Menu

Mode Gelap

Nasional · 16 Okt 2025 22:15 WITA

Luhut Binsar Pandjaitan Ungkap Gunakan ChatGPT untuk Rancang Awal Konsep Family Office di Indonesia


 Luhut Binsar Pandjaitan Ungkap Gunakan ChatGPT untuk Rancang Awal Konsep Family Office di Indonesia Perbesar

SOALINDONESIA–JAKARTA Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan cerita menarik di balik lahirnya ide pembentukan Family Office di Indonesia. Dalam paparannya di acara 1 Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran di Jakarta, Kamis (16/10/2025), Luhut mengaku sempat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI), yaitu ChatGPT, untuk mencari referensi awal dan pemetaan isu terkait kebijakan tersebut.

“Saya iseng akhirnya tanya ChatGPT semua, dalam setengah jam sudah keluar semua,” kata Luhut sambil tersenyum.

Menurutnya, hasil pencarian cepat itu kemudian dijadikan dasar awal bagi tim DEN dalam menyusun kajian yang lebih mendalam, mencakup aspek hukum, perpajakan, hingga dampak ekonominya terhadap Indonesia.

Setelah memperoleh pandangan awal dari ChatGPT, Luhut menugaskan tim eksekutif di kantornya untuk mengembangkan studi komprehensif berbasis temuan tersebut.

“Saya bilang ke direktur eksekutif di kantor saya, sudah kamu dari sini basis studi dia buatlah studi kita lihat masalah legal, masalah pajak dan seterusnya, ada enggak yang merugikan negara, enggak ada,” ujarnya.

READ  Presiden Prabowo Subianto Temui PM Selandia Baru, Bahas Pendidikan, Pertanian, dan Perdagangan

Tak Gunakan Dana APBN

Luhut menegaskan, pembentukan Family Office tidak ada kaitannya dengan penggunaan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia memastikan inisiatif ini murni untuk memperkuat ekosistem investasi nasional dan menarik lebih banyak modal asing ke dalam negeri.

“Kita harus friendly ke foreign investment, itu harus jalan bagus. Oleh sebabnya saya usulin buatlah family office. Family office tidak ada urusan dengan APBN,” tegas Luhut.

Meniru Sukses Negara Maju

Luhut menjelaskan bahwa ide Family Office di Indonesia terinspirasi dari kesuksesan pusat-pusat keuangan dunia seperti Singapura, Hong Kong, dan Abu Dhabi. Negara-negara tersebut berhasil menarik dana pribadi para miliarder dunia untuk dikelola di wilayah mereka dengan sistem pajak yang efisien dan iklim investasi yang kondusif.

“Orang asing bikin family office banyak sekali di Singapura, di Hong Kong, di Abu Dhabi. Mereka juga pengen, kenapa hanya di Singapura aja? Proyeknya kurang, di Indonesia proyeknya banyak, ya kenapa nggak kita tarik kemari? Logikanya di situ,” jelasnya.

READ  Peluncuran KITATANGGUH Dorong Kolaborasi Lintas Sektor Mitigasi Bencana

Menkeu Purbaya Pastikan Tak Gunakan APBN

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa pihaknya tidak akan mengalokasikan APBN untuk mendukung proyek pembangunan Family Office yang diinisiasi oleh DEN.

“Anggaran nggak akan saya alihkan ke sana,” tegas Purbaya di kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Rabu (15/10/2025).

Ia mengaku telah mengetahui rencana pengembangan Family Office oleh DEN, namun memilih tidak ikut campur dalam proses perencanaan maupun pendanaan.

“Saya belum terlalu mengerti konsepnya walaupun Pak Ketua DEN sering bicara. Tapi saya belum pernah lihat konsepnya, jadi saya nggak bisa jawab,” ujarnya.

Meski demikian, Purbaya menyatakan dukungannya terhadap langkah DEN untuk memperkuat iklim investasi nasional. “Kalau mau buat family office, saya doakan,” imbuhnya.

KEK Pusat Keuangan Bali untuk Tarik Investasi Asing

READ  Presiden Prabowo Hadiri Konferensi Tingkat Tinggi di PBB Bahas Solusi Dua Negara untuk Palestina

Rencana pengembangan Family Office ini juga berkaitan dengan proyek Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pusat Keuangan dan Family Office di Bali yang diinisiasi DEN. Kawasan tersebut ditargetkan menjadi pusat pengelolaan dana global serta pintu masuk investasi asing ke berbagai sektor riil di Indonesia.

Luhut menjelaskan, investor yang masuk melalui KEK ini nantinya dapat menjadi co-investor bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia dan Indonesia Investment Authority (INA).

Strategi tersebut meniru pola sukses dari Abu Dhabi, Dubai, Hong Kong, dan Singapura. “Bali sangat potensial jadi Indonesia Financial Centre karena reputasinya sebagai work heaven bagi investor global,” ujarnya.

📌 Editor’s Note:

Penggunaan kecerdasan buatan seperti ChatGPT oleh pejabat tinggi negara menandai tren baru dalam pengambilan keputusan berbasis teknologi di Indonesia. Namun, para ekonom mengingatkan pentingnya verifikasi mendalam dan analisis independen agar hasilnya tetap akurat dan selaras dengan kepentingan nasional.

Artikel ini telah dibaca 12 kali

Baca Lainnya

Menaker Yassierli Tekankan Pentingnya K3 untuk Lingkungan Kerja Aman dan Produktif

9 Januari 2026 - 23:24 WITA

Menkum Supratman Minta Publik Cermati KUHP dan KUHAP Baru Terkait Pelaporan Pandji Pragiwaksono

9 Januari 2026 - 23:15 WITA

Kemensos Mulai Seleksi Siswa Baru Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026/2027, Pembangunan Gedung Permanen Dimulai

9 Januari 2026 - 23:07 WITA

Menag Nasaruddin Umar Tegaskan Peran Kemenag Jaga Persatuan Bangsa di Rakerwil Sultra 2026

9 Januari 2026 - 23:00 WITA

Tak Hanya Gus Yaqut, Mantan Stafsus Menteri Agama Ikut Ditahan KPK

9 Januari 2026 - 17:26 WITA

KPK Tetapkan Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji

9 Januari 2026 - 17:17 WITA

Trending di Nasional