SOALINDONESIA—KAIRO — Gagasan besar Menteri Agama RI, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A., tentang pentingnya kesadaran lingkungan berbasis nilai-nilai keagamaan kembali mendapat panggung di level internasional. Pemikiran tersebut menjadi salah satu sorotan dalam seminar bergengsi yang digelar oleh IKAKAS Mesir dalam rangkaian Haul Anregurutta KH. Muhammad As’ad al-Bugisi, Ahad, 5 April 2026 di Kairo.
Mengusung tema “Kontribusi Cinta Lingkungan terhadap Kesehatan Jasmani dan Rohani serta Tinjauan Fikih Kontemporer”, seminar ini menghadirkan sejumlah ulama terkemuka Mesir, di antaranya Prof. Dr. dr. Yusri Rusydi Sayyid Jabr al-Hasani al-Azhari, Prof. Dr. Fathi Abdurrahman Hijazi, dan Prof. Dr. Muhammad Wesam Abbas Khedr.
Dalam pemaparannya, Prof. Yusri Rusydi menekankan bahwa kualitas lingkungan memiliki pengaruh langsung terhadap kesehatan mental dan stabilitas psikologis manusia. Ia menyebut, lingkungan yang bersih dan sehat mampu menghadirkan ketenangan batin yang sangat dibutuhkan di tengah dinamika kehidupan modern.
Sementara itu, para pemateri lainnya mengkaji tema tersebut dari perspektif fikih kontemporer, dengan menegaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab syariat yang relevan dengan tantangan zaman saat ini.
Seminar ini dinilai selaras dengan gagasan ecotheology yang selama ini konsisten disuarakan oleh Prof. Nasaruddin Umar. Konsep tersebut mengintegrasikan ajaran agama dengan upaya pelestarian lingkungan, sekaligus mendorong kesadaran bahwa merawat bumi merupakan bagian dari nilai spiritual dan tanggung jawab keimanan.
Tenaga Ahli Menteri Agama RI bidang Kerja Sama Luar Negeri, Dr. H. Bunyamin M. Yapid, Lc., M.H., mengatakan bahwa perhatian dunia internasional terhadap gagasan tersebut menunjukkan posisi strategis pemikiran keagamaan Indonesia di kancah global.
“Indikasi bahwa Anregurutta sangat dihargai di luar negeri terlihat dari setiap gagasan yang beliau sampaikan, yang selalu menjadi bahan diskusi bahkan diseminarkan di berbagai forum internasional,” ujarnya.
Menurut Bunyamin, upaya memperkenalkan pemikiran tersebut ke dunia internasional merupakan bagian dari kerja diplomasi keagamaan Indonesia.
“Kerja kita adalah menggaungkan pemikiran beliau di luar negeri, dan itu terbukti mendapat respons positif,” tambahnya.
Kegiatan ini turut dihadiri Ketua Tanfidziyah PCNU Mesir, Ustadz Nur Fuad Shofiyulloh, Lc., M.A., perwakilan PPMI Mesir, serta peserta dari berbagai negara. Dukungan juga datang dari para pembina IKAKAS Mesir, termasuk Dr. Bunyamin Yapid yang berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan.
Ketua IKAKAS Mesir, Luqman Ali, menyampaikan bahwa seminar ini menjadi salah satu forum intelektual paling bergengsi yang pernah diselenggarakan, sekaligus menjadi langkah awal untuk memperkuat peran komunitas diaspora dalam diskursus keilmuan dan keagamaan di tingkat global.
Dengan antusiasme peserta dan relevansi tema yang diangkat, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan kajian keislaman yang responsif terhadap isu-isu global, khususnya dalam bidang lingkungan hidup.











