Menu

Mode Gelap

Nasional · 14 Agu 2025 22:49 WITA

Menag: Cegah Intoleransi Butuh Lebih dari Sekadar Undang-Undang


 Menag: Cegah Intoleransi Butuh Lebih dari Sekadar Undang-Undang Perbesar

SOALINDONESIA–JAKARTA Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pencegahan intoleransi membutuhkan pendekatan yang lebih mendasar dibandingkan sekadar mengandalkan peraturan pemerintah atau undang-undang.

Pernyataan itu ia sampaikan saat menerima audiensi Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) di Ruang VVIP Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Kamis (14/8/2025).

“Sekalipun ada undang-undang yang paling baik pun juga, itu bukan jaminan. Ada hal yang sangat mendasar, yaitu rasa cinta kepada sesama manusia, cinta kepada Tuhan, dan cinta kepada alam. Maka kami kembangkan Kurikulum Berbasis Cinta,” ujar Nasaruddin.

Menurutnya, regulasi memang penting, namun perubahan perilaku masyarakat tidak cukup hanya dengan aturan formal.

READ  Minta Maaf, Menag Jelaskan Upaya Pemerintah Sejahterakan Guru

“Tidak mungkin kita bisa merubah perilaku masyarakat tanpa merubah sistem etika masyarakat. Dan tidak mungkin kita bisa merubah etika masyarakat tanpa merubah sistem teologinya,” tegasnya.

Menag juga memaparkan konsep ekoteologi yang tengah dikembangkan Kementerian Agama, menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.

“Kalau ini sudah disetarakan, kita tidak melihat orang lain sebagai orang lain, tapi sebagai diri kita sendiri. Bahkan alam semesta pun bagian dari diri kita,” ujarnya.

Ketua Umum PIKI, Badikenita Sitepu, menyambut positif pandangan Menag dan menegaskan bahwa pihaknya menempatkan keutuhan bangsa di atas perbedaan mayoritas-minoritas.

READ  Menkop Ferry Juliantono Dorong Swasta dan BUMN Jadi “Kakak Asuh” Koperasi Desa Merah Putih

“Bagi kami, keutuhan dan keharmonisan bangsa harus menjadi tujuan utama. Apapun yang bisa kita lakukan bersama untuk mewujudkannya, termasuk mempererat hubungan dengan alam, akan kami dukung penuh,” kata Badikenita.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas iman. “Kami sudah bergabung dengan berbagai organisasi cendekiawan lintas agama.

Kami percaya, dialog dan kerja sama berkelanjutan adalah jalan terbaik untuk menumbuhkan rasa saling percaya dan cinta kepada sesama,” tambahnya.

Menag Nasaruddin mengingatkan bahaya pembelajaran agama yang menanamkan kebencian terhadap pihak berbeda. Ia menekankan pentingnya pendidikan yang menumbuhkan saling menghargai sejak usia dini.

READ  Mensos Gus Ipul Laporkan Perkembangan Program Sekolah Rakyat ke Presiden Prabowo

“Mengajarkan kebencian bukan mengajarkan agama. Kita ingin generasi yang tumbuh dalam lingkup saling percaya satu sama lain,” jelasnya.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan merupakan ancaman serius.

“Kalau alam ini tidak damai dengan kita, kiamat akan datang lebih awal. Karena itu, krisis kemanusiaan dan krisis lingkungan harus diatasi bersama,” pungkas Menag.

Artikel ini telah dibaca 7 kali

Baca Lainnya

Puspenma Siapkan 1.900 Beasiswa 2026, Dorong Dosen PTK Tempuh Studi Doktor dan Perkuat Riset

28 Februari 2026 - 21:43 WITA

Satgas PRR Targetkan Seluruh Pengungsi Pascabencana Sumatera Direlokasi Sebelum Idulfitri 2026

28 Februari 2026 - 21:28 WITA

AS dan Israel Serang Iran, Presiden Prabowo Siap Fasilitasi Dialog

28 Februari 2026 - 21:02 WITA

BGN Hentikan Sementara 47 SPPG hingga Hari ke-9 Ramadhan, Temukan Menu MBG Tak Layak Konsum

28 Februari 2026 - 20:41 WITA

Kepala BGN: 93 Persen Anggaran Rp268 Triliun Dialokasikan untuk Program Makan Bergizi

28 Februari 2026 - 20:29 WITA

Bupati Tolikara Serahkan DPA 2026, Tandai Dimulainya Pelaksanaan APBD Rp1,64 Triliun

28 Februari 2026 - 15:22 WITA

Trending di Nasional