Soalindonesia–Semarang – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi, Semarang, Jawa Tengah, menyusul insiden keamanan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga menyebabkan ratusan siswa dan guru mengalami gangguan kesehatan.
Langkah tersebut diambil setelah sebanyak 707 orang yang terdiri dari 693 siswa dan 14 guru SMK Negeri 6 Semarang dilaporkan mengalami gejala seperti pusing, mual, muntah, dan diare usai mengonsumsi makanan Program MBG pada Jumat (31/7).
Sudaryono, yang akrab disapa Mas Dar, turun langsung meninjau kondisi para korban di sejumlah rumah sakit di Kota Semarang, yakni RS Permata Medika, RS Bhakti Tamtama, dan RS Pantiwilasa Citarum, pada Sabtu (1/8).
“Alhamdulillah, tadi sudah kita tengok kondisinya sudah baik. Sebagian dirawat di rumah sakit, dan sebagian lainnya mendapat penanganan di puskesmas,” ujar Sudaryono dalam keterangan resminya di Jakarta, Minggu (2/8).
Berdasarkan hasil investigasi awal, BGN menduga insiden dipicu oleh beberapa bahan makanan yang masih dalam proses pemeriksaan laboratorium, di antaranya daun singkong, bumbu rendang, serta faktor waktu memasak yang dilakukan terlalu dini sebelum makanan didistribusikan kepada para siswa.
Menurut Sudaryono, hasil uji laboratorium diperkirakan baru akan diketahui dalam waktu sekitar lima hingga tujuh hari kerja. Hasil tersebut nantinya akan menjadi dasar untuk memastikan penyebab pasti insiden keamanan pangan tersebut.
“Kita masih menunggu hasil laboratorium. Dugaan sementara mengarah pada beberapa bahan makanan dan proses memasak yang dilakukan terlalu awal,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, BGN memutuskan menghentikan sementara operasional SPPG Karangturi hingga proses investigasi selesai dan dipastikan memenuhi standar keamanan pangan.
Selain itu, BGN juga mempercepat penerapan sistem digital untuk mengawasi seluruh proses produksi makanan dalam Program MBG. Sistem tersebut akan mencatat secara rinci tahapan produksi, mulai dari waktu bahan dipersiapkan, proses memasak, jenis menu, hingga penggunaan bumbu.
Sudaryono mengatakan sistem digital tersebut ditargetkan mulai diterapkan secara menyeluruh dalam satu hingga dua pekan ke depan agar seluruh proses dapat dipantau secara real time oleh pihak terkait, termasuk orang tua siswa, guru, dan dinas kesehatan.
BGN berharap penerapan sistem tersebut dapat meningkatkan pengawasan dan mencegah terulangnya insiden serupa, sehingga pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis tetap berjalan dengan standar keamanan pangan yang tinggi.











