Menu

Mode Gelap

Nasional · 7 Sep 2025 16:53 WITA

Nasaruddin Umar: Dari Santri hingga Menteri Agama yang Membela Guru


 Nasaruddin Umar: Dari Santri hingga Menteri Agama yang Membela Guru Perbesar

Kitasulsel—Jakarta — Pernyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar sempat menuai kontroversi setelah potongan videonya beredar luas di media sosial. Dalam video itu ia menyampaikan kalimat, “Kalau ingin mencari uang, jangan jadi guru, jadilah pedagang.” Ucapan tersebut dianggap sebagian warganet sebagai bentuk pelecehan terhadap profesi guru.

Namun, jika ditelusuri secara utuh, konteks pernyataan itu berbeda. Nasaruddin mengucapkannya dalam forum Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang digelar Kementerian Agama. Pesan yang ingin ditegaskan adalah bahwa menjadi guru adalah panggilan jiwa dan pengabdian, bukan semata jalan mencari keuntungan materi. Para peserta yang hadir langsung di forum tersebut juga menilai ucapan Menteri Agama justru memotivasi mereka, bukan menyakiti.

Kebijakan yang dijalankan Kementerian Agama di bawah kepemimpinan Nasaruddin turut memperkuat pesan tersebut. Tahun ini, lebih dari 200 ribu guru madrasah dan guru pendidikan agama mengikuti PPG dalam jabatan, meningkat tajam dari 29 ribu guru pada tahun sebelumnya. Selain itu, sebanyak 227.147 guru non-PNS menerima tambahan tunjangan profesi sebesar Rp500 ribu per bulan. Langkah-langkah ini disebut sebagai bentuk penghargaan nyata terhadap pengabdian guru di madrasah dan sekolah.

READ  Kemenkeu Resmi Masukkan Redenominasi Rupiah dalam Rencana Strategis 2025-2029

Kepedulian Nasaruddin terhadap guru tidak lepas dari rekam jejak pribadinya. Sebelum menjadi Menteri Agama, ia pernah berkarier sebagai pengajar di madrasah dan pondok pesantren. Bahkan hingga kini, di tengah kesibukannya, ia tetap rutin mengisi pengajian baik secara langsung maupun daring. Pada Oktober 2024 lalu, misalnya, saat mengikuti Retret Kabinet Merah Putih di Magelang, ia masih menyempatkan diri memberikan pengajian subuh secara virtual kepada dua pondok pesantren di Sulawesi Selatan.

Latar belakang keluarga turut membentuk pandangan tersebut. Ayahnya, Andi Muhammad Umar, adalah seorang guru, kepala sekolah, sekaligus pendiri Pondok Pesantren Al-Ikhlas di Bone, Sulawesi Selatan. Pada masa pemberontakan DI/TII, ketika banyak guru memilih berhenti mengajar karena tidak menerima gaji, sang ayah tetap setia mendidik para murid. Ia bahkan mengajar hingga enam kelas dalam sehari sambil tetap menjalankan tugas sebagai kepala sekolah. Teladan inilah yang diwarisi Nasaruddin dalam memandang profesi guru sebagai pengabdian tanpa pamrih.

READ  OJK Pastikan Korban Kerusuhan Demo Dapat Perlindungan Jaminan Sosial

Kegaduhan di ruang publik akibat potongan video tersebut pada akhirnya menunjukkan pentingnya literasi digital. Informasi yang terpotong sering kali menggiring opini yang tidak sesuai dengan kenyataan. Padahal, dalam konteks penuh, ucapan Nasaruddin lebih tepat dipahami sebagai dorongan moral untuk menjaga idealisme profesi guru di tengah tantangan kesejahteraan.

Dari santri menjadi guru, hingga kini menduduki jabatan Menteri Agama, perjalanan Nasaruddin Umar menegaskan konsistensi sikapnya. Ucapan yang sempat viral itu bukan penghinaan, melainkan pengingat. Sementara kebijakan nyata yang dijalankan menunjukkan keberpihakan kepada guru. Dengan latar belakang keluarga pendidik dan pengalaman langsung di dunia pendidikan, Nasaruddin mengirim pesan bahwa profesi guru tidak hanya harus dihormati, tetapi juga diperjuangkan kesejahteraannya.

READ  Presiden Prabowo: Tidak Boleh Ada Kriminalisasi Demonstran, Demo Damai Dijamin UU
Artikel ini telah dibaca 12 kali

Baca Lainnya

Puspenma Siapkan 1.900 Beasiswa 2026, Dorong Dosen PTK Tempuh Studi Doktor dan Perkuat Riset

28 Februari 2026 - 21:43 WITA

Satgas PRR Targetkan Seluruh Pengungsi Pascabencana Sumatera Direlokasi Sebelum Idulfitri 2026

28 Februari 2026 - 21:28 WITA

AS dan Israel Serang Iran, Presiden Prabowo Siap Fasilitasi Dialog

28 Februari 2026 - 21:02 WITA

BGN Hentikan Sementara 47 SPPG hingga Hari ke-9 Ramadhan, Temukan Menu MBG Tak Layak Konsum

28 Februari 2026 - 20:41 WITA

Kepala BGN: 93 Persen Anggaran Rp268 Triliun Dialokasikan untuk Program Makan Bergizi

28 Februari 2026 - 20:29 WITA

Bupati Tolikara Serahkan DPA 2026, Tandai Dimulainya Pelaksanaan APBD Rp1,64 Triliun

28 Februari 2026 - 15:22 WITA

Trending di Nasional