Menu

Mode Gelap

News · 24 Okt 2025 15:31 WITA

KPK Panggil Sekjen DPR Indra Iskandar Terkait Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Perlengkapan Rumah Jabatan DPR RI 2020


 KPK Panggil Sekjen DPR Indra Iskandar Terkait Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Perlengkapan Rumah Jabatan DPR RI 2020 Perbesar

SOALINDONESIA–JAKARTA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi memanggil Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Indra Iskandar, untuk diperiksa terkait kasus dugaan tindak pidana korupsi (TPK) dalam pengadaan sarana dan kelengkapan rumah jabatan anggota DPR RI tahun anggaran 2020.

Pemanggilan tersebut dijadwalkan berlangsung di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, pada Jumat (24/10/2025).

“Benar, hari ini dijadwalkan pemanggilan saksi saudara IIS selaku Sekretaris Jenderal DPR RI. Yang bersangkutan akan dimintai keterangan terkait perkara dugaan TPK dalam pengadaan sarana kelengkapan rumah jabatan Anggota DPR RI tahun anggaran 2020,” ujar Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (24/10).

Sudah Berstatus Tersangka

Meski dipanggil sebagai saksi, Budi membenarkan bahwa Indra Iskandar telah berstatus sebagai tersangka dalam perkara tersebut. Pemeriksaan hari ini dilakukan untuk memperdalam peran Indra serta memastikan aliran dana dan proses pengadaan yang diduga menimbulkan kerugian keuangan negara.

READ  Resmi! 2 Anggota DPR Jadi Tersangka Korupsi CSR BI-OJK

Namun, hingga berita ini diturunkan, KPK belum memberikan konfirmasi apakah Indra memenuhi panggilan penyidik atau tidak, serta belum merinci materi pemeriksaan yang akan didalami.

Enam Tersangka Lain Juga Ditetapkan

Selain Indra Iskandar, KPK juga telah menetapkan enam orang tersangka lainnya dalam perkara yang sama. Kendati demikian, identitas mereka belum diungkap ke publik karena masih dalam tahap penyidikan dan pemeriksaan mendalam.

“Untuk enam tersangka lainnya masih dalam proses pemeriksaan lanjutan. KPK akan menyampaikan perkembangannya secara resmi setelah seluruh alat bukti dinilai cukup,” kata Budi.

Dugaan Mark Up dalam Pengadaan

Berdasarkan hasil penyelidikan awal, KPK menduga terjadi mark up harga dalam proses pengadaan sarana dan kelengkapan rumah jabatan anggota DPR RI tahun 2020. Proyek tersebut diduga melibatkan sejumlah pihak swasta dan pejabat internal Sekretariat Jenderal DPR RI.

READ  Ditekan Publik, Bupati Pati Batalkan Kenaikan PBB-P2 Hingga 250 Persen

KPK juga telah menggandeng Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk menghitung secara pasti nilai kerugian keuangan negara yang timbul akibat dugaan korupsi tersebut.

“Tim penyidik bersama auditor BPKP saat ini sedang melakukan proses penghitungan nilai kerugian negara sebagai dasar penegakan hukum lebih lanjut,” jelas Budi.

Belum Ada Penahanan

Meskipun telah menetapkan tujuh orang tersangka, KPK hingga kini belum melakukan penahanan. Lembaga antirasuah tersebut masih memprioritaskan pemeriksaan saksi-saksi dan pengumpulan alat bukti tambahan guna memperkuat konstruksi hukum kasus ini.

Para tersangka diduga melanggar Pasal 2 atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001, yang mengatur mengenai perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain yang dapat merugikan keuangan negara.

READ  Ratusan Ribu Buruh Siap Turun ke Jalan 22 November, Protes Kenaikan UMP 2026 yang Dinilai Terlalu Rendah

Latar Belakang Kasus

Kasus ini bermula dari temuan adanya dugaan penyimpangan dalam proses pengadaan perlengkapan rumah jabatan anggota DPR RI tahun 2020, yang mencakup furnitur, peralatan elektronik, hingga dekorasi interior. Nilai proyek tersebut mencapai puluhan miliar rupiah, dengan indikasi kuat adanya penggelembungan harga dan pengaturan pemenang tender.

KPK menilai kasus ini sebagai bentuk korupsi struktural karena melibatkan pejabat tinggi di lingkungan legislatif yang seharusnya menjadi teladan dalam pengelolaan anggaran negara.

Dengan pemanggilan Sekjen DPR Indra Iskandar ini, KPK menegaskan komitmennya untuk menuntaskan kasus korupsi pengadaan barang dan jasa di lembaga negara. Lembaga antikorupsi itu memastikan proses hukum berjalan secara transparan dan sesuai prinsip keadilan tanpa pandang bulu.

Artikel ini telah dibaca 8 kali

Baca Lainnya

Sinkhole di Limapuluh Kota Keluarkan Air Jernih Kebiruan, Ahli Ungkap Penyebabnya

10 Januari 2026 - 11:59 WITA

BREAKING NEWS: KPK OTT Pegawai Pajak Kantor Pajak Jakarta Utara

10 Januari 2026 - 11:31 WITA

Kematian Arya Daru Dihentikan Polisi, Keluarga Pertanyakan Transparansi Penyelidikan

10 Januari 2026 - 11:19 WITA

Kejati Sulsel Tangkap Jaksa Gadungan dan Oknum PPPK BPBPK dalam OTT

10 Januari 2026 - 11:10 WITA

Mantan Kajari Bekasi Eddy Sumarman Diperiksa KPK Terkait Kasus Suap Ijon Proyek Bupati Ade Kuswara

9 Januari 2026 - 23:41 WITA

KPK Dalami Aliran Uang dari Ade Kuswara Kunang ke Wakil Ketua DPRD Bekasi

9 Januari 2026 - 22:54 WITA

Trending di News