Menu

Mode Gelap

Nasional · 29 Agu 2025 00:47 WITA

Menag Nasaruddin Umar: Tafsir Agama Harus Jadi Perekat Bangsa, Bukan Pemisah


 Menag Nasaruddin Umar: Tafsir Agama Harus Jadi Perekat Bangsa, Bukan Pemisah Perbesar

SOALINDONESIA–YOGYAKARTA Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya menafsirkan ajaran agama dengan berpijak pada budaya dan realitas sosial masyarakat Indonesia yang majemuk. Menurutnya, tafsir agama harus hadir sebagai sumber kedamaian dan perekat bangsa, bukan sebagai pemisah antarumat.

Pesan tersebut disampaikan Menag saat memberikan sambutan dalam Konferensi Mufassir Muhammadiyah (KMM) ke-3 yang digelar Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah di Yogyakarta, Kamis (28/8/2025). Dalam kesempatan itu, Menag membawakan materi tentang “Metodologi Tafsir Al-Qur’an Transformatif”.

“Sejauh ini, kita sering melihat agama diajarkan sebagai batas pembeda antar manusia, sehingga berpotensi memisahkan. Padahal, agama harus kita pahami sebagai perekat bangsa, bukan sumber perbedaan yang menimbulkan sekat,” tegas Menag.

READ  Persiapan Haji 2026: DPR dan Pemerintah Bahas RUU Haji, BP Haji Tunggu Dasar Hukum

Tafsir Berorientasi Persatuan

Nasaruddin menekankan bahwa Indonesia adalah bangsa plural dengan keragaman suku, budaya, dan agama. Karena itu, tafsir agama sebaiknya berorientasi sentripetal (menyatukan), bukan sentrifugal (memecah belah).

Ia juga menyinggung pentingnya memahami keterikatan manusia dengan dua hukum sekaligus, yakni hukum takwini (hukum alam) dan hukum tasyri’i (syariat agama). Keduanya, kata dia, dalam praktik sering terlihat berbeda, bahkan bertentangan, namun harus dipahami secara bijak demi kemaslahatan umat.

“Ada kalanya hukum alam perlu didahulukan, ada kalanya syariat yang utama. Kuncinya adalah melihat maslahat umat,” ujarnya.

READ  Presiden Prabowo Akui Masih Ada Kebocoran Anggaran Pendidikan di RAPBN 2026

Pentingnya Ushul Fiqh

Dalam ceramahnya, Menag mengingatkan para dai dan pendakwah agar tidak hanya berhenti pada pemahaman fiqh, tetapi juga mendalami ushul fiqh. Ia mengibaratkan mempelajari fiqh tanpa ushul fiqh seperti memanjat pohon hanya berpegang pada ranting tanpa memegang batangnya.

“Tentu sangat rentan jatuh, karena tidak memiliki pegangan yang kuat,” tambahnya.

Segitiga Beragama

Lebih lanjut, Menag menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dalam apa yang ia sebut sebagai “segitiga beragama”, yang terdiri dari teologi, ethos, dan logos. Teologi menjadi fondasi keyakinan, ethos menjiwai perilaku keberagamaan sehari-hari, sementara logos memberi kerangka rasional serta argumentasi ilmiah.

READ  Gempa Magnitudo 5,9 Guncang Keerom, Papua: Belum Ada Laporan Kerusakan

“Jika ketiganya berjalan seimbang, maka agama tidak hanya menjadi pedoman ibadah, tetapi juga sumber nilai yang menyatukan bangsa, menebarkan kasih, dan menguatkan peradaban,” pungkasnya.

Konferensi ini juga menghadirkan sejumlah tokoh nasional, termasuk Din Syamsuddin, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, serta dihadiri para mufassir dan akademisi lintas kalangan.

Artikel ini telah dibaca 14 kali

Baca Lainnya

Di Tengah Perbedaan, Willem Wandik dan Elisabeth Flassy Hadir Membawa Kebahagiaan Idul Adha bagi Umat Muslim Tolikara

30 Mei 2026 - 15:23 WITA

Elisabeth Y. Flassy Wandik Menembus Pelosok Douw, Membawa Harapan bagi Generasi Emas Papua Pegunungan,”

30 Mei 2026 - 13:03 WITA

Dari Padangloang ke Baitullah, Hj Hasna Apae Menutup Perjalanan Hidupnya dengan Gelar Haji,TA Menag RI Sampaikan Belasungkawa

29 Mei 2026 - 20:41 WITA

Bupati Tolikara Salurkan Bantuan Hewan Qurban di Masjid Raya Tolikara dan Kota Jayapura

27 Mei 2026 - 12:11 WITA

WW Foundation Salurkan 2 Ekor Sapi Qurban di Hari Raya Idul Adha 1447 H

26 Mei 2026 - 21:44 WITA

Willem Wandik: Momentum Hari Kebangkitan Nasional Jadi Energi Baru Pembangunan Papua Pegunungan

20 Mei 2026 - 12:52 WITA

Trending di Nasional