Soalindo—Kairo — Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, menyampaikan gagasan strategis tentang ekoteologi, peran agama, dan kesadaran kemanusiaan di era Artificial Intelligence (AI) dalam konferensi internasional yang diinisiasi Kementerian Wakaf Republik Arab Mesir, dan digelar di Universitas Al-Azhar Al-Syarif, Mesir.
Konferensi ini menjadi momentum penting, sekaligus penegasan bahwa ekoteologi—program prioritas Kementerian Agama RI—telah mendapat perhatian dunia internasional, bahkan diseminarkan di Universitas Al-Azhar Al-Syarif, universitas tertua di dunia yang telah berusia lebih dari 1.100 tahun.
Hadir dalam konferensi tersebut Menteri Wakaf Republik Arab Mesir sekaligus Ketua Dewan Tertinggi Urusan Islam Mesir, Prof. Dr. Usamah Al-Sayyid Al-Azhari, para ulama Al-Azhar, akademisi lintas negara, cendekiawan, intelektual, serta peneliti dari berbagai belahan dunia.
Delegasi Indonesia turut diwakili Tenaga Ahli Menteri Agama RI, Dr. H. Bunyamin M. Yapid, LC., MH. Sementara itu, Rektor Universitas Al-Azhar diwakili oleh Dr. Salamah Daud, mewakili Grand Syekh Al-Azhar.
Dalam paparannya, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengawali dengan menyampaikan salam hangat dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, serta apresiasi dan terima kasih kepada Presiden Republik Arab Mesir, Abdel Fattah El-Sisi, atas dukungan penuh terhadap terselenggaranya konferensi internasional tersebut.
Ekoteologi dan Tanggung Jawab Moral Manusia
Menag kemudian membedah secara mendalam makna tanggung jawab manusia dalam perspektif Islam, khususnya di tengah tantangan global, krisis lingkungan, dan pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
Menurut Menag, tanggung jawab manusia tidak semata-mata dimaknai sebagai upaya mencari penghidupan, melainkan mengandung dimensi moral, amanah sosial, dan kesadaran spiritual untuk memakmurkan bumi.
“Dalam Islam, bumi bukan milik mutlak manusia, melainkan titipan Ilahi. Karena itu, memakmurkan bumi tidak akan pernah sempurna tanpa menjaga keseimbangan alam,” tegas Menag.
Ia menambahkan, setiap aktivitas, profesi, maupun pembangunan yang justru merusak keseimbangan lingkungan pada hakikatnya telah menyimpang dari tujuan ibadah dan pembangunan peradaban.
“Setiap profesi yang mengganggu keseimbangan tersebut sejatinya telah menyimpang dari tujuan ibadah dan hakikat pembangunan peradaban,” lanjutnya.
Agama, AI, dan Masa Depan Peradaban
Dalam konteks era Artificial Intelligence, Menag menekankan bahwa kemajuan teknologi harus tetap berada dalam bingkai nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan etika ekologis. AI, menurutnya, tidak boleh menjauhkan manusia dari tanggung jawab moral, melainkan harus menjadi alat untuk memperkuat kesadaran kolektif dalam menjaga kehidupan dan keberlanjutan bumi.
Konferensi ini dinilai sebagai ruang strategis untuk menyuarakan bahwa agama memiliki peran sentral dalam merespons tantangan global, termasuk krisis lingkungan dan disrupsi teknologi, dengan pendekatan yang berakar pada nilai spiritual dan kemanusiaan universal.
Diseminasi ekoteologi di Al-Azhar Al-Syarif menjadi simbol bahwa program prioritas Kementerian Agama RI telah menembus panggung peradaban dunia, dan siap disuarakan ke seluruh penjuru global sebagai kontribusi Indonesia dalam membangun masa depan umat manusia yang berkeadaban, berkeadilan, dan berkelanjutan.











