Soalindonesia–JAKARTA — SMAN 1 Pontianak meminta agar final ulang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang digelar MPR RI tidak perlu dilaksanakan.
Pihak sekolah menyatakan menerima hasil perlombaan dan legowo berada di posisi juara kedua dalam kompetisi tersebut.
Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno mengatakan keputusan itu disampaikan langsung oleh pihak sekolah saat berkunjung ke Gedung MPR RI pada Kamis (14/5/2026).
“Kemarin sudah disepakati oleh kepala sekolah dan wakil kepala sekolah SMAN 1 Pontianak ketika mereka berkunjung ke MPR RI yang saya terima juga bersama-sama Pak Hidayat Nur Wahid dan juga diterima oleh Ketua Badan Sosialisasi Empat Pilar MPR Pak Abraham dan Sekjen MPR, sepakat dan mereka meminta agar sudah tidak perlu diulang lagi, mereka SMAN 1 Pontianak sudah legowo untuk menerima posisi dua, juara dua,” kata Eddy kepada wartawan, Jumat (15/5/2026).
Selain menerima hasil lomba, SMAN 1 Pontianak juga menyatakan dukungan kepada SMAN 1 Sambas untuk melaju ke tingkat nasional mewakili Kalimantan Barat.
“Justru mereka akan mendukung SMAN 1 Sambas untuk maju ke tahapan final berikutnya,” ujar Eddy.
Menurutnya, sikap tersebut juga telah dituangkan secara resmi melalui pernyataan terbuka kepada publik dan surat yang dikirimkan kepada Ketua MPR RI Ahmad Muzani.
“Dilanjutkan dengan pernyataan sikap kepada publik oleh SMAN 1 yang juga menyatakan hal yang sama dan kemudian SMAN 1 juga mengirimkan surat kepada Ketua MPR menyatakan hal tersebut,” jelasnya.
Eddy menambahkan, surat dari pihak sekolah itu nantinya akan dibahas dalam Rapat Pimpinan (Rapim) MPR guna menentukan keputusan akhir terkait rencana pelaksanaan final ulang.
“Sehingga nanti pimpinan MPR akan bertemu rapat untuk memutuskan hasil dari surat yang dikirimkan oleh SMAN 1 atas dasar permintaan mereka untuk tidak perlu diulang kembali tahapan lomba pada saat itu,” tuturnya.
Polemik mengenai LCC Empat Pilar tingkat Kalimantan Barat sebelumnya mencuat usai pelaksanaan babak final pada 9 Mei 2026.
Dalam perlombaan tersebut, SMAN 1 Pontianak mendapatkan pengurangan nilai minus lima karena jawaban yang diberikan dinilai kurang jelas secara artikulasi oleh dewan juri.
Sementara itu, SMAN 1 Sambas memperoleh nilai penuh 10 untuk jawaban yang dinilai memiliki kemiripan. Perbedaan penilaian itulah yang kemudian memicu polemik dan sorotan publik terhadap jalannya lomba.











