Soalindonesia–JAKARTA – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Kementerian Agama (Kemenag) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) memiliki peran yang saling melengkapi dalam membangun kehidupan beragama di Indonesia. Pemerintah, kata dia, menjalankan fungsi pelayanan serta tata kelola kehidupan beragama, sementara MUI memberikan pandangan keagamaan yang menjadi rujukan umat.
Pernyataan tersebut disampaikan Menag saat menghadiri Silaturahmi Nasional Ukhuwah Islamiyah MUI di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, Senin (29/6/2026).
Dalam kesempatan itu, Nasaruddin Umar mengajak MUI untuk terus memperkuat perannya sebagai penjaga nilai-nilai dasar ajaran Islam sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun kehidupan keagamaan yang harmonis, moderat, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
Menurutnya, MUI memiliki otoritas moral dan keilmuan yang sangat penting dalam memastikan berbagai kebijakan maupun dinamika sosial tetap berada dalam koridor nilai-nilai dasar ajaran Islam.
“Selama masih ada MUI, saya yakin hal-hal yang bertentangan dengan ajaran dasar Islam tidak akan mudah lolos. Di situlah pentingnya peran MUI,” ujar Nasaruddin Umar.
Menag juga mengingatkan pentingnya membedakan antara ajaran yang bersifat prinsip atau tsawabit dengan persoalan yang masih terbuka untuk ijtihad. Menurutnya, ruang dialog, kajian, dan penafsiran tetap diperlukan selama tidak menyentuh prinsip-prinsip pokok agama.
“Kita tidak boleh menawar ajaran dasar, tetapi dalam persoalan ijtihadi ruang diskusi tetap terbuka,” katanya.
Bahasa Agama Jadi Kunci Keberhasilan Pembangunan
Lebih lanjut, Menag menilai keberhasilan pembangunan nasional tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga memerlukan dukungan para ulama, tokoh agama, dan organisasi keagamaan agar mampu membangun partisipasi aktif masyarakat.
Menurutnya, pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa berbagai program pemerintah akan lebih mudah diterima apabila memperoleh legitimasi dan dukungan dari para pemuka agama.
Sebagai contoh, ia menyinggung keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) yang semakin diterima masyarakat setelah melibatkan ulama dalam proses sosialisasi.
“Agama sangat penting memberikan motivasi bagi suksesnya pembangunan. Tanpa bahasa agama, sulit memperoleh partisipasi sepenuh hati dari masyarakat,” ujarnya.
Nasaruddin Umar menambahkan, Indonesia memiliki modal sosial yang kuat melalui kolaborasi antara pemerintah dan organisasi keagamaan. Sinergi tersebut dinilai menjadi kekuatan penting dalam menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus memperkuat ukhuwah Islamiyah, menjaga kerukunan antarumat beragama, serta membangun kehidupan keagamaan yang moderat, inklusif, dan memberikan manfaat nyata bagi kemajuan Indonesia.
Menurut Menag, kolaborasi yang erat antara pemerintah dan MUI merupakan salah satu fondasi utama dalam menjaga harmoni sosial sekaligus mendukung keberhasilan pembangunan nasional yang berkelanjutan.











