SOALINDONESIA–JAKARTA Pemerintah memastikan program insentif mobil listrik akan berakhir pada 2026. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, anggaran yang selama ini digelontorkan untuk mendorong pasar kendaraan listrik akan dialihkan guna mendukung pengembangan mobil nasional.
Airlangga memaparkan bahwa hingga saat ini pemerintah telah menggelontorkan sekitar Rp7 triliun untuk mempercepat perkembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Langkah tersebut dinilai telah membuahkan hasil, seiring hadirnya produsen mobil listrik global yang mulai membangun pabrik di Tanah Air.
“Kita sudah memberikan fasilitas agar industri EV ini bergerak, besarnya sebesar Rp7 triliun,”
kata Airlangga dalam acara Indonesia Connect Outlook 2026 di The Hall Senayan City, Jakarta, Kamis (4/12/2025).
Menurutnya, pembangunan pabrik di dalam negeri akan menekan biaya produksi dan harga jual kendaraan listrik menjadi lebih kompetitif. Ia mencontohkan peralihan dari impor completely built up (CBU) ke completely knock down (CKD) yang memiliki bea masuk lebih rendah.
“Dengan adanya pabrik tentu cost mereka akan lebih murah karena mereka bisa menikmati CKD,” jelasnya.
Dengan berjalannya ekosistem industri, pemerintah kini menyiapkan langkah lanjutan: menggeser anggaran insentif untuk mendukung produksi mobil nasional.
“Anggaran yang kemarin disediakan untuk menstimulate market ini digeser untuk memproduksi mobil nasional,” tegas Airlangga.
Harga Mobil Makin Kompetitif
Airlangga juga mengungkapkan bahwa perkembangan mobil listrik mulai memberikan efek nyata pada pasar otomotif. Pada pameran otomotif di Bumi Serpong Damai (BSD), harga mobil konvensional mengalami penurunan signifikan.
Harga rata-rata mobil kini berada di kisaran Rp300 juta, bahkan beberapa model dibanderol hanya Rp175–190 juta, sesuatu yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya.
“Dengan kehadiran electric vehicle harga mobil tertekan ke bawah,” ujarnya dalam Rapimnas Kadin di Jakarta, Selasa (2/12/2025).
Persaingan ketat membuat produsen mobil berbahan bakar bensin harus menyesuaikan harga agar tetap kompetitif di tengah meningkatnya tren elektrifikasi.
Konsumen Mulai Beralih ke EV
Pergantian selera pasar terlihat jelas. Penjualan mobil listrik naik 18,27% sepanjang 2025, jauh mengungguli pertumbuhan mobil konvensional yang relatif stabil. Sementara itu, penjualan sepeda motor juga meningkat 8,4%, menandakan kebutuhan masyarakat terhadap kendaraan pribadi tetap tinggi.
Airlangga menilai dinamika ini adalah bagian dari pergeseran besar menuju era kendaraan listrik, seiring semakin luasnya pilihan dan penurunan harga kendaraan.
Kebijakan penghentian insentif pada 2026 menandai babak baru industri otomotif nasional. Pemerintah menargetkan dukungan anggaran selanjutnya mampu mendorong lahirnya mobil nasional yang berdaya saing global baik dari sisi harga maupun teknologi.











