Menu

Mode Gelap

News · 2 Des 2025 04:32 WITA

BMKG Ungkap Kendala Sistem Peringatan Dini: Aceh Tengah Belum Terpasang Radar Cuaca


 BMKG Ungkap Kendala Sistem Peringatan Dini: Aceh Tengah Belum Terpasang Radar Cuaca Perbesar

SOALINDONESIA–JAKARTA Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menyoroti satu persoalan mendasar yang menjadi hambatan serius dalam sistem peringatan dini bencana di Indonesia. Selain dipicu fenomena Siklon Senyar, bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh dan Sumatera Utara disebut diperburuk oleh minimnya infrastruktur pemantauan cuaca, khususnya radar.

Hal itu disampaikan Teuku Faisal dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Senin (1/12). Ia menjelaskan bahwa radar cuaca memegang peranan krusial untuk mendeteksi intensitas awan hujan, namun kebutuhan alat tersebut hingga kini belum terpenuhi.

“BMKG saat ini memiliki 44 radar cuaca di Indonesia. Yang dibutuhkan pada dasarnya 75 radar, tapi baru terpenuhi 44,” ujar Teuku Faisal.

READ  Banjir Belum Surut, Jalur Pantura Kaligawe Semarang Lumpuh Sepekan Lebih

“Di Aceh bagian tengah itu juga tidak ter-cover oleh radar cuaca sebenarnya,” lanjutnya.

Daerah Aceh Tengah merupakan wilayah yang paling terdampak banjir hingga longsor dalam beberapa hari terakhir. Tanpa cakupan radar, proses pemantauan perkembangan cuaca ekstrem menjadi kurang optimal.

Siklon Senyar Berputar Terlalu Lama di Selat Malaka

Faisal menjelaskan bahwa fenomena Siklon Senyar sebenarnya telah disampaikan kepada pemerintah daerah jauh sebelum bencana terjadi. Namun anomali siklon membuat dampaknya semakin besar.

“Siklon Senyar ini berputar terlalu lama di Selat Malaka sehingga menyebabkan bencana yang luar biasa,” jelasnya.

Data radar BMKG menunjukkan bahwa awan hujan di perbatasan Sumatera Utara–Aceh tampak sangat masif. Curah hujan ekstrem terjadi selama tiga hari berturut-turut, 25–27 November.

READ  Wamendagri Bima Arya: Dinas Kesehatan Punya Peran Vital Dukung Program Makan Bergizi Gratis, TBC, Stunting, dan Pengendalian Tembakau

“Curah hujan sampai hitam warnanya, itu sangat ekstrem. Bahkan tertinggi mencapai 411 mm per hari di Kabupaten Bireuen—lebih tinggi dari hujan bulanan di sana,” kata Faisal.

“Tumpah dalam satu hari, dan terjadi selama tiga hari. Tanah tidak mampu menahan volume air yang begitu besar.”

Dampak: Banjir Bandang dan Infrastruktur Rusak

Bencana hidrometeorologi tersebut memicu banjir bandang dan longsor di berbagai wilayah Aceh. Salah satu yang terdampak parah adalah Jembatan Beutong Ateuh Banggalang di Nagan Raya, yang putus diterjang banjir bandang hingga memutus akses jalan lintas tengah Aceh–Nagan Raya.

READ  Komisi III DPR Akui Jadi Sasaran Kritik dalam Polemik Ijazah Hakim MK Arsul Sani

Foto udara memperlihatkan kondisi jembatan yang rusak total dan aliran sungai yang meluap hingga melahap sebagian badan jalan.

Harapan BMKG: Penambahan Alat Jadi Prioritas

Faisal menekankan bahwa sistem peringatan dini akan lebih efektif jika kebutuhan radar cuaca terpenuhi. Ia berharap pemerintah dapat mempercepat pemenuhan infrastruktur pemantauan cuaca, terutama di wilayah rawan bencana.

“Ini pelajaran penting. Tanpa kelengkapan alat, kemampuan membaca potensi bahaya menjadi terbatas,” tegasnya.

Komisi V DPR RI menyatakan akan menindaklanjuti kebutuhan tersebut dalam rapat lanjutan terkait anggaran dan kebijakan mitigasi bencana nasional.

Artikel ini telah dibaca 10 kali

Baca Lainnya

Maktab Jamaah Haji Khusus PT Annur Maarif Disambangi Menteri Bahlil, Raffi Ahmad hingga Anang-Ashanty

30 Mei 2026 - 10:51 WITA

Bupati Luwu Timur Support Penuh Aura Malaeka di Ajang Putera Puteri Ekraf 2026

28 Mei 2026 - 21:10 WITA

Dr. H. Bunyamin M. Yapid Jadi Khatib di Tenda 111 Jemaah Haji Khusus PT Annur Maarif

26 Mei 2026 - 21:21 WITA

WASPADA! Dugaan Penipuan “Kandayya Sewa Apartemen Vida View” Makassar: Kamar Diduga Palsu, Korban Diperas Lalu Ditinggalkan

24 Mei 2026 - 11:13 WITA

Terungkap! Wanita Tewas di Mulia House Makassar Diduga Dibunuh karena Cinta Segitiga

21 Mei 2026 - 23:44 WITA

Pemerintah Targetkan Penyaluran KUR Rp295 Triliun pada 2026, Rp10 Triliun untuk UMKM Ekonomi Kreatif Berbasis HKI

16 Mei 2026 - 01:02 WITA

Trending di Nasional