SOAlINDONESIA—TOLIKARA — Bupati Tolikara, Willem Wandik, S.Sos, memberikan teguran keras terkait kedisiplinan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tolikara. Teguran tersebut disampaikan dalam apel pagi yang digelar pada Senin (2/3/2026), sebagai respons atas rendahnya kehadiran aparatur di sejumlah kantor pelayanan.
Dalam arahannya, Bupati menegaskan bahwa pelayanan publik tidak boleh lumpuh hanya karena pejabat maupun staf tidak berada di tempat saat masyarakat membutuhkan layanan.
“Masyarakat setiap hari datang mencari saya karena saat mereka ke kantor, Kepala Dinas hingga bawahannya tidak ada di tempat. Saya minta kedisiplinan ini ditingkatkan,” tegas Willem Wandik di hadapan peserta apel.
Ia menekankan pentingnya perubahan karakter ASN sebagai fondasi utama dalam mewujudkan visi-misi kepemimpinannya di Kabupaten Tolikara. Menurutnya, disiplin kerja bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi bagian dari pengabdian moral dan spiritual.
“Bekerjalah dengan kesadaran diri, anggaplah kalian mengabdi untuk Yang Maha Kuasa. Datang tepat waktu, pulang tepat waktu. Tuhan melihat kedisiplinan kita. Tuhan akan angkat kita supaya kita mendapat posisi yang strategis dan bisa melayani orang banyak,” ujarnya.
Pelayanan Harus Berbasis Tupoksi
Bupati berharap seluruh ASN bekerja sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) masing-masing agar masyarakat tidak kesulitan memperoleh layanan. Ia juga menginstruksikan setiap organisasi perangkat daerah (OPD) menjadi pusat informasi yang akurat, khususnya terkait peluang kerja yang semakin terbatas akibat kondisi global.
“Kalau kita selalu ada di kantor, kita bisa melayani masyarakat sesuai tupoksi. Jika masyarakat datang mencari informasi kerja, harus diarahkan ke dinas terkait. Bila belum ada kepastian, bisa ke Sekda, Wakil Bupati, atau langsung ke saya,” katanya.
Fokus Pemulihan Citra Tolikara
Selain pembenahan birokrasi, Willem Wandik menegaskan komitmennya menjalankan visi besar “Pemulihan Tolikara”, termasuk menghapus stigma negatif terhadap masyarakat Tolikara yang selama ini kerap dikaitkan dengan citra anarkis maupun kriminal.
“Kita harus kembalikan status kita yang sebenarnya. Orang Tolikara itu ramah dan santun. Ini Tanah Injil, karakter kita harus kembali pada Kristus. Tidak boleh lagi ada warga yang berkeliaran membawa senjata tajam, panah, atau tombak di ibu kota. Itu hanya untuk di medan perang,” tegasnya.
Ia menyebut kondisi Kota Karubaga saat ini semakin kondusif, ditandai dengan berkurangnya aksi mabuk-mabukan serta keributan kendaraan bermotor pada malam hari.
Untuk memperkuat keamanan, Pemerintah Kabupaten Tolikara berencana membangun pos penjagaan di pintu masuk kota yang akan dijaga oleh Satpol PP bersama aparat TNI dan Polri guna melakukan razia terhadap barang-barang terlarang.
ASN Diajak Ikut Gerakan Spiritual
Sebagai bagian dari upaya pemulihan sosial dan spiritual daerah, Bupati juga mengimbau seluruh ASN mengikuti gerakan religius “Puasa Ester” yang telah dimulai sejak Minggu (1/3/2026). Kegiatan tersebut diikuti jajaran OPD, pimpinan gereja, hingga pemuda jemaat di wilayah Tolikara.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak hanya bertumpu pada kebijakan pemerintahan, tetapi juga pembenahan moral dan spiritual masyarakat serta aparatur negara.
Dengan penegasan disiplin ASN dan penguatan nilai spiritual, Pemerintah Kabupaten Tolikara berharap pelayanan publik semakin optimal sekaligus menghadirkan wajah baru Tolikara yang aman, tertib, dan humanis.











