SOALINDONESIA–JAKARTA Anggota Komisi VIII DPR RI, Aprozi Alam, mendesak pemerintah mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ia menegaskan, kehadiran negara tidak berhenti pada penanganan darurat, tetapi harus berlanjut hingga tahap pemulihan jangka panjang.
“Pemerintah perlu mempercepat rehabilitasi infrastruktur publik yang rusak—jembatan, jalan, sekolah—serta membantu masyarakat membangun kembali rumah mereka,” ujar Aprozi dalam keterangan pers, Minggu (30/11/2025).
Dorong Evaluasi Tata Ruang dan Penguatan Sistem Peringatan Dini
Aprozi juga menyoroti perlunya evaluasi menyeluruh terhadap tata ruang di daerah rawan bencana. Dia meminta penegakan hukum terkait alih fungsi lahan di hutan dan daerah aliran sungai (DAS) dilakukan secara tegas.
Selain itu, ia menekankan pentingnya memperkuat sistem peringatan dini. “Investasi dan pemeliharaan early warning system untuk banjir dan longsor harus ditingkatkan agar warga memiliki waktu evakuasi lebih lama,” katanya.
Menurutnya, mitigasi tidak cukup hanya dengan infrastruktur; edukasi kebencanaan berbasis komunitas juga harus diperluas hingga tingkat desa.
“Masyarakat di wilayah rawan harus menjadi garda terdepan. Kita tidak bisa hanya mengandalkan respons darurat. Pencegahan dan kesiapsiagaan adalah kunci meminimalkan korban jiwa dan kerugian material,” tegas dia.
Komisi VIII Siap Kawal Pemulihan
Aprozi memastikan Komisi VIII DPR RI berkomitmen mendukung kebijakan dan anggaran yang berpihak pada pengurangan risiko bencana. Dia menyampaikan bahwa komunikasi dengan BNPB dan Kementerian Sosial terus dilakukan untuk memastikan percepatan bantuan kepada masyarakat terdampak banjir.
“Kami akan mengawal sepenuhnya agar percepatan bantuan benar-benar dirasakan warga,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan doa dan dukacita mendalam bagi para korban bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar. “Semoga para korban yang meninggal diterima di sisi-Nya, dan mereka yang luka-luka segera pulih. Kepada relawan dan tenaga medis, kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya. Semoga Allah SWT memberikan perlindungan dan kekuatan,” ucapnya.
303 Korban Jiwa, Ribuan Warga Mengungsi
BNPB melaporkan total 303 korban meninggal dunia akibat banjir dan longsor besar yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Data tersebut dihimpun pada hari ketiga status tanggap darurat.
Rinciannya:
Aceh: 47 meninggal, 51 hilang, 8 luka-luka, dan 48.887 KK mengungsi.
Sumatera Barat: 90 meninggal, 85 hilang, 10 luka-luka, serta 11.820 KK atau sekitar 77.918 jiwa mengungsi.
Sumatera Utara: 166 meninggal dan 143 hilang, dengan dampak terbesar di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga.
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, mengatakan operasi penanganan darurat difokuskan pada pencarian korban hilang, pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, dan pembukaan akses wilayah terisolasi. Distribusi logistik dilakukan melalui jalur darat maupun udara.
“BNPB memastikan penanganan darurat dipercepat melalui koordinasi dengan pemda, TNI, Polri, dan para relawan,” ujarnya.
Hujan Ekstrem Picu Kerusakan Meluas
Banjir dan longsor terjadi setelah hujan ekstrem mengguyur berbagai wilayah pada 24–26 November 2025. Di sejumlah kabupaten di Sumut, seperti Tapanuli Tengah dan Selatan, serta Kota Sibolga, desa-desa terendam dan sejumlah jembatan terputus.
Di Aceh dan Sumbar, longsor dari perbukitan merusak permukiman dan menyeret rumah-rumah di tepi sungai. Akses listrik, jaringan telekomunikasi, dan infrastruktur vital banyak yang rusak, membuat proses evakuasi berlangsung lebih menantang.











