dengan awal tahun 2026,” ujar Suharyanto, dikutip dari Antara.

Menurutnya, hasil koordinasi terpadu antara BNPB dan berbagai instansi terkait menunjukkan bahwa banjir yang melanda Semarang pada Oktober lalu disebabkan oleh curah hujan ekstrem pada dasarian kedua bulan tersebut.

“Alhamdulillah, kondisi sekarang sudah jauh lebih baik. Meski masih ada sedikit genangan, dua-tiga hari ke depan kita pastikan semuanya kering dan terkendali,” ucapnya.

READ  Nadiem Makarim Masih Jalani Pembantaran di RS Usai Operasi Ambeien, Status Tahanan Tetap Berlaku

Potensi Cuaca Ekstrem Masih Tinggi

BNPB mengacu pada data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan intensitas hujan tinggi masih akan terjadi pada November–Desember 2025 hingga awal 2026.

“Sudah ketemu pemicu dan penyebabnya. Penyebabnya tentu saja adalah curah hujan yang cukup ekstrem. Kita harus melaksanakan mitigasi dan pencegahan,” jelas Suharyanto.

Ia menegaskan, mitigasi dan peningkatan kapasitas kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama untuk menekan risiko bencana. BNPB mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat sistem pengendalian air dan memperbaiki tata kelola drainase di wilayah rawan banjir.

Langkah Mitigasi dan Operasi Modifikasi Cuaca

Sebagai langkah mitigasi jangka pendek dan menengah, BNPB telah mengerahkan operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah Jawa Tengah.

“Untuk Jawa Tengah, kita kerahkan kekuatan penuh. Ada dua pesawat yang terus 1×24 jam melaksanakan reduksi awan-awan hujan yang berpotensi menimbulkan hujan lebat,” kata Suharyanto.

Dengan upaya tersebut, BNPB berharap curah hujan ekstrem dapat dikurangi dan potensi banjir besar di Semarang maupun daerah sekitarnya bisa dihindari. Selain itu, di sektor darat, telah disiapkan pompa air tambahan dari BNPB, pemerintah provinsi, dan Pemerintah Kota Semarang.

READ  Gempa 3,8 Magnitudo Guncang Sukabumi, 5 Rumah Rusak di Desa Cipeteuy

“Di bawah sudah ada rencana besar untuk pengendalian banjir, tapi memang belum selesai, baru sekitar 40 persen dari Kementerian PUPR. Jadi ada beberapa titik rawan yang baru ketahuan setelah terjadi banjir,” ujarnya.

BMKG Imbau Waspada di Jateng Bagian Selatan

Sebelumnya, BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat hingga sangat lebat disertai petir pada 2–4 November 2025 di wilayah Jawa Tengah bagian selatan, termasuk Cilacap dan Banyumas.

“Wilayah Jateng bagian selatan berpotensi dilanda hujan lebat hingga sangat lebat disertai petir. Kondisi atmosfer saat ini menunjukkan dinamika yang cukup aktif,” ujar Teguh Wardoyo, Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Cilacap.

Menurutnya, kondisi tersebut dipicu oleh sejumlah faktor meteorologis, seperti Indeks Dipole Mode (DMI) negatif sebesar -1,61, yang memicu peningkatan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia barat. Selain itu, fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) yang berada di fase lima (Maritime Continent) turut memperkuat potensi hujan di wilayah Jawa.

READ  Kapolri Dalami Motif Ledakan di SMAN 72, Terduga Pelaku Terkait Tulisan Radikal

“Bersamaan dengan itu, suhu muka laut di perairan selatan Jawa hingga Laut Jawa mengalami anomali hangat antara 0,5 hingga 3,4 derajat Celcius. Ini meningkatkan penguapan dan pasokan uap air untuk pembentukan awan hujan,” jelas Teguh.

BMKG mengimbau masyarakat untuk selalu memperbarui informasi cuaca dan segera mengambil langkah antisipatif terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan angin kencang.

“Kami akan terus memantau perkembangan cuaca dan menyampaikan peringatan dini melalui kanal resmi agar masyarakat dapat melakukan langkah antisipasi lebih dini,” tandas Teguh.

Kesiapsiagaan Kolektif

BNPB menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor, termasuk pemerintah daerah, TNI/Polri, serta masyarakat dalam menghadapi periode cuaca ekstrem ini.

“Dengan kesiapsiagaan bersama, kita bisa mengurangi dampak bencana dan mempercepat pemulihan jika terjadi kejadian serupa,” tutup Suharyanto.

Artikel ini telah dibaca 7 kali

Baca Lainnya

Sinkhole di Limapuluh Kota Keluarkan Air Jernih Kebiruan, Ahli Ungkap Penyebabnya

10 Januari 2026 - 11:59 WITA

BREAKING NEWS: KPK OTT Pegawai Pajak Kantor Pajak Jakarta Utara

10 Januari 2026 - 11:31 WITA

Kematian Arya Daru Dihentikan Polisi, Keluarga Pertanyakan Transparansi Penyelidikan

10 Januari 2026 - 11:19 WITA

Kejati Sulsel Tangkap Jaksa Gadungan dan Oknum PPPK BPBPK dalam OTT

10 Januari 2026 - 11:10 WITA

Mantan Kajari Bekasi Eddy Sumarman Diperiksa KPK Terkait Kasus Suap Ijon Proyek Bupati Ade Kuswara

9 Januari 2026 - 23:41 WITA

KPK Dalami Aliran Uang dari Ade Kuswara Kunang ke Wakil Ketua DPRD Bekasi

9 Januari 2026 - 22:54 WITA

Trending di News