Menu

Mode Gelap

Nasional · 12 Apr 2026 19:34 WITA

Rencana PNM Jadi Bank UMKM Dikritik, Dinilai Tak Selesaikan Akar Masalah KUR


 Rencana PNM Jadi Bank UMKM Dikritik, Dinilai Tak Selesaikan Akar Masalah KUR Perbesar

Soalindonesia–JAKARTA Rencana Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk mengubah PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menjadi bank khusus UMKM menuai sorotan dari kalangan ekonom. Kebijakan tersebut dinilai belum menyentuh akar persoalan dalam penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Rencana ini akan dijalankan setelah Kementerian Keuangan mengambil alih PNM dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), yang selama ini menjadi tulang punggung penyaluran KUR nasional.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menilai perubahan bentuk kelembagaan tidak otomatis menyelesaikan masalah mendasar.

“Persoalan utama bukan pada lembaga penyalur, melainkan pada kualitas permintaan kredit dan desain intermediasi,” ujarnya.

Menurut Rizal, keterbatasan akses UMKM terhadap KUR bukan semata akibat ketatnya seleksi perbankan. Ia menyoroti sejumlah faktor struktural, seperti lemahnya informasi kredit, tingginya tingkat informalitas usaha, serta keterbatasan kapasitas pelaku UMKM.

“Artinya, mengganti atau menambah institusi tidak otomatis memperbaiki targeting, bahkan berisiko menciptakan duplikasi dan inefisiensi kelembagaan,” tegasnya.

READ  Menkeu Purbaya Siap Tarik Anggaran MBG, Dapat Dukungan Ekonom Meski Ditolak Luhut

Ia menambahkan, sikap selektif bank seperti BRI merupakan bagian dari prinsip kehati-hatian untuk menjaga kualitas aset. Jika penyaluran kredit dipaksakan longgar tanpa perbaikan fundamental, risiko kredit bermasalah (NPL) justru berpotensi meningkat.

“Jadi problemnya bukan BRI terlalu ketat, tetapi ekosistem pembiayaan UMKM yang belum siap menyerap kredit secara sehat,” kata Rizal.

Perlu Reformasi Menyeluruh

Rizal menilai solusi utama terletak pada reformasi menyeluruh terhadap arsitektur KUR. Beberapa langkah yang diusulkan antara lain integrasi data UMKM, pengembangan sistem penilaian kredit alternatif, serta penguatan sinergi antara PNM, BRI, dan koperasi.

Selain itu, ia menekankan pentingnya menggeser target dari sekadar kuantitas penyaluran menjadi kualitas pembiayaan.

“Tanpa itu, bank UMKM baru hanya akan meningkatkan distribusi secara nominal, tetapi tidak menyelesaikan akar masalah, bahkan berpotensi menambah risiko sistemik dan beban fiskal,” ujarnya.

READ  Presiden Prabowo Subianto Sampaikan Salam Hormat untuk Presiden UEA MBZ Saat Resmikan RS Kardiologi Emirates-Indonesia

Pandangan Berbeda

Sementara itu, pengamat perbankan Trioksa Siahaan menilai rencana perubahan PNM menjadi bank memiliki potensi positif, terutama dalam memperluas akses pembiayaan bagi segmen mikro dan ultra mikro yang selama ini belum terlayani optimal.

Namun, ia mengingatkan bahwa status sebagai bank akan membuat PNM tunduk pada regulasi ketat, termasuk dalam pengelolaan risiko kredit.

“PNM nantinya akan menghadapi tantangan yang sama seperti bank lain, termasuk soal risiko kredit dan persyaratan agunan,” ujarnya.

Trioksa bahkan menilai model bisnis PNM saat ini sudah tepat dan tidak perlu diubah menjadi bank umum.

“Menurut saya tetap saja menjadi PNM, model bisnis tidak perlu diubah,” katanya.

Strategi Pemerintah

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan rencana menjadikan PNM sebagai penyalur utama KUR di masa depan. Skema ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah dalam memperbaiki efektivitas pembiayaan UMKM.

READ  Selesai I’tikaf dan Idulfitri, Bunyamin Yapid Kembali Lanjutkan Misi Pelayanan Jamaah

Ia menyebut pemerintah akan melakukan penyuntikan modal secara bertahap untuk membangun bank UMKM dengan kapasitas besar.

“Kalau saya injeksi setiap tahun Rp40 triliun selama 4–5 tahun, maka akan terbentuk bank dengan modal hingga Rp200 triliun. Itu sudah menjadi bank besar,” jelas Purbaya.

Menurutnya, langkah tersebut diambil karena penyaluran KUR selama ini dinilai belum tepat sasaran. Ia juga menyoroti masih adanya keluhan dari pelaku UMKM terkait sulitnya mengakses pembiayaan.

“Banyak yang komplain KUR susah, yang dapat itu-itu saja. Ini yang harus kita benahi,” ujarnya.

Meski demikian, perdebatan terkait efektivitas kebijakan ini masih terus berlangsung. Sejumlah pihak menilai pembentukan bank UMKM baru bukan solusi instan, melainkan perlu diiringi pembenahan menyeluruh terhadap ekosistem pembiayaan agar benar-benar berdampak pada peningkatan produktivitas UMKM nasional.

Artikel ini telah dibaca 9 kali

Baca Lainnya

Di Tengah Perbedaan, Willem Wandik dan Elisabeth Flassy Hadir Membawa Kebahagiaan Idul Adha bagi Umat Muslim Tolikara

30 Mei 2026 - 15:23 WITA

Elisabeth Y. Flassy Wandik Menembus Pelosok Douw, Membawa Harapan bagi Generasi Emas Papua Pegunungan,”

30 Mei 2026 - 13:03 WITA

Dari Padangloang ke Baitullah, Hj Hasna Apae Menutup Perjalanan Hidupnya dengan Gelar Haji,TA Menag RI Sampaikan Belasungkawa

29 Mei 2026 - 20:41 WITA

Bupati Tolikara Salurkan Bantuan Hewan Qurban di Masjid Raya Tolikara dan Kota Jayapura

27 Mei 2026 - 12:11 WITA

WW Foundation Salurkan 2 Ekor Sapi Qurban di Hari Raya Idul Adha 1447 H

26 Mei 2026 - 21:44 WITA

Willem Wandik: Momentum Hari Kebangkitan Nasional Jadi Energi Baru Pembangunan Papua Pegunungan

20 Mei 2026 - 12:52 WITA

Trending di Nasional