Menu

Mode Gelap

News · 29 Okt 2025 22:42 WITA

Menkeu Purbaya Jelaskan Alasan Beri Ruang Utang bagi Pemda, BUMN, dan BUMD: Untuk Tambal Dana Awal Tahun


 Menkeu Purbaya Jelaskan Alasan Beri Ruang Utang bagi Pemda, BUMN, dan BUMD: Untuk Tambal Dana Awal Tahun Perbesar

SOALINDONESIA–JAKARTA Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan alasan pemerintah pusat memberikan ruang pinjaman kepada pemerintah daerah (Pemda), Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Salah satu tujuannya, kata Purbaya, untuk menutup kebutuhan dana jangka pendek yang kerap terjadi di awal atau akhir tahun anggaran.

Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 38 Tahun 2025 tentang Pemberian Pinjaman oleh Pemerintah Pusat, yang menjadi payung hukum bagi Pemda, BUMN, dan BUMD dengan kriteria tertentu untuk mengakses pembiayaan atas persetujuan Menteri Keuangan.

“(Pemberian pinjaman) untuk waktu tertentu, misalnya awal tahun, kadang-kadang akhir tahun, kadang-kadang pemda kekurangan uang,” ujar Purbaya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (29/10/2025).

Ia menjelaskan, pinjaman tersebut difokuskan untuk memenuhi kebutuhan dana jangka pendek, namun pemerintah juga membuka peluang pinjaman jangka panjang bagi proyek-proyek strategis yang dinilai layak.

READ  Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko Jadi Tersangka Suap, KPK Dalami Proyek Monumen Reog dan Pengadaan Lainnya

“Kalau butuh jangka panjang selama proyeknya jelas, ya bisa kita lihat juga,” kata Purbaya.

Meski demikian, Purbaya mengakui bahwa skema teknis pinjaman masih belum dirinci lebih lanjut.

“Belum, belum sampai sana,” ucapnya singkat.

Kritik: Potensi Jebakan Utang

Kebijakan ini mendapat sorotan dari Center of Economic and Law Studies (Celios) yang menilai langkah pemerintah tersebut berisiko menciptakan jebakan utang bagi daerah.

Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira menyebut, pemberian pinjaman justru kontradiktif dengan upaya efisiensi anggaran karena dana Transfer ke Daerah (TKD) telah terpangkas hingga 24,7 persen pada 2026. Sementara itu, sekitar 41,3 persen Pemda masuk kategori fiskal rentan.

“Ketika pemda sedang tertekan, pemerintah pusat justru memberi fasilitas pinjaman. Jelas pemda akan sulit mengembalikan dana. Ini jebakan utang,” kata Bhima dalam pernyataan tertulis, Selasa (28/10/2025).

READ  Luhut Binsar Pandjaitan Ungkap Gunakan ChatGPT untuk Rancang Awal Konsep Family Office di Indonesia

Efek ke Ruang Fiskal Daerah

Sementara itu, Direktur Kebijakan Publik Celios Media Wahyudi menilai kewajiban pembayaran cicilan pinjaman melalui APBD dapat mempersempit ruang fiskal untuk layanan publik seperti kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sosial.

“Untuk menutup kekurangan, pemda kemungkinan menaikkan pajak dan retribusi daerah seperti pajak bumi dan bangunan, kendaraan bermotor, atau konsumsi. Beban ini justru akan menekan kelas menengah yang sudah kesulitan secara ekonomi,” ujarnya.

Kritik atas Sentralisasi Fiskal

Media juga menyoroti bahwa kebijakan pinjaman dari pusat ini berpotensi mencederai semangat otonomi daerah, sebagaimana diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah dan UU Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.

READ  Kerangka Diduga Alvaro Kiano Ditemukan Setelah 8 Bulan Pencarian, Polisi Tunggu Hasil DNA

“Daerah kehilangan posisinya sebagai entitas otonom yang menentukan arah pembangunan berdasarkan kebutuhan lokal, karena harus memohon pinjaman kepada pusat,” ujarnya.

Ia menilai kebijakan tersebut menunjukkan gejala resentralisasi fiskal, di mana kekuasaan pengelolaan keuangan kembali terpusat di tangan pemerintah pusat.

“Reformasi fiskal kita justru berjalan mundur,” tegasnya.

Konteks Kebijakan

PP Nomor 38 Tahun 2025 menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat pembiayaan pembangunan dan menjaga stabilitas fiskal nasional. Melalui skema ini, pemerintah ingin memastikan kelancaran proyek prioritas di tengah keterbatasan APBD dan tantangan ekonomi global.

Namun, para ekonom menilai kebijakan tersebut harus dijalankan dengan pengawasan ketat, agar tidak menjerumuskan daerah pada beban utang yang sulit dilunasi dan menggerus kemampuan fiskalnya dalam jangka panjang.

Artikel ini telah dibaca 14 kali

Baca Lainnya

Jamaah Haji Khusus PT Annur Maarif Dijadwalkan Tiba di Makassar Besok, Tim Penyambutan Mulai Bersiap

16 Juni 2026 - 20:54 WITA

Jalan Rusak, UMKM dan Pertanian Jadi Keluhan Utama, Dr. Awaluddin Siap Kawal Aspirasi Warga Pakuli

14 Juni 2026 - 19:46 WITA

Harga Sawit Naik di Berbagai Daerah, Sulawesi Selatan Justru Stagnan, Petani Desak Pembentukan Satgas Harga Sawit

13 Juni 2026 - 19:18 WITA

Pelayanan Jadi Kunci, PT Annur Maarif Catat Peningkatan Signifikan Pendaftar Haji Khusus

11 Juni 2026 - 15:59 WITA

Ketua Koperasi KIM Soroti Kenaikan Potongan Timbangan Sawit oleh PT Teguh Wira Pratama

9 Juni 2026 - 23:23 WITA

Pengamat Nilai Pengangkatan Anak Menteri Haji Sarat Etika

9 Juni 2026 - 10:11 WITA

Trending di Nasional