Menu

Mode Gelap

News · 24 Okt 2025 00:03 WITA

Danantara Terbang ke China Bahas Restrukturisasi Utang Kereta Cepat Whoosh, Purbaya: “Top, Selesaikan Secara Bisnis!”


 Danantara Terbang ke China Bahas Restrukturisasi Utang Kereta Cepat Whoosh, Purbaya: “Top, Selesaikan Secara Bisnis!” Perbesar

SOALINDONESIA–JAKARTA Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) akan melakukan negosiasi lanjutan di China terkait penyelesaian utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh. Langkah ini disambut positif oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang menilai penyelesaian secara business to business (B2B) adalah langkah tepat tanpa harus melibatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Itu saja. Bagus. Saya enggak ikut kan? Top!” ujar Purbaya sambil mengacungkan jempol, di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (23/10/2025) malam.

Penyelesaian Utang Tanpa APBN

Purbaya menegaskan kembali sikapnya bahwa pemerintah tidak akan menalangi utang proyek Kereta Cepat Whoosh menggunakan dana APBN. Ia menilai langkah Danantara dan tim negosiasi untuk mencari solusi murni secara bisnis merupakan progres yang positif.

“Kalau mereka sudah putus (memutuskan solusinya) kan sudah bagus. Sebisa mungkin (Menkeu) enggak ikut, biar saja mereka selesaikan business to business. Jadi top,” tegasnya.

Saat ditanya mengenai arahan khusus, Purbaya menyebut dirinya hanya berpegang pada prinsip yang sama sejak awal: APBN tidak boleh dijadikan penyelamat proyek komersial.

READ  Menkeu Purbaya: Proyek Kereta Cepat Whoosh Dorong Ekonomi Daerah Sekitar, Bukan Lagi Beban Fiskal Negara

“Seperti kemarin-kemarin, saya enggak ikut campur. Solusinya sudah bagus, mereka sudah dapat kesepakatan. Saya enggak ikut, bagus,” tuturnya.

Danantara Siapkan Formula Baru

Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan pihaknya masih mengkaji berbagai formula penyelesaian utang proyek Kereta Cepat Whoosh. Salah satu opsi yang tengah dikaji adalah penyelesaian tanpa menggunakan dana APBN.

“Menurut saya, kita terjebak sama perdebatan itu (pakai APBN atau tidak). Kami masih mencari opsi terbaik, dan belum tentu pakai itu (APBN),” jelas Dony.

Ia menambahkan, keputusan final akan ditentukan setelah pembahasan lintas lembaga, termasuk pemerintah, BUMN, dan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

“Yang paling penting adalah bagaimana kereta cepat Whoosh ini tetap bisa beroperasi dengan baik dan berkelanjutan,” tegasnya.

Misi ke China: Bahas Restrukturisasi Pinjaman

Dony mengonfirmasi bahwa tim Danantara akan segera berangkat ke China untuk membahas restrukturisasi utang dengan para kreditur, termasuk China Development Bank (CDB).

“Kami akan berangkat lagi ke China untuk bernegosiasi mengenai term dan pinjaman. Ini berkaitan dengan jangka waktu pinjaman, suku bunga, dan juga beberapa mata uang yang akan didiskusikan,” ujarnya.

READ  KCIC Batalkan 8 Perjalanan Whoosh Pasca Gempa Bekasi, Penumpang Dapat Refund 100%

Negosiasi tersebut diperkirakan akan fokus pada restrukturisasi tenor dan bunga pinjaman, agar beban utang tidak mengganggu stabilitas keuangan proyek dan perusahaan BUMN terkait.

Beban Utang Menumpuk di Konsorsium KCIC

Proyek Kereta Cepat Whoosh dijalankan oleh konsorsium BUMN PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang terdiri dari PT KAI, PT Wijaya Karya, PT PTPN VIII, dan PT Jasa Marga, bersama mitra dari China melalui PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

Menurut catatan, China Development Bank (CDB) telah mencairkan utang senilai Rp 6,89 triliun pada awal 2024 untuk menutup pembengkakan biaya proyek.

Rinciannya:

Fasilitas A: USD 230,9 juta atau sekitar Rp 3,6 triliun (kurs Rp 15.635 per USD)

Fasilitas B: CNY 1,54 miliar atau sekitar Rp 3,39 triliun

Pinjaman tersebut digunakan untuk menutupi kelebihan biaya konstruksi dan operasional yang muncul selama pembangunan proyek KCJB.

Arah Baru Pendanaan Proyek Strategis

Pemerintah kini mendorong agar penyelesaian proyek infrastruktur strategis dilakukan dengan prinsip efisiensi dan keberlanjutan bisnis. Purbaya menegaskan, proyek seperti kereta cepat seharusnya dikelola secara profesional tanpa selalu bergantung pada APBN.

READ  Menkeu Purbaya Fokus Berantas Impor Ilegal di Pelabuhan: “Saya Nggak Akan ke Pasarnya”

“Kita dorong penyelesaian yang sehat secara bisnis. Kalau bisa dituntaskan tanpa APBN, itu jauh lebih baik dan transparan,” ujar Purbaya.

Sementara itu, Danantara memastikan akan tetap menjaga kinerja operasional Whoosh tetap optimal, sekaligus mencari solusi pendanaan jangka panjang yang menguntungkan semua pihak.

Latar Belakang: Siapa Itu Danantara?

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) merupakan lembaga pengelola investasi nasional yang baru dibentuk pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Danantara berfungsi mengoptimalkan investasi strategis nasional, termasuk pengelolaan proyek BUMN berskala besar seperti kereta cepat, energi, dan infrastruktur digital.

Kesimpulan Berita:

Danantara akan berangkat ke China untuk negosiasi restrukturisasi utang KCJB.

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mendukung penyelesaian murni secara B2B tanpa APBN.

Utang proyek Whoosh mencapai Rp 6,89 triliun, sebagian besar dari China Development Bank (CDB).

Danantara mencari opsi terbaik agar proyek tetap beroperasi efisien dan berkelanjutan.

Artikel ini telah dibaca 11 kali

Baca Lainnya

Willy Aditya Guyon Soal “Merger” NasDem–Gerindra di Rapat DPR

13 April 2026 - 14:47 WITA

Wacana Pengambilalihan PNM dan Whoosh oleh Kemenkeu Dikritik Ekonom

13 April 2026 - 14:37 WITA

Rupiah Melemah ke Rp17.135 per Dolar AS, Imbas Ketegangan Iran–AS Meningkat

13 April 2026 - 14:20 WITA

Jokowi Bantah Isu Caplok Partai NasDem: “Tidak Ada Sama Sekali”

13 April 2026 - 14:13 WITA

Ceramah JK di UGM Berujung Laporan Polisi, Ini Isi dan Penjelasannya

13 April 2026 - 14:08 WITA

Kaesang Pangarep: PSI Kebut Mesin Politik, Target Siap “Perang” di Pemilu 2029

12 April 2026 - 19:24 WITA

Trending di News