Soalindonesia–JAKARTA Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada perdagangan awal pekan, Senin (13/4/2026). Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian global setelah gagalnya perundingan antara Iran dan Amerika Serikat yang berlangsung di Pakistan.
Mengutip data Bloomberg, rupiah melemah sebesar 31 poin atau 0,18 persen ke posisi Rp17.135 per dolar AS pada pukul 09.19 WIB. Sejalan dengan itu, pasar saham domestik juga mengalami tekanan, tercermin dari penurunan IHSG sebesar 0,65 persen ke level 7.410 saat pembukaan perdagangan.
Dampak Geopolitik Tekan Pasar
Ketegangan geopolitik semakin meningkat setelah Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa Angkatan Laut AS akan mulai melakukan blokade di Selat Hormuz. Langkah ini diambil setelah perundingan panjang dengan Iran gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran pasar global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia. Gangguan di kawasan ini berpotensi meningkatkan harga energi dan memperburuk ketidakpastian ekonomi global.
Bank Indonesia Siapkan Langkah Stabilisasi
Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa stabilitas moneter menjadi prioritas utama di tengah dinamika global yang tidak menentu.
“BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter yang dimiliki dan juga kebijakan operasi moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” ujar Destry dalam keterangan resminya.
Ia memastikan, Bank Indonesia akan terus hadir di pasar uang secara konsisten dan terukur, baik melalui transaksi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.
Dampak Ganda bagi Ekonomi Indonesia
Meski tekanan terhadap rupiah meningkat, Destry menilai eskalasi konflik di Timur Tengah juga memiliki potensi dampak positif bagi Indonesia. Kenaikan harga komoditas global dapat menguntungkan Indonesia sebagai negara eksportir.
“Kenaikan harga komoditas dan posisi Indonesia sebagai negara eksportir dapat memberikan efek positif bagi perekonomian kita. Sehingga dapat mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi tersebut,” jelasnya.
Namun demikian, pelaku pasar tetap diminta waspada terhadap perkembangan geopolitik global yang masih dinamis. Pergerakan rupiah dan pasar keuangan domestik dalam waktu dekat diperkirakan masih akan dipengaruhi sentimen eksternal, khususnya terkait konflik di kawasan Timur Tengah.











