Menu

Mode Gelap

Nasional · 25 Okt 2025 13:31 WITA

Industri Tekstil Bangkit, Menperin Agus Gumiwang: Tak Lagi ‘Sunset Industry’ di Era Pemerintahan Prabowo


 Industri Tekstil Bangkit, Menperin Agus Gumiwang: Tak Lagi ‘Sunset Industry’ di Era Pemerintahan Prabowo Perbesar

SOALINDONESIA–YOGYAKARTA Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional kini kembali bangkit dan tidak lagi berstatus sebagai “sunset industry”, atau industri yang mengalami kemunduran. Menurut Agus, kebangkitan sektor ini terlihat jelas sepanjang satu tahun terakhir.

“Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) terus tumbuh dan tidak lagi berstatus ‘sunset industry’,” ujar Agus saat membuka konferensi tahunan International Textile Manufacturers Federation (ITMF) dan International Apparel Federation (IAF) World Fashion Convention 2025 di Yogyakarta, dikutip Sabtu (25/10).

Pertumbuhan Signifikan di Tahun Pertama Pemerintahan Prabowo

Agus mengungkapkan bahwa sejak triwulan IV 2024 hingga triwulan II 2025, industri TPT nasional tumbuh sebesar 5,39 persen, dengan kontribusi 0,98 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Pertumbuhan ini, lanjutnya, menjadi sinyal positif bagi sektor manufaktur Indonesia yang kembali menunjukkan daya saing kuat setelah sempat terdampak pandemi dan perlambatan global.

READ  Presiden Prabowo: Indonesia Masih Kuat Berdiri, Saatnya Wujudkan Kemakmuran Rakyat

“Pemerintah berupaya menjaga momentum pertumbuhan ini melalui kebijakan yang memperkuat daya saing dan menarik investasi baru di sektor padat karya,” jelas Agus.

Kebijakan Pemerintah Dorong Modernisasi dan Investasi

Menperin menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menopang industri TPT agar tetap kompetitif di tingkat global.

Beberapa kebijakan yang dijalankan antara lain:

Penyederhanaan perizinan investasi berbasis risiko sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025.

Program restrukturisasi mesin dan peralatan industri untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi energi.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, program restrukturisasi tersebut telah meningkatkan kapasitas produksi sebesar 21,75 persen, efisiensi energi 11,86 persen, serta membuka lapangan kerja hingga 3,96 persen.

Selain itu, pemerintah juga menyalurkan Kredit Industri Padat Karya dengan total anggaran mencapai Rp 20 triliun pada tahun 2025. Skema pembiayaan ini ditujukan untuk 2.000 hingga 10.000 perusahaan tekstil dan apparel, guna memperluas ekspansi bisnis sekaligus menjaga stabilitas penyerapan tenaga kerja.

READ  Menkeu Purbaya Nilai Dua Wamen Cukup, Ambil Alih Tugas Eks Wamenkeu Anggito: 'Irit Gaji'

“Dalam kondisi ini, industri TPT tetap menjadi pilar strategis dari basis manufaktur industri nasional, serta berperan penting dalam menjaga pertumbuhan yang inklusif, menciptakan lapangan kerja, dan menopang kehidupan negeri ini,” tutur Agus.

Insentif Fiskal dan Fasilitas Penunjang

Selain dukungan pembiayaan, pemerintah juga memberikan fasilitas masterlist impor barang modal dan beragam insentif fiskal seperti:

Tax holiday dan tax allowance

Investment allowance

Super deduction tax bagi perusahaan yang berinvestasi di bidang riset dan pendidikan vokasi

Kebijakan ini, menurut Agus, diharapkan memperkuat struktur industri nasional agar mampu bersaing secara berkelanjutan di pasar global.

Daya Saing Global Semakin Kuat

Kinerja ekspor tekstil Indonesia juga mencatatkan hasil menggembirakan, terutama di pasar Amerika Serikat. Produk tekstil dengan kode HS 61 (pakaian dan aksesori rajutan) menjadi komoditas surplus perdagangan terbesar kedua Indonesia dengan nilai USD 1,86 miliar, melampaui komoditas alas kaki (HS 64) yang mencapai USD 1,85 miliar.

READ  Mensos Gus Ipul Tinjau SRMP 14 Batu, Pastikan Pemenuhan Sarana Siswa dan Guru

Secara efisiensi biaya, Indonesia kini masuk lima besar produsen tekstil paling efisien di dunia.

Pemintalan benang: biaya produksi hanya USD 2,71 per kilogram, lebih efisien dibanding India, Tiongkok, dan Turki.

Pertenunan: biaya USD 8,84 per meter.

Fabric finishing: hanya USD 1,16 per meter, termasuk yang terendah secara global.

“Angka-angka tersebut merupakan bukti daya saing global Indonesia dan bisa menjadi fondasi yang kuat bagi pertumbuhan di masa mendatang,” ujar Agus optimistis.

Industri TPT Jadi Pilar Ekonomi Nasional

Dengan berbagai capaian tersebut, Agus menegaskan bahwa industri tekstil kini bukan lagi sektor yang ditinggalkan, melainkan pilar utama industri nasional yang menyerap jutaan tenaga kerja dan menopang ekspor nonmigas

“Kita ingin memastikan industri TPT terus menjadi motor penggerak ekonomi nasional yang berdaya saing tinggi, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 17 kali

Baca Lainnya

Menag Nasaruddin Umar di Haul Pendiri Tremas: Teladani Ulama, Hidupkan Doa untuk yang Telah Wafat

17 April 2026 - 14:07 WITA

Bupati Tolikara Willem Wandik Teken Hibah untuk BP Calon Wilayah Kembu, Perkuat Pelayanan Rohani

17 April 2026 - 00:41 WITA

Halal Bihalal MUI: Menag Nasaruddin Umar Serukan Persatuan Ulama dan Negara Demi Indonesia Damai

15 April 2026 - 22:27 WITA

Tausiah Menag RI Prof. H. Nasaruddin Umar di Halal Bi Halal DWP Kemenag Sarat Makna: Belajar dari Keteguhan dan Ujian Iman

15 April 2026 - 13:20 WITA

Menteri ESDM Dampingi Presiden Prabowo ke Moskow, Perkuat Diplomasi Energi Indonesia–Rusia

13 April 2026 - 14:25 WITA

Mendagri Tito Karnavian Usulkan Perpanjangan Dana Otsus Aceh hingga Pasca-2027

13 April 2026 - 14:03 WITA

Trending di Nasional