Menu

Mode Gelap

Nasional · 18 Mar 2026 04:28 WITA

Di Tengah Perbedaan, Ada Pelukan Kebersamaan: Willem Wandik Buka Puasa Bersama Umat Muslim Tolikara


 Di Tengah Perbedaan, Ada Pelukan Kebersamaan: Willem Wandik Buka Puasa Bersama Umat Muslim Tolikara Perbesar

SOAlINDONESIA—TOLIKARA — Senja perlahan turun di langit Karubaga. Di pelataran masjid yang menjadi pusat aktivitas umat Muslim di ibu kota Kabupaten Tolikara, suasana terasa berbeda. Hangat, penuh harap, dan sarat makna. Di tengah mayoritas masyarakat yang beragama Nasrani, sebuah momen kebersamaan justru lahir dari perbedaan itu sendiri.

Bupati Tolikara, Willem Wandik, S.Sos, hadir dan duduk bersisian bersama umat Muslim dalam agenda buka puasa bersama. Bukan sekadar seremoni, tetapi sebuah pernyataan sikap—bahwa kepemimpinan adalah tentang merangkul, bukan membedakan.

Acara ini turut dihadiri Ketua TP PKK Kabupaten Tolikara, unsur Forkopimda, para kepala OPD, serta masyarakat Muslim yang memadati area masjid di Karubaga. Kehadiran lintas elemen tersebut menjadi simbol bahwa ruang kebersamaan di Tolikara tidak pernah dibatasi oleh sekat keyakinan.

Toleransi yang Hidup, Bukan Sekadar Narasi

Dalam sambutannya, Willem Wandik menegaskan bahwa keberagaman adalah fondasi kekuatan Tolikara. Ia tidak berbicara sebagai pemimpin formal semata, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang memahami arti hidup berdampingan.

READ  Baleg DPR Soroti RUU Perampasan Aset dalam Prolegnas Prioritas 2025–2026

“Kita semua adalah insan yang beriman. Keyakinan yang berbeda adalah alasan yang menguatkan kita untuk terus saling bergandengan tangan. Keindahan Tolikara salah satunya adalah berjalan beriringan di atas perbedaan,” ujarnya.

Pesan tersebut bukan sekadar kata-kata. Ia tercermin dalam tindakan nyata—hadir di tengah umat Muslim pada momentum sakral Ramadan, meski dirinya dikenal sebagai sosok Nasrani yang taat.

Di Tolikara, toleransi bukan slogan yang dipajang di baliho. Ia hidup dalam keseharian: dalam sapaan, dalam gotong royong, dan dalam momen-momen sederhana seperti berbagi takjil di pinggir jalan.

Apresiasi dari Kementerian Agama

Langkah Bupati Tolikara ini pun mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Kepala Biro Humas dan Informasi Kementerian Agama RI, Tobin Al Azhar, memberikan apresiasi atas sikap inklusif yang ditunjukkan Willem Wandik.

READ  Saat Prabowo Berlutut Serahkan Bintang Jasa untuk Nyak Sandang, Penyumbang Pembelian Pesawat Pertama RI

Menurutnya, kehadiran seorang kepala daerah lintas iman dalam kegiatan keagamaan adalah refleksi dari kepemimpinan yang matang secara spiritual dan sosial.

“Kita tahu beliau adalah seorang Nasrani yang patuh. Namun di momentum Ramadan, beliau tetap hadir menyemai kebersamaan dengan masyarakat Muslim. Ini adalah cerminan pemimpin yang benar-benar menempatkan diri sebagai bapak bagi semua golongan,” ungkap Tobin saat dikonfirmasi di Jakarta.

Apresiasi tersebut menjadi penegas bahwa praktik toleransi di daerah seperti Tolikara memiliki dampak nasional, bahkan bisa menjadi contoh bagi wilayah lain di Indonesia.

Dari Takjil Hingga Kebersamaan

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Tolikara juga menginisiasi kegiatan berbagi takjil di berbagai titik di Karubaga. Kegiatan ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, lintas agama, yang bersama-sama turun ke jalan untuk berbagi kepada sesama.

Momentum ini memperlihatkan bahwa toleransi tidak hanya hadir dalam ruang formal, tetapi juga tumbuh dari kepedulian sosial yang sederhana namun bermakna.

READ  Minta Maaf, Menag Jelaskan Upaya Pemerintah Sejahterakan Guru

Di tengah tantangan kehidupan berbangsa yang kerap diuji oleh perbedaan, Tolikara justru menunjukkan wajah lain Indonesia—wajah yang teduh, saling menghargai, dan penuh empati.

Tolikara: Harmoni dari Timur Indonesia

Kabupaten Tolikara, yang berada di wilayah Papua Pegunungan, mungkin jauh dari hiruk pikuk pusat kekuasaan. Namun dari lembah Nawi Arigi, sebuah pesan kuat dikirimkan: bahwa persatuan tidak harus lahir dari keseragaman.

Di sana, lonceng gereja dan lantunan azan tidak saling bersaing, melainkan berdampingan dalam harmoni.

Dan di tengah harmoni itu, seorang pemimpin hadir—tidak hanya untuk memimpin, tetapi untuk memastikan bahwa setiap warganya, apapun keyakinannya, merasa dipeluk dalam rumah yang sama bernama Tolikara.

Buka puasa bersama yang digelar Willem Wandik bukan sekadar agenda Ramadan. Ia adalah refleksi nilai, tentang bagaimana perbedaan tidak memisahkan, melainkan justru menguatkan.

Di Tolikara, toleransi bukan hanya diajarkan. Ia dirayakan.

Artikel ini telah dibaca 1 kali

Baca Lainnya

Bekies Kogoya Desak Bank Papua Segera Aktifkan Operasional Cabang Ilu Jelang Lebaran

18 Maret 2026 - 22:05 WITA

Setahun Mengubah Segalanya: Jejak Nyata Willem Wandik di Tanah Tolikara

17 Maret 2026 - 17:07 WITA

Riset Litbang Kompas: Willem Wandik Jadi Kepala Daerah Paling Banyak Dibicarakan Kedua di Media Sosial Papua

16 Maret 2026 - 14:11 WITA

Bupati Tolikara Willem Wandik Hadiri Rakornas Kepala Daerah 2026, Perkuat Sinergi Pusat dan Daerah Menuju Indonesia Emas

15 Maret 2026 - 19:04 WITA

Dari Hal Kecil Tumbuh Harapan Besar: Kepedulian Willem Wandik terhadap Kreativitas Warga Tolikara

15 Maret 2026 - 12:47 WITA

Dari Tolikara untuk Generasi Papua Pegunungan: Kepedulian Willem Wandik pada Mahasiswa di Tanah Rantau

14 Maret 2026 - 16:45 WITA

Trending di Nasional