Soalindonesia–JAKARTA — CEO Rosan Roeslani mengungkapkan kebutuhan investasi untuk pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di DKI Jakarta diperkirakan mencapai USD 1 miliar atau setara sekitar Rp 17,39 triliun.
Dalam keterangannya, Rosan menjelaskan bahwa pembangunan PSEL dengan kapasitas 1.000 ton sampah per hari membutuhkan dana sekitar Rp 2 triliun. Sementara itu, proyek di Jakarta dirancang memiliki kapasitas jauh lebih besar, yakni minimal 8.000 ton per hari.
“Kalau kapasitas 8.000 ton, investasinya kurang lebih USD 1 billion. Bahkan bisa lebih, karena kita mempertimbangkan pembangunan hingga 10.000 sampai 12.000 ton per hari untuk mengolah sampah lama,” ujarnya di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Senin (4/5).
Fokus Atasi Penumpukan Sampah
Rosan menekankan peningkatan kapasitas ini penting untuk menangani penumpukan sampah lama di TPST Bantargebang. Dengan teknologi terbaru, fasilitas PSEL nantinya mampu mengolah sampah lama maupun baru tanpa proses pemilahan yang rumit.
Beberapa lokasi yang dipertimbangkan untuk pembangunan antara lain kawasan Bantargebang dan Sunter. Namun, pemerintah masih akan melakukan kajian untuk menentukan lokasi paling efisien dan cepat direalisasikan.
“Targetnya, kalau semua proses berjalan lancar, awal 2028 fasilitas ini sudah bisa beroperasi,” jelasnya.
Listrik Dijual ke PLN
Listrik yang dihasilkan dari PSEL nantinya akan disalurkan ke Perusahaan Listrik Negara (PLN). Pemerintah telah menetapkan skema tarif penjualan listrik sebesar USD 20 sen per kWh.
Ketentuan tersebut mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan melalui Pengolahan Sampah menjadi Energi Terbarukan berbasis teknologi ramah lingkungan.
Dengan proyek ini, pemerintah berharap persoalan sampah di Jakarta dapat teratasi sekaligus mendorong pemanfaatan energi terbarukan dari limbah perkotaan.











