Soalindonesia–LimapuluhKota Lubang besar runtuh atau sinkhole yang muncul di area persawahan Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, menarik perhatian warga. Sinkhole yang muncul sejak Minggu, 4 Januari 2026, tersebut mengeluarkan air jernih yang tampak berwarna biru saat difoto.
Fenomena alam ini membuat banyak warga dan pengunjung penasaran. Bahkan, beberapa orang sempat mengambil dan meminum air dari dalam lubang untuk memastikan kondisi fisiknya. Air tersebut terlihat bening dan tidak berbau, meski pihak berwenang tetap mengimbau masyarakat untuk berhati-hati.
Proses Terjadi Secara Bertahap
Badan Geologi menyatakan, kemunculan sinkhole di Kabupaten Limapuluh Kota tidak terjadi secara mendadak, melainkan melalui proses alamiah yang berlangsung perlahan. Sinkhole terbentuk akibat erosi buluh pada batuan berbutir halus yang dipicu oleh curah hujan tinggi.
“Sudah kita lihat tadi, air dalam sinkhole bening dan bersih. Mungkin warna biru karena pengaruh cahaya dari atas,” ujar Kepala Bidang Geologi Dinas ESDM Sumatera Barat, Inzudd, dikutip dari Antara Sumbar, Rabu (7/1/2026).
Tekanan Air Bawah Tanah
Ahli Geologi Sumatera Barat, Ade Edwar, menjelaskan bahwa air yang keluar dari sinkhole disebabkan oleh tekanan air tanah di dalam rongga bawah permukaan.
“Di bawah itu kan berongga dan air yang ada menekan naik ke atas sehingga debit air jadi naik,” kata Ade, dikutip dari Kompas.com, Jumat (9/1/2026).
Menurut Ade, lokasi sinkhole di Limapuluh Kota tersusun atas formasi batuan kapur, yang berpengaruh terhadap perubahan debit dan tampilan warna air.
Terkait air yang tampak jernih namun kebiruan saat difoto, Ade menyebut hal tersebut merupakan fenomena wajar.
“Batu kapur sifatnya menjernihkan air, maka air yang muncul adalah air jernih, bukan keruh,” jelasnya.
Dipengaruhi Musim Hujan
Ade menambahkan, kenaikan volume air di dalam sinkhole sangat dipengaruhi oleh hujan lebat yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Ia memperkirakan debit air akan menurun secara alami saat memasuki musim kemarau, kecuali jika lubang tersebut terhubung dengan sumber air permanen.
“Kenapa sekarang airnya naik, itu karena musim penghujan. Jika musim kemarau, dengan sendirinya air akan turun. Tapi ada juga yang permanen, kita lihat saja nanti,” ujar Ade.
Kombinasi Faktor Alam
Sementara itu, Dosen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Eng. Ir. Wahyu Wilopo, menjelaskan bahwa sinkhole terbentuk akibat kombinasi pelarutan batu gamping, erosi material lapuk, dan curah hujan tinggi.
Menurutnya, kemunculan Siklon Tropis Senyar pada November 2025 lalu turut mempercepat proses pembentukan rongga bawah tanah yang akhirnya memicu runtuhan.
Hingga kini, pemerintah daerah bersama instansi terkait masih melakukan pemantauan dan mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati lokasi sinkhole demi menghindari risiko runtuhan lanjutan.











