Menu

Mode Gelap

Nasional · 30 Nov 2025 16:24 WITA

Prabowo Targetkan Kemiskinan Turun di Bawah 6 Persen, Tantangan Struktural Dinilai Hambat Upaya Pengentasan


 Prabowo Targetkan Kemiskinan Turun di Bawah 6 Persen, Tantangan Struktural Dinilai Hambat Upaya Pengentasan Perbesar

SOALINDONESIA–JAKARTA Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kembali menegaskan komitmen pemerintah untuk menurunkan angka kemiskinan nasional di bawah 6 persen serta menghapus kemiskinan ekstrem hingga 0 persen dalam dua tahun pertama masa pemerintahannya. Namun data terkini menunjukkan upaya tersebut menghadapi tantangan berat di lapangan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2025 mencatat jumlah penduduk miskin mencapai 23,85 juta jiwa atau 8,47 persen. Angka kemiskinan di perdesaan masih lebih tinggi, yakni 11,03 persen, dibandingkan kawasan perkotaan sebesar 6,73 persen. Kondisi ini menjadi paradoks mengingat APBN 2025 telah mengalokasikan Rp 503,2 triliun untuk perlindungan sosial.

Tantangan Struktural dan Kultural Pengentasan Kemiskinan

Deputi Bidang Penyelenggaraan Pengembangan Kapasitas ASN LAN, Tri Widodo, dalam Seminar Policy Brief PKN Tingkat I Angkatan LXIV, menilai pemerintah menghadapi tantangan struktural dan kultural dalam upaya mengurangi kemiskinan. Mulai dari ketidakakuratan data, ego sektoral antar-lembaga, hingga birokrasi yang lebih fokus pada aspek administratif dibandingkan hasil konkret.

READ  Presiden Prabowo Sesalkan OTT Wamenaker Immanuel Ebenezer, Mensesneg: Korupsi Sudah Stadium 4

Padahal pemerintah sudah mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2025 tentang optimalisasi pengentasan kemiskinan dan penghapusan kemiskinan ekstrem. Namun implementasinya dinilai belum optimal karena sifat Inpres yang hanya memberikan arahan internal tanpa kekuatan regulasi yang memaksa.

“LAN mengapresiasi peserta PKN Tingkat I yang merekomendasikan peningkatan Inpres 8/2025 menjadi Perpres agar memiliki daya paksa dan kejelasan koordinasi yang lebih kuat,ˮ kata Tri Widodo.

Mensos: Kepemimpinan Transformasional Jadi Kunci

Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf, turut mengapresiasi rekomendasi tersebut. Ia menilai pelatihan kepemimpinan ini strategis untuk membangun gaya kepemimpinan transformasional di birokrasi.

Menurutnya, ada tiga transformasi penting untuk mempercepat pengentasan kemiskinan:

1. Transformasi dan pemutakhiran data lintas sektor.

2. Transformasi sasaran melalui digitalisasi dan pelibatan pemerintah pusat serta daerah.

READ  KPK Amankan Puluhan Mobil hingga Ducati dalam OTT Wamenaker Immanuel Ebenezer

3. Transformasi metode, dengan pendekatan terpadu dan berkelanjutan untuk mencegah transmisi kemiskinan antargenerasi.

“Pemimpin harus berbasis data, bukan persepsi. Kemiskinan adalah fenomena yang harus diukur, bukan ditebak,” tegasnya.

Ia menyebut birokrasi harus menjadi penggerak di lapangan: memastikan program terintegrasi, berjalan seragam, dan saling menguatkan.

Perpres Dinilai Penting Atur Tiga Sektor Strategis

Perwakilan Peserta PKN I Angkatan LXIV, Prof. Dr. H. Abu Rokhmad, M.Ag, menegaskan perlunya payung hukum yang lebih kuat berupa Peraturan Presiden (Perpres) untuk mengatur tiga sektor strategis yang berperan besar dalam penurunan kemiskinan berkelanjutan.

1. Sektor Ketenagakerjaan

Menurutnya, kemiskinan tidak hanya soal pendapatan, tetapi deprivasi kemampuan (capability deprivation). Mayoritas penduduk miskin bekerja di sektor informal yang rentan dan tidak memiliki perlindungan sosial memadai.

2. Sektor Kesehatan

Kesehatan menentukan produktivitas keluarga. Namun akses dan distribusi layanan kesehatan masih belum merata, tercermin dari tingginya AKI dan AKB, hingga keterlambatan logistik kesehatan di beberapa daerah.

READ  As’adiyah Fasilitasi Umrah Terjangkau bagi Guru dan Alumni,Dr.Bunyamin M Yapid:Berkat Kepemimpinan Andregurutta Prof. Nasaruddin Umar

3. Sektor Pendidikan

Data BPS 2025 menunjukkan pendidikan penduduk Indonesia masih didominasi lulusan pendidikan dasar, sehingga berdampak pada kualitas SDM, tingkat pengangguran, kerentanan sosial, dan rendahnya produktivitas.

Perpres Diharapkan Jadi Titik Balik

Dengan peningkatan Inpres menjadi Perpres, kebijakan pengentasan kemiskinan dinilai akan memiliki:

landasan hukum lebih kuat,

sinkronisasi program pusat dan daerah,

penganggaran yang lebih terpadu, dan

pengawasan nasional yang lebih efektif.

Para peserta PKN I berharap langkah ini dapat mempercepat penurunan angka kemiskinan secara akurat, terukur, dan berkelanjutan.

Menuju Indonesia Bebas Kemiskinan

Pendekatan holistik melalui integrasi ketenagakerjaan, kesehatan, dan pendidikan diyakini mampu memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan mendorong terwujudnya Indonesia yang lebih maju serta terbebas dari kemiskinan ekstrem.

Artikel ini telah dibaca 14 kali

Baca Lainnya

Di Tengah Perbedaan, Willem Wandik dan Elisabeth Flassy Hadir Membawa Kebahagiaan Idul Adha bagi Umat Muslim Tolikara

30 Mei 2026 - 15:23 WITA

Elisabeth Y. Flassy Wandik Menembus Pelosok Douw, Membawa Harapan bagi Generasi Emas Papua Pegunungan,”

30 Mei 2026 - 13:03 WITA

Dari Padangloang ke Baitullah, Hj Hasna Apae Menutup Perjalanan Hidupnya dengan Gelar Haji,TA Menag RI Sampaikan Belasungkawa

29 Mei 2026 - 20:41 WITA

Bupati Tolikara Salurkan Bantuan Hewan Qurban di Masjid Raya Tolikara dan Kota Jayapura

27 Mei 2026 - 12:11 WITA

WW Foundation Salurkan 2 Ekor Sapi Qurban di Hari Raya Idul Adha 1447 H

26 Mei 2026 - 21:44 WITA

Willem Wandik: Momentum Hari Kebangkitan Nasional Jadi Energi Baru Pembangunan Papua Pegunungan

20 Mei 2026 - 12:52 WITA

Trending di Nasional