Menu

Mode Gelap

News · 8 Agu 2025 19:49 WITA

Menteri Hukum Supratman Dorong Transparansi Pengumpulan Royalti Musik oleh LMKN


 Menteri Hukum Supratman Dorong Transparansi Pengumpulan Royalti Musik oleh LMKN Perbesar

SOALINDONESIA–DENPASAR Menteri Hukum dan HAM, Supratman Andi Agtas, mendorong transparansi dalam pengelolaan dan penyaluran royalti hak cipta musik oleh Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) dan lembaga terkait. Hal ini disampaikannya saat kunjungan kerja di Gedung Kemenkumham Bali, Jumat (8/8/2025).

Supratman secara terbuka menyatakan bahwa saat ini pihaknya kesulitan memantau mekanisme pengumpulan dan penyaluran royalti musik yang dilakukan oleh LMKN maupun Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) lainnya.

“Sekarang kita kesulitan, mohon maaf saya buka-bukaan aja, kalau LMKN memungut royalti, bagaimana cara mengetahui lagu siapa yang diputar, berapa kali diputar, dan apakah pemilik lagu benar-benar menerima royalti itu?” ujar Supratman.

READ  Pencarian WNA Spanyol Korban KM Putri Sakinah Diperpanjang hingga 9 Januari 2026

Ia menegaskan bahwa lembaga yang diberi kewenangan untuk memungut royalti wajib terbuka kepada publik. “Siapa yang ditarik, berapa besar jumlahnya, dan kepada siapa disalurkan harus jelas,” tambahnya.

Sebagai bentuk tindak lanjut, Supratman mengumumkan rencana audit menyeluruh terhadap sistem pengumpulan royalti oleh LMKN dan LMK, termasuk Selmi, guna memperbaiki dan membenahi sistem yang dinilai belum transparan.

“Insyaallah bulan depan seluruh dana koleksi yang sudah dilakukan oleh LMK atau LMKN akan kami audit untuk perbaikan sistem. Kita akan melakukan evaluasi menyeluruh supaya transparansi bisa kita bagikan kepada publik,” tegasnya.

READ  Mendikdasmen Abdul Mu’ti Imbau Sekolah Perketat Pengawasan Antar-Jemput Siswa, Cegah Kasus Penculikan Anak

Sebagai informasi, LMKN merupakan lembaga resmi pemerintah yang mengawasi sistem pengelolaan royalti musik secara nasional, sedangkan Selmi adalah salah satu LMK yang bertugas langsung mengumpulkan royalti dari pelaku usaha seperti restoran, kafe, hingga tempat hiburan.

Isu pengelolaan royalti musik semakin menjadi perhatian publik setelah kasus dugaan pelanggaran hak cipta oleh PT Mitra Bali Sukses (pemilik merek dagang Mie Gacoan) mencuat. Direktur perusahaan tersebut, I Gusti Ayu Sasih Ira, sempat ditetapkan sebagai tersangka, namun kasus berakhir damai setelah perusahaan membayar royalti sebesar Rp 2,2 miliar atas pemutaran musik di 65 outlet mereka di wilayah Jawa, Sumatera, Bali, dan Lombok.

READ  Komisi III DPR Gelar Uji Makalah 13 Calon Hakim Agung dan 3 Calon Hakim Ad Hoc HAM

Di sisi lain, sejumlah musisi Indonesia juga telah mengajukan gugatan uji materi terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta ke Mahkamah Konstitusi (MK), sebagai bagian dari perjuangan memperjelas dan memperkuat perlindungan hak cipta di Tanah Air.

Langkah transparansi dan audit oleh Kementerian Hukum dan HAM ini diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan publik serta memastikan para pencipta lagu dan musisi mendapatkan haknya secara adil.

Artikel ini telah dibaca 13 kali

Baca Lainnya

Willy Aditya Guyon Soal “Merger” NasDem–Gerindra di Rapat DPR

13 April 2026 - 14:47 WITA

Wacana Pengambilalihan PNM dan Whoosh oleh Kemenkeu Dikritik Ekonom

13 April 2026 - 14:37 WITA

Rupiah Melemah ke Rp17.135 per Dolar AS, Imbas Ketegangan Iran–AS Meningkat

13 April 2026 - 14:20 WITA

Jokowi Bantah Isu Caplok Partai NasDem: “Tidak Ada Sama Sekali”

13 April 2026 - 14:13 WITA

Ceramah JK di UGM Berujung Laporan Polisi, Ini Isi dan Penjelasannya

13 April 2026 - 14:08 WITA

Kaesang Pangarep: PSI Kebut Mesin Politik, Target Siap “Perang” di Pemilu 2029

12 April 2026 - 19:24 WITA

Trending di News