Soalindonesia–DELI-SERDANG — Aksi protes tak biasa dilakukan siswa-siswi SMP Negeri 1 Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang. Puluhan paket Makanan Bergizi Gratis (MBG) dibuang ke tengah jalan di depan sekolah pada Kamis (30/4/2026), sebagai bentuk kekecewaan terhadap kualitas makanan yang dinilai tidak layak konsumsi.
Aksi tersebut dipicu oleh dugaan bahwa makanan yang dibagikan kepada siswa sudah dalam kondisi basi saat hendak dikonsumsi. Peristiwa ini pun menjadi sorotan publik karena menyangkut pelaksanaan program pemenuhan gizi bagi pelajar.
Diduga Akibat Perubahan Jadwal Distribusi
Berdasarkan keterangan dari Dinas Kesehatan Deli Serdang, insiden ini diduga berkaitan dengan perubahan jadwal pembagian makanan.
Ketua Tim Kerja Kesehatan Lingkungan, Veronica Margaret, menjelaskan bahwa paket makanan tersebut dimasak sejak pagi hari, namun baru dikonsumsi kemudian karena adanya penyesuaian jadwal.
“Karena dari pagi dimasak, pastinya sudah basi saat dikonsumsi,” ujarnya.
Penyesuaian ini dilakukan karena hari Jumat berikutnya merupakan hari libur nasional, sehingga distribusi makanan dimajukan ke hari Kamis oleh pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Respons BGN Sumut
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) wilayah Sumatera Utara, T Agung Kurniawan, membenarkan adanya indikasi makanan yang kurang layak. Namun, ia menyayangkan tindakan para siswa yang membuang makanan ke jalan.
Menurutnya, pihak penyedia makanan telah menawarkan penggantian paket yang bermasalah, namun tidak diterima oleh pihak sekolah.
“Siswa-siswi itu yang buang makanan, masa iya SPPG disalahkan,” ujarnya.
Meski demikian, pihak BGN menyatakan belum dapat menjatuhkan sanksi kepada penyedia makanan sebelum hasil uji laboratorium keluar.
Investigasi Terkendala Sampel
Di sisi lain, proses investigasi kini mengalami kendala. Dinas Kesehatan Deli Serdang mengaku kesulitan melakukan pengujian laboratorium karena seluruh sampel makanan telah dibuang oleh siswa.
“Bagaimana mau dicek sampel makanannya kalau sudah terbuang semua,” kata Veronica.
Akibatnya, hingga saat ini belum dapat dipastikan secara ilmiah tingkat kelayakan atau kebusukan makanan yang dibagikan.
Evaluasi Program MBG
Hingga kini, pihak BGN Sumatera Utara masih melakukan koordinasi dengan sekolah terkait langkah penanganan lanjutan. Meskipun belum ada laporan keracunan massal dari sekolah lain, insiden ini menjadi catatan penting dalam pelaksanaan program MBG.
Peristiwa tersebut dinilai menunjukkan perlunya pengawasan lebih ketat terhadap kualitas makanan, mulai dari proses produksi, distribusi, hingga waktu konsumsi di lapangan.
Selain itu, kejadian ini juga membuka ruang evaluasi terhadap mekanisme komunikasi antara penyedia layanan, sekolah, dan siswa, agar penanganan masalah dapat dilakukan lebih cepat tanpa menimbulkan polemik.
Pemerintah diharapkan dapat memperbaiki sistem distribusi dan pengawasan program MBG, sehingga tujuan utama meningkatkan gizi dan kesehatan pelajar dapat tercapai secara optimal tanpa mengabaikan aspek kualitas dan keamanan pangan.











