SOAlINDONESIA—PALU – Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, tiba di Kota Palu, Sulawesi Tengah, melalui Bandar Udara Mutiara Sis Aljufri, Rabu (1/4/2026).
Kedatangan orang nomor satu di Kementerian Agama itu disambut langsung oleh Rektor UIN Datokarama Palu, Prof. KH. Lukman S. Thahir, bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Sulawesi Tengah.
Kunjungan kerja Menag ke Palu kali ini dalam rangka menghadiri Haul ke-58 ulama kharismatik Sulawesi Tengah, Sayyid Idrus bin Salim Aljufri, atau yang dikenal luas dengan sebutan Guru Tua, sekaligus menjalankan sejumlah agenda strategis keagamaan lainnya yang telah disusun oleh Kanwil Kemenag Sulteng.
Kehadiran Menag di Palu terbilang padat dan berkelanjutan. Sehari sebelumnya, ia baru saja meninggalkan Sulawesi Selatan usai menghadiri rangkaian kegiatan keagamaan dan halal bihalal bersama masyarakat. Tanpa jeda panjang, ia kembali melanjutkan perjalanan dinas ke Sulawesi Tengah.
Hal ini menjadi cerminan komitmen kuat Menteri Agama dalam merawat tradisi keagamaan serta menjaga kesinambungan nilai-nilai spiritual di tengah masyarakat. Di tengah padatnya agenda nasional, kehadiran Menag dalam kegiatan haul menunjukkan perhatian serius pemerintah terhadap warisan ulama sebagai fondasi moral bangsa.
“Haul bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum untuk menyambung sanad keilmuan, memperkuat nilai keteladanan, dan menghidupkan kembali semangat dakwah yang diwariskan para ulama,” demikian pesan yang kerap disampaikan Menag dalam berbagai kesempatan.
Sosok Guru Tua dan Jejak Peradaban Islam di Kawasan Timur Indonesia
Nama Sayyid Idrus bin Salim Aljufri bukanlah sosok biasa dalam sejarah Islam di Indonesia Timur. Ia merupakan ulama besar keturunan Arab yang lahir di Tarim, Hadramaut, Yaman, dan kemudian mengabdikan hidupnya untuk dakwah di Nusantara, khususnya di wilayah Sulawesi Tengah.
Guru Tua dikenal sebagai pendiri organisasi pendidikan Islam Alkhairaat, yang hingga kini telah berkembang menjadi salah satu jaringan pendidikan Islam terbesar di kawasan timur Indonesia.
Melalui Alkhairaat, beliau mendirikan ratusan madrasah dan lembaga pendidikan yang tersebar di berbagai daerah, dari Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Perannya tidak hanya dalam bidang pendidikan, tetapi juga dalam membentuk karakter umat, menanamkan nilai moderasi beragama, serta memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah keberagaman.
Keteladanan Guru Tua tercermin dari kesederhanaan hidup, keteguhan dalam berdakwah, serta komitmennya dalam mencerdaskan umat. Ia menjadi simbol persatuan dan rujukan spiritual bagi masyarakat lintas generasi.
Merawat Tradisi, Menjaga Akar Spiritual Bangsa
Haul Guru Tua setiap tahunnya menjadi magnet spiritual yang menghadirkan ribuan jamaah dari berbagai penjuru Indonesia. Momentum ini bukan hanya ajang mengenang jasa ulama, tetapi juga menjadi ruang refleksi kolektif untuk memperkuat nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamin.
Kehadiran Nasaruddin Umar di tengah masyarakat Palu mempertegas bahwa negara hadir dalam merawat tradisi keagamaan sekaligus menghormati jasa para ulama yang telah meletakkan dasar peradaban Islam di Indonesia.
Selain menghadiri rangkaian haul, Menag juga dijadwalkan mengikuti sejumlah agenda keagamaan lainnya, termasuk pertemuan dengan tokoh agama, akademisi, serta pembinaan kelembagaan keagamaan di Sulawesi Tengah.
Di tengah dinamika zaman, kehadiran pemimpin yang terus menyambangi ruang-ruang spiritual seperti ini menjadi pesan kuat bahwa pembangunan bangsa tidak hanya bertumpu pada aspek material, tetapi juga pada kekuatan nilai dan warisan ruhani.
Semangat tanpa lelah yang ditunjukkan Menag menjadi cerminan dedikasi dalam menjaga denyut kehidupan beragama di Indonesia—bahwa di balik setiap perjalanan dinas, ada ikhtiar untuk terus menyalakan cahaya para ulama di tengah umat.











